oleh

Ketika Covid-19 Nyaris Menjangkiti Ku…

Oleh : Abdul R. F

Perasaan lemas dan gugup, bahkan seakan tidak berdaya, berkecamuk dalam pikiran. Batin saya gundah saat mendapatkan informasi bahwa salah seorang sahabat positif terpapar Corona Virus Disease (Covid-19).

Wajar, saya khawatirkan kondisi sahabat saya itu. Juga bertanya-tanya dalam hati, terlebih sebelum mendapatkan informasi tersebut, kami sempat beraktivitas dan makan bersama.

Jiwa dan pikiran saya melayang jauh. Bagaimana dengan anak dan istri saya? Bagaimana nanti dengan pekerjaan saya? Apakah saya bisa melalui masa-masa itu?

Dibalik kekhawatiran itu, saya mencoba untuk menguasai pikiran dan batin dengan berserah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala…,Tuhan Yang  Maha Kuasa. Toh, siapa juga yang ingin sakit. Hampir pasti semua orang akan memberikan jawabannya adalah “tidak”.

Menurut akal manusia sakit adalah kondisi dimana ketidakberdayaan dan akan membatasi segala aktivitas. Memang logis. Ya, seperti itulah pikiran kebanyak kita. Padahal sakit itu bisa saja sebagai ‘waktu’ untuk mengingatkan bahwa tubuh juga butuh istirahat.

Bukankah ketika kita sakit adalah atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala, daun kering yang gugur dari rantingnya pun seizin NYA. Sesungguhnya ini harus diimani oleh kita, bahwa segala sesuatu yang terjadi dan berlaku atas setiap individu termasuk di semesta ini adalah atas izin Allah Azza wajala. Aamiin…, saya yakin itu.

Keyakinan itu menumbuhkan keberanian dan optimisme saya—apapun kondisinya harus saya hadapi. Saya tetap berikhtiar dengan menerapkan protokol kesehatan dengan mulai membatasi interaksi dengan anak dan istri, serta aktivitas. Masker tidak pernah lepas. Tidak lupa juga menjaga kebersihan diri, minimal mencuci tangan dan selalu menyiapkan anti septik.

Saya juga mengonsumsi buah, serta suplemen herbal agar imun tubuh tetap terjaga. Buah yang banyak mengandung vitamin C cukup banyak tersedia. Demikian juga suplemen atau multi vitamin yang bsia membantu meningkatkan imun tubuh. Keluarga saya pun demikian.

Sebuah konsekuensi logis, dimana tiba saatnya saya harus siap ketika dikontak salah seorang sahabat. “Kamu harus lakukan pemeriksaan, (swab). Itu untuk memastikan kondisi kesehatan dan status mu. Lalui saja, ini tidak apa-apa,” katanya sembari memotivasi. “Ok,“sahut saya.

Kekhawatiran saya kembali memuncak saat saya dikonfirmasi oleh salah seorang tenaga kesehatan (nakes), bahwa harus segera ke fasilitas kesehatan untuk swab. Tepat pada Senin (16/11/2020), saya swab. Saya berdoa dan meminta agar diteguhkan hati dan pikiran untuk bisa melalui proses tersebut.

Lihat juga  Simple form creation and storage, built for developers.

Tiba di fasilitas kesehatan, saya diminta menunggu sekira 10 menit. Kemudian, datang seorang petugas dengan setelan lengkap baju astronot (baju hazmat). Itu adalah alat pelindung diri yang wajib dipakai oleh mereka yang berada di garis depan menangani Covid-19.

“Silahkan duduk pak,” katanya kepada saya. Sejurus kemudian, stik plastik lunak berukuran kurang lebih 10 cm dimasukkan ke lubang hidung sekira 3-5 detik lamanya, kemudian ditarik kembali. Belum selesai, satu stik dengan balutan kapas kembali dimasukkan ke tenggorokan.

“Sudah pak. Sudah selesai. Bapak boleh pulang,” katanya kepada saya. Proses swab ternyata tidak butuh waktu lama, sekira hanya 5 menit sudah selesai. Saya sempat mengeluarkan air mata dan merasa hendak muntah, tapi tidak sampai muntah. Saya sampaikan kasih.

Sebelum meninggalkan fasilitas kesehatan, petugas yang sempat menghubungi saya, kembali memastikan bahwa proses swab sudah selesai. “Bapak akan kami kabarkan hasilnya dalam beberapa hari ke depan,” singkatnya.

Sekira pada Rabu (18/11/2020), saya mendapat pemberitahuan dari petugas kesehatan itu. Melalui perantara sarana komunikasi, dia mengabari bahwa hasil swab saya negatif. Sontak, saya mengucap syukur dan berlari memeluk istri dan anak-anak saya. Saya langsung menanggalkan masker.

“Alhamdulillah…,Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan saya tetap dalam kondisi sehat dan terhindar dari Covid-19,” ucap ku kepada istri.

Lebih dari sepekan, saya mendapatkan kabar kalau sahabat saya itu sudah sembuh dan boleh pulang kembali ke rumah setelah menjalani masa karantina dan perawatan di fasilitas karantina (terpusat). Alhamdulillah…

Meski demikian, sejatinya saya dan keluarga bahkan masyarakat yang ada di Kabupaten Manokwari dan di mana saja di belahan dunia ini, termasuk yang telah memeriksakan diri melalui swab belum bisa merasa ‘aman’. Apa lagi merasa bebas dari paparan Covid-19. Sebab, virus ini masih bergentayangan. Kapan dan dimana saja bisa kita terpapar.

Coretan tangan ini bukan sekadar berbagi cerita, lebih dari itu saya ingin mengajak kita untuk tetap bertawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala…Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lihat juga  Wakil DPRD Manokwari: Masyarakat Tidak Taat terhadap Protokol Kesehatan

Teruslah berikhtiar dengan disiplin melaksanakan protokol kesehatan Covid-19, terutama kebiasaan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), serta menjaga imun tubuh dengan pola makan yang seimbang dan pola hidup sehat.

Harus digaris bawahi, bahwa Covid-19 bukan aib. Berserah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala…Tuhan Yang Maha Kuasa akan membuat kita tenang dan mampu menguasai diri dalam menghadapi cobaan hidup. Percayalah, bahwa Covid-19 itu nyata ada. Bukan hoaks.

Kita tidak perlu panik secara berlebihan, karena sikap itu justru membuat kita akan semakin terpuruk dan tak dapat bertindak rasional. Kuncinya adalah, berdoa dan disiplinkan diri melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa menghindarkan kita dari paparan Covid-19.

Beruntunglah kita yang masih diberikan nikmat sehat. Sebab suatu saat nikmat sehat ini akan dicabut oleh Sang Khalik. Jangan sesekali berpikir bahwa Covid-19 itu hanya sebatas isapan jempol. Ingat, Covid-19 itu nyata. Mampu menjangkiti semua lapisan dan golongan masyarakat.

Prihatin saja, ketika melihat masyarakat di Manokwari ini mulai mengambaikan anjuran kesehatan, melakukan aktivitas tanpa memerhatikan lagi protokol kesehatan.

Sudah banyak kisah, cerita, dan pengalaman yang bisa menjadi bekal kita dan bahan edukasi dalam menghindarkan diri dari paparan covid di tengah masa pandemi ini.

Seharusnya, informasi dan pengalaman-pengalaman para penyintas Covid-19 itu menjadi cerminan agar kita selalu mawas diri dan tidak lengah. Apa lagi menganggap remeh Covid-19. Semoga…!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed