Beranda Kaimana Kisah Ady Nugraha, Sang Perawat Pustu Kayumerah, Teluk Etna

Kisah Ady Nugraha, Sang Perawat Pustu Kayumerah, Teluk Etna

129
0
Ady Nugraha, Petugas medis Pustu Kayumerah saat memasang infus untuk Idorena Powoi, perempuan yang terpaksa melahirkan di tengah hutan, Mimika. Foto : Dok. Pribadi Ady Nugraha

Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep), yang disandang telah mengantarkan kaki seorang Ady Nugraha melangkah hingga ke Kawasan paling timur Indonesia, Pulau Papua. Atau lebih tepatnya di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Pria asal Sulawesi Selatan ini tak pernah menyangka bekal pengetahuan yang dimiliki justru menjadi jalan pengabdiannya sebagai garda kesehatan yang ditugaskan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kayumerah, Distrik Teluk Etna.

Sebagian besar masyarakat Indonesia, tentu mengetahui Kaimana dengan predikatnya ‘Kota Senja’, bahkan gelar itu diabadikan dalam sebuah tembang nostalgia.

Berbicara soal kondisi dan alam di Teluk Etna, tentu tak seindah ‘kota senja’. Seperti yang dirasakan Ady demikian ia disapa. Kisah Ady baru dimulai. Mendadak, ia harus mengatasi kondisi kritis seorang warga Kampung Etahima, Distrik Yamor—masih dalam wilayah administrasi kabupaten Kaimana.

Adalah Idorena Powoi (45), perempuan tersebut terpaksa harus melahirkan di tengah hutan Aindua, Mimika, Papua, Senin (8/3/2021). Idorena melahirkan bayinya di tengah belantara Aindua—karena mengikuti sang suami sebagai pencari kayu masohi (gaharu,red).

“Sudah melewati masa kritis. Masa kritisnya itu jam 5 sore (17.00 WIT). Beliau sempat menunjukkan kondisi tidak ada harapan tertolong. Saya tidak menyerah, berbagai upaya saya lakukan untuk menyelamatkan ibu ini. Allhamdullilah ibu keluar dari fase kritisnya,” ucap Ady ketika berbagi kisahnya melalui sambungan seluler, Kamis (18/3/2021)

Dalam kondisi genting, suami Idorena berusaha mencari pertolongan medis untuk sang istri. Sayang, nyawa sang bayi tidak tertolong. Sepasang suami-istri ini menuju ke Puskesmas Patawai, Mimika, Papua dengan harapan bisa mengeluarkan ari-ari sang bayi.

Akibat tak ada tenaga kesehatan, ari-ari (retencio plasenta) belum bisa dikeluarkan—nyawanya pun kritis—selama 3 hari plasenta tetap bersarang di dalam rahimnya. Pihak puskesmas tidak berani mengambil tindakan medis, Sehingga disarankan untuk pasien dibawah ke RSUD Kaimana, guna mendapat pertolongan.

Lihat juga  KPU Kaimana Jadwalkan Pleno Penetapan Paslon Terpilih 22 Februari

Jarak antara Patawai ke Kaimana cukup jauh, mesti ditempuh dalam perjalanan selama belasan jam. Kondisi ini juga mempengaruhi kondisi Idorena kian kritis, karena terus mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan.

Setelah menempuh perjalan laut yang cukup panjang, bersama sang suami, Idorena akhirnya tiba di areal PT Ameranus. Meski demikian, sepasang suami-istri kembali diarahkan agar menuju ke Pustu Kayumerah, tempat Ady bertugas.

“Ketika sampai, saya langsung mengambil tindakan dengan membersihkan darah kotor yang sudah 3 hari tertinggal di rahim ibu tersebut. Tujuannya supaya tidak terjadi keracunan, akibat darah yang tertahan. Sambil saya infus dan berikan obat,” tutur Ady.

Ady mengisahkan, 2 botol infus terpasang, Idorena mulai menunjukkan perubahan kondisi membaik. Tetapi kondisi itu tidak bertahan lama. Ady kembali dicoba.

“Pasien meminta makan pada pukul 15.00 WIT atau jam 3 sore. Namun kondisinya kembali kritis pada pukul 17.00 WIT atau jam 5 sore, ditandai dengan menggigil seperti demam tinggi dan sempat tidak sadarkan diri,” terang Ady.

Dengan segala kemampuan, serta tak lupa memohon kepada Sang Pencipta, Ady terus berupaya merawat Idorena. Setelah menjalani perawatan selama 2 hari di Pustu Kayumerah, kondisi Idorena kian membaik.

“Saya memutuskan untuk merujuk pasien partus ini ke RSUD Kaimana guna pengobatan lanjutan. Saya dapat informasi pasien sudah lebih baik kondisinya. Kini sementara menjalani perawatan di RSUD Kaimana,” tutup Ady. (Jack)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.