Beranda Ekonomi & Bisnis Palapa Ring Timur Paling Menantang, BAKTI Target Selesai 2019

Palapa Ring Timur Paling Menantang, BAKTI Target Selesai 2019

224
0
Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Danny Januar (kiri), Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari, Aljabar Makatika (tengah) dan Direktur PT Palapa Telematika Timur, Muharso (kanan) saat memberikan keterangan pers terkait proyek Palapa Ring Paket Timur. Foto : RBM/PKT

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM – Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Danny Januar mengatakan, BAKTI Kemkominfo optimistis mampu memenuhi target penyelesaian konstruksi fisik Palapa Ring Paket Timur.

Kata Danny Jaunuar, saat ini progres pembangunan fisik Palapa Ring Paket Timur sudah mencapai 87,03 persen dari target. Proyek Palapa Ring ini membentang sepanjang  12.000 km.

“Panjangnya dibagi dalam tiga paket untuk Palapa Ring Timur sendiri 6.8780 km. Berita baiknya untuk paket barat dan tengah sudah 100 persen (per 21 Desember), sudah beroperasi tinggal Palapa Ring Timur. Rencana kami di kuartal I 2019 bisa menyelesaikan semua ini,” kata Danny Januar.

Menurut Danny, Paket Timur ini paling menantang dibandingkan dua paket lain. Danny merinci, kendala yang dihadapi dalam penggelaran kabel serat optik palapa ring di darat, banyak bersinggungan dengan proyek pembangunan infrastruktur lainnya.

Ditambah adanya permasalahan keamanan di salah satu kabupaten lokasi pembangunan. Kemudian izin lingkungan area konservasi yang belum terbit dibeberapa daerah, seperti di Laut Sawu, Selat Pantar, Taman Nasional Lorentz, dan Teluk Cendrawasih.

Terakhir, keterbatasan ketersediaan penyediaan helikopter yang memiliki kemampuan external load untuk pengangkutan material tower dan microwave untuk pembangunan jaringan palapa ring di daerah pegunungan.

Diakui Danny, keluhan yang disampaikan dari wilaya Papua terkait jika terjadi fiber cut sering disampaikan. Ia menyatakan, dengan fiber optik ini keadaan jaringan sudah lengkap.

“Operator sudah punya niatan menjadikan palapa ring sebagai back up. Jadi palapa ring timur ini bisa dijadikan sebagai jalur alternatif atau jalur back up,” ujarnya.

Direktur PT Palapa Timur Telematika Muharso mengatakan, Palapa Ring Timur meliputi 35 Kabupaten ditambah dengan 16 kota penghubung atau totalnya 51 kota dengan panjang 6.876. Palapa Ring Timur dimulai dari Waingapu, Kabupaten Kupang.

Kata Murharso, pergelaran kaber fiber optik sudah didesain sehingga bisa meminimalisir gangguan teknis jika terjadi gempa bumi. Kabel yang digelar ditempatkan di daerah-daerah yang aman atau kurang dari risiko gempa bumi.

“Kami menugaskan konsultan, jalurnya lewat mana. Dengan ini semoga risiko dari gempa bumi itu lebih kecil. Itu dari sisi desain. Dari sisi implementasi, ada back up. Jika ada jalur yang mati bisa diback up dari jalur lainnya. Ada back up-nya,” katanya.

Diketahui, Palapa Ring Timur menghubungkan 35 kabupaten-kota dari Kota Baa di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur hingga ke Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.

Khusus untuk Papua Barat terdapat tujuh kabupaten/kota yang akan terhubung serat optik yakni dari Terminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat hingga Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak.

Adapun total panjang paket ini 6.878 km terdiri dari 4452 km jaringan laut, 2452 km jaringan darat, dan microwave sebanyak 59 hops. Paket ini paling panjang dan menantang, sekaligus membutuhkan dana paling besar.

Proyek Palapa Ring merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membangun ketersediaan layanan jaringan serat optik sebagai tulang punggung bagi sistem telekomunikasi nasional yang menghubungkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Proyek ini pernah terhenti sejak 10 tahun lalu untuk mendapatkan struktur yang tepat untuk pelaksanannya. Tantangan dari proyek ini adalah membangun infrastruktur jaringan tulang punggung serat optik nasional di daerah-daerah nonkomersial demi pemerataan akses pitalebar (broadband) di Indonesia.

Diakui Muharso, khususnya di Papua tantangan  yang dihadapi begitu luar biasa diantarnya keamanan dan gesekan dengan pemilik tanah adat, serta minimnya transportasi.

“Dengan segala tantangan yang ada saat ini pembangunan fisik Palapa Ring Timur sudah mencapai 87 pesen tinggal sekitar 13 persen. Penggelaran kabel darat di Manokwari dan Ransiki selesai pada 20 Desember 2018,” ungkapnya.

Pembangunan jaringan Palapa Ring Timur ini akan menjadikan wilayah-wilayah yang berada di dalam jaringan paket Timur mendapatkan pelayanan jaringan peta lebar dengan kecepatan 10 megabyte ke pedesaan dan 20 kbps di perkotaan dengan tarif yang terjangkau.

“Pita lebar atau serabut tulang punggung ini kita sediakan itu 8-10 gigabyte. Palapa Ring paket Timur ini akan membuat pemerataan akses internet, ekonomi, kesehatan, transaksi digital dengan biaya yang lebih terjangkau dan kemudahan yang lebih untuk mengakses informasi,” ungkap Muharso.

Dukungan masyarakat

Program Palapa Ring Timur sangat strategis guna mendukung aksesibilitas komunikasi yang memadai. Untuk itu, Masyarakat pemilik hak ulayat di kabupaten Manokwari diminta mendukung program Palapa Ring Timur.

Demikian Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwar Aljabar Makatita. Kata Makatita, pemerintah telah berperan dalam mendukung program tersebut.

Meski dekimian, peran itu membutuhkan dukungan dari masyarakat termasuk OPD terkait yang mempunyai jaringan kerja sama jaringan komunikasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkomimfo) bisa melakukan pendekatan dan mengarahkan masyarakat pemilik hak ulayat.

“Kabel ini (fiber optik) masuk ke jalan-jalan dan halaman rumah penduduk, kita berharap ada pemahaman yang baik karena itu untuk kelancaran komunikasi kita semua. Mungkin sekarang kita belum bisa merasakan tapi beberapa waktu ke depan kita bisa merasakan manfaat yang luar biasa,” tambah Aljabar.

Aljabar mengatakan, telekomunikasi dan informatika ini harus diletakkan dalam konteks pemerataan dalam pengertian kewilayahan sehingga bangsa ini dapat bangkit bersama-sama dalam kerangka kebangsaan Indonesia yang melek teknologi.

“Potensi daerah dengan kearifan lokal yang ada yang menjadi nilai tambah bagi pengembangan daerah. Dengan didukung jaringan telekomunikasi dan informasi yang layak kiranya dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan di Kabupaten Manokwari,” ujarnya.

Aljabar mengungkapkan, kekurangan sarana telekomunikasi dan telekomunikasi di kabupaten Manokwari hingga saat ini masih dirasakan. Masih ada beberapa daerah masuk dalam kawasan blank spot.

“Di Manokwari masih 4 titik kawasan yang tersebar di 4 distrik yang belum merdeka sinyal, yakni distrik Tanah Rubuh, Manokwari Utara, Masni dan distrik Sidey. Kami berharap sebelum tahun 2020 semua titik-titik blank spot telekomunikasi ini dapat dijangkau,” ucap Aljabar berharap.

Danny Januar menambahkan, komunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi belum merata di seluruh daerah di Indonesia. Hal itu dikarenakan kapasitas yang tersedia masih sangat terbatas.

“Dengan adanya Palapa Ring Timur harapan kami akan menambah kapasitas sehingga operator-operator lain tidak akan berpikir ulang. Operator saat ini lagi cari-cari pasar. Papua Barat ini sangat potensial,” ujar dia.

Program Pala Ring Saat ini sudah menjangkau hampir 4.000 lokasi di seluruh Indonesia terutama mendukung sektor pendidikan di sekolah-sekolah, sektor kesehatan mendukung Puskesmas juga sektor pariwisata.

“Saat ini kami juga tidak fokus melulu hanya pembangunan infrastruktur tapi juga kami mengembangkan namanya pengembangan ekosistem. Akses telekomunikasi akan mendorong sektor pariwisata, yang kami lakukan bagaimana melakukan upaya agar yang sudah dibangun ini memberikan manfaat yang lebih bagi masyarakat,” tutup Danny Januar. (RBM)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here