Beranda Hukum & Kriminal Peredaran Narkotika dari dalam Lapas Tinggi di Papua Barat

Peredaran Narkotika dari dalam Lapas Tinggi di Papua Barat

373
0
Lapas Sorong dan Lapas Manokwari
Ilustrasi narkotika dari dalam lapas. Foto : Istimewa

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM – Orientasi pengungkapan kasus narkotika Badan Narkotika Nasional Provinsi Papua Barat (BNNP PB) ditujukan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

“Hasil penyelidikan kami, untuk peredaran narkotika terutama jenis sabu di lapas itu memang sangat tinggi. Ada berapa yang kami lakukan penyelidikan itu semua barangnya berasal dari dalam lapas,” kata Koordinator Penyidik Pratama Bidang Pemberantasan BNNP PB, AIPTU Zulkarnaen baru-baru ini.

Koordinator Penyidik Pratama Bidang Pemberantasan BNNP PB, AIPTU Zulkarnaen didampingi Koordinator Bidang Pemberantasan, AIPTU Sugeng Wintarso. Foto : RBM/PKT

Meski hasil penyelidikan menunjukan peredaran sabu dikendalikan dari dalam Lapas. BNNP PB belum bisa menyimpulkan peredaran gelap narkotika yang dikendalikan oleh narapidana, ini melibatkan jajaran Lapas.

“Kami belum bisa menyimpulkan apakah melibatkan pegawai lapas atau sipir. Kami belum mempunyai bukti, tapi yang jelas barang memang keluar dari dalam lapas,” ujar Zulkarnaen didampingi Koordinator Bidang Pemberatasan, AIPTU Sugeng Wintarso.

Memperkuat dugaan keterlibatan narapidana dalam peredaran gelap narkotika. Zulkarnane mengaku sempat melakukan pembelian secara terselubung. Komunikasi ini langsung dengan narapidana yang mengendalikan peredaran sabu dari dalam sabu.

“Komunikasinya langsung dengan narapidana. Narapidananya mengarahkan kita keluar nanti diberitahu bahwa barangnya telah dibuang di suatu tempat. Tapi kita harus menyetorkan dulu uang ke rekening yang  sudah dikirimkan melalui SMS,” ungkap dia.

Tingginya keterlibatan narapidana dalam peredaran narkotika di wilayah Papua Barat menuntut konsentrasi BNNP PB. Modus operandinya sudah tidak dilakukan melalui transaksi tunai tetapi sudah non tunai.

“Kita masih lakukan pendalaman. Mudah-mudahan di 2019 ini kami akan eksis untuk mengungkap,” ujar dia.

Sabu menyasar kalangan menengah ke bawah

Maraknya peredaran narkotika di tengah masyarakat kian memprihatinkan. Kini, narkotika jenis sabu sudah mulai menyasar kalangan kelas menengah ke bawah. Misalnya, harga jual sabu per paket paling murah adalah Rp500 ribu. Saat ini satu paket sabu sudah bisa diperoleh cukup dengan Rp300 ribu saja.

“Harga jual sabu per paket itu di Sorong bervariasi. Tidak sama di Manokwari. Di Manokwari paling murah Rp500 ribu. Sedangkan di Sorong itu ada yang harga Rp300, Rp500, Rp600, dan ada yang Rp1 juta,” beber Zulkarnaen.

Diketahui, narkotika jenis sabu ini masuk  ke wilayah Papua Barat berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Di tahun 2018 BNNP PB berhasil mengungkapkan 8 kasus dari 7 kasus yang ditargetkan oleh BNN RI. Suatu capaian kinerja yang patut diapresiasi tentu.

Delapan kasus itu terdiri atas 7 kasus sabu-sabu dan satu kasus ganja. Adapun jumlah barang bukti yang berhasil diamankan, untuk jenis sabu sebanyak 31 paket dengan berat 19,09 gram. Dan ganja sebanyak 2 paket dengan berat mencapai 1,06 gram.

“Enam (6) berkas sudah masuk tahap II dan telah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Papua. Dua kasus lainnya masih dalam proses penyidikan sudah memasuki tahap satu,” kata Zulkarnaen.

Jumlah tersangka dari kasus narkotika ini berjumlah 8 orang. Dengan latar belakang yang berbeda, diantaranya ada yang berprofesi sebagai tukang ojek dan pengangguran.

“Tiga (3) tersangka diantaranya pengedar dan kurir. Satu memang sudah masuk TO (target operasi) dengan barang bukti 25 paket yang ditangkap di Lapas Sorong,” ujar Zulkarnaen.

Pencegahan digalakan

Selain meningkatkan kegiatan penindakan. BNNP PB terus juga menggalakan program pencegahan. Salah satu yang dilakukan adalah dengan melalukan penandatanganan MoU (memorandum of understanding) atau nota kesepahaman.

Hingga akhir 2018, BNNP PB telah menandatangani MoU bersama dengan 7 instansi yakni, Universitas Papua, SMPIT, SMAN 01, Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Lapas Kelas IIB Manokwari, Poltekes Kemenkes Manokwari, dan Gerakan Pramuka Kwarda Provinsi Papua Barat.

Pada Bidang P2M telah melakukan pencanangan Kelurahan Manokwari Timur sebagai Kampung Bersinar (bersih narkoba). Upaya ini diharapkan menjadi pilot projek di Papua Barat khususnya di Kabupaten Manokwari.

Pada Bidang Rehabilitasi telah membentuk tim asesmen terpadu terdiri atas Kejaksaan Negeri, Sat. Resnarkoba, Medis BNNP PB, dan Penyidik Bidang Pemberantasan.

“Tugas dari tim asesmen terpadu tidak mengintervensi tetapi hanya memberikan rekomendasi secara medis dan pandangan hukum bagi tersangka kasus narkoba. Target program TAT (tim asesmen terpadu) 2018 adalah 22 orang dan sudah diikuti sebanyak 33 orang,” kata Sugeng Wintarso.

BNNP PB melalui Bidang Rehabilitasi juga melaksanakan program skrining lapangan, yakni petugas mendatangi tempat-tempat yang diduga terdekteksi pencandu narkoba dan melakukan pengambilan data, untuk dikonseling di klinik pratama BNNP PB

“Targetnya 7 orang. Sudah diikuti 14 orang. Target rawat jalan di klinik BNNP PB 18 orang tetapi yang mengikuti sebanyak 20 orang. Sementara, seksi pascarehabilitas ditarget 22 orang sudah diikuti 20 orang dengan status pulih produktif,” tutup Sugeng Wintarso. (RBM)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here