Ganemo Manokwari Tetap Optimis di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Abdul R. F

Pembentukkan kelompok pengrajin noken “Ganemo” sedikit-banyak telah memberikan nilai tambah bagi ibu-ibu di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Salah satu dampak positif, adalah bisa memanfaatkan waktu senggang untuk menghasilkan karya bernilai ekonomis, berdiskusi tentang kemajuan kelompok. Juga bisa saling mengisi satu sama lain antarsesama anggota adalah hal yang paling berkesan.

“Sangat berkesan dengan adanya kelompok pengrajin noken Ganemo ini. Tidak sekadar mendekatkan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal. Akan tetapi menjadi manfaat bagi yang lain, karena bisa membagikan pengalaman dan pengetahuan merajut noken. Saling mengisi satu sama lain antar anggota itu sangat berkesan. Apa lagi di tengah pandemi Covid-29,” kata Yulita Yeimo ketua kelompok Ganemo.

Di awal pembentukkan kelompok dan kegiatan pelatihan berjalan, anggota kelompok Ganemo mampu menghasilkan 100 an lebih noken, semua noken itu terjual habis. Sekarang ini, mereka memulai dengan merajut noken yang baru lagi, tetapi masih menggunakan bahan yang sama yakni, serat benang Ganemo maupun berbahan benang Polyester dan Policheri.

“Kami akui masih baru berlatih sehingga hasilnya tentu belum sebagus yang sudah dijual di pasar maupun di galeri-galeri. Puji Tuhan noken-noken yang kami buat habis terjual. Keutungan hasil penjualan noken ini sangat, sangat membantu sekali kekurangan keluarga. Terutama di tengah pandemi Covid-19, ini yang kami rasakan,” tuturnya.

Noken hasil rajutan kelompok Ganemo, ini biasanya dijual mulai dari harga Rp20 ribu untuk ukuran smartphone, ukuran yang lebih besar sedikit dihargai Rp50-100 ribu. Sedangkan untuk ukuran tablet hingga ukuran buku dibanderol dengan harga Rp500 ribu. Harga noken tergangung ukuran, motif dan bahan. Biasanya, noken dari benang Ganemo harganya lebih mahal.

“Noken dari benang Ganemo paling tinggi itu harga Rp300 ribu, karena ukurannya tidak terlalu besar. Kami tak memiliki papan reklame atau galeri permanen. Tetapi pesanan yang masuk sangat banyak, bahkan kami kewalahan melayani. Biasanya pesan itu dengan warna tertentu dan minta dipakaikan nama,” ujar Yulita Yeimo.

Lihat juga  Mbak Tutut: Libatkan Tuhan dalam Perjalanan Hidupmu

Kondisi di tengah pandemi Covid-19 memukul kegiatan merajut noken kelompok Ganemo. Alhasil, jumlah noken yang dihasilkan berkurang, situasi itu berbanding lurus dengan pendapatan para anggota. Akan tetapi, sebagai seorang ketua, Yulita tetap memotivasi anggotanya untuk tetap berproduksi.

“Kondisi di tengah pandemi ini mempengaruhi penjualan kami. Kami tidak patah semangat, kami tetap merajut noken. Kami memang punya noken ini belum dilabeli seperti kebanyak noken yang ada. Kalau sudah ada label, tentu orang akan lebih muda tahu dan penjualannya pun bisa meningkat. Rezeki itu ada saja asalkan kita mau berusaha,” ujar Yulita Yeimo sembari berharap produknya bisa memiliki branding.

Proses merajut noken tergolong rumit bagi (anggota) pemula. Biasanya, satu noken dari benang sintetis bisa dikerjakan lebih dari 2 hari. Berbeda dengan yang sudah piawai, butuh waktu 1 hari saja sudah bisa ramping. Sementara, noken dari benang Ganemo bisa dikerjakan hingga 1 pekan. Apa lagi jika benangnya masih harus dipintal, bisa lebih dari sepekan.

Yulita Yeimo mengisahkan, pembentukkan kelompok Ganemo ini diinisiasi oleh PT Pertamina Persero Fuel Terminal Manokwari. Kelompok Ganemo mendapat pendampingan PT Pertamina Perseora MOR VIII melalui program CSR.

Kelompok Ganemo beranggotakan 18 orang. Anggota termuda berusia 18 tahun dan masih duduk di bangku sekolah—sedangkan anggota paling tua—berusia 82 tahun, Namanya, Mama Maria Pigome. Umumnya, anggota kelompok Ganemo adalah ibu rumah tangga, kecuali Yulita Yeimo seorang honorer di salah satu instansi pemerintah.

“Awalnya ada 2 orang yang  bisa merajut noken dari benang Ganemo. Tapi, mama satunya sudah meninggal. Saya mulai menekuni cara pembuatan noken dari bahan Ganemo. Kalau noken dari benang kain (sintetis), anggota kami rata-rata sudah mahir,” tutur Yulita Yeimo.

Dengan adanya kelompok ibu-ibu pengrajin noken, serta pembinaan dari PT Pertamina Persero, kegiatan merajut noken kian terorganisir dengan baik. Kendala yang muncul dalam membaca peluang dan tantangan kian pula bisa disikapi secara bersama. Kelompok Ganemo ini sudah ada sejak 2018. Dan masih bertahan hingga kini.

Lihat juga  Konsumsi Pertalite Meningkat di Papua Barat

“Dalam perjalanannya memang ada kendala dan masalah. Tantangan yang ada tidak membuat kami patah semangat untuk tetap merajut noken yang merupakan salah satu warisan nenek moyang, leluhur kami yang tidak boleh kami tinggalkan. Kami tetap semangat merajut hingga anak cucu kami, tidak boleh berhenti sampai di kami saja,” ucap Yulita Yeimo.

Yulita Yeimo mengatakan, noken hasil rajutan setiap anggota dijual secara bersama. Kendati demikian, uang hasil penjualan diserahkan kepada masing-masing anggota apa bila ada noken hasil rajutannya laku terjual. Setiap anggota juga diwajibkan menyisihkan sedikit hasil penjualan nokennya. Dana yang terhimpun dipakai untuk operasional kelompok.

Yulita Yeimo berharap, melalui program pendampingan PT Pertamina, serta pendampingan dari Kitongbisa enterprise, bisa mewujudkan harapan mereka. Yakni, Noken Ganemo Manokwari memiliki branding sehingga terbuka akses ke pasar yang lebih luas di seluruh tanah air.

“Kita berharap pendampingan yang ada saat ini bisa membuat noken kelompok Ganemo ini lebih dikenal. Orang lebih mudah untuk bisa memiliki noken kami. Orang jadi bisa tahu Ganemo itu ternyata ada di Manokwari. Itu harapkan kami, dan kami berterima kasih atas apa yang sudah diberikan. Semoga Tuhan membalas kebaikannya,” tutur dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *