Beranda Kesehatan 24 Ribu Anak Target Sub PIN Polio dan POPM Filariasis dan Kecacingan...

24 Ribu Anak Target Sub PIN Polio dan POPM Filariasis dan Kecacingan di Manokwari

119
0
Sub PIN Polio dan POPM
Peserta Sosialisasi dan Advokasi Sub PIN Polio dan POPM Filariasis dan Kecacingan tahun 2019 di Kabupaten Manokwari. Foto : RBM

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM—Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari menargetkan 95 persen atau sebanyak 24 ribu anak usia 0-15 tahun, tercover imunisasi dalam kegiatan Sub PIN Polio dan Pemberian Obat dan Pencegahan Massal (POPM) Filariasis dan Kecacingan tahun 2019.

Adapun kegiatan ini diawali dengan sosialisasi dan advokasi sub PIN polio dan POPM filariasis dan kecacingan, digelar Kamis (28/3/2019) di salah satu hotel di Manokwari.

Kepala Dinas Kesehatan, dr. Alfred Bandaso mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan dalam dua periode. Periode pertama dimulai 1-7 April mendatang. Dan periode kedua akan berlangsung 1-7 Mei 2019 ke depan.

“Untuk mengejar target dan minimnya tenaga yang ada, sudah ada yang melakukan kegiatan ini. Periode pertama itu targetnya 95 persen. Dan nanti diulangi di periode kedua dengan target 95 persen juga. kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan pemberian obat filariasis dan kecacingan,” kata Alferd Bandaso.

dr. Alfred Bandaso
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, dr. Alfred Bandaso. Foto : RBM

Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus, ancamannya yang dapat dilihat secara kasat mata adalah berupa kelumpuhan. Bahkan, bisa juga menyebabkan kematian apabila virunya sudah menyerang sampai ke otak.

Sedangkan kecacingan, merupakan salah satu penyebab gizi buruk, anime (kekurangan sel darah merah), dan kemampuan berpikir berkurang, serta konsentrasi berkurang. Kecacingan ini biasa terjadi pada anak-anak.

“Polio itu yang kita takutkan. Ini virus jadi tidak ada obatnya. Salah satu yang dilakukan adalah melakukan imunisasi dengan vaksin polio. Kecacingan masih banyak, terutama pada usia SD. Perlu diberikan pemahaman. Ketidaktahuan dan prilaku, misalnya makan yang tidak cuci tangan bersih sebagai salah satu penyebabnya,” ujarnya.

Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Setda kabupaten Manokwari, Harjanto Ombesapu menjelaskan, tujuan kegiatan sub PIN polio dan POPM filariasis dan kecacingan, bertujuan untuk pencegahan.

“Diharapkan anak-anak usia 0-15 tahun bisa terlindungi. Kewajiban semua melindungi anak dari penyakit polio, kecacingan, dan filariasis. Masalah yang masih menjadi pekerjaan rumah kita, adalah 30 persen anak usia sekolah mengalami kasus kecacingan,” sebut bupati dalam sambutannya.

Untuk itu, bupati mengingatkan,  pencegahan dan pengobatan sangat penting dilakukan, mengampanyekan hidup bersih dan sehat harus digalakan untuk cegah kecacingan. Menurut bupati, dua hal tersebut adalah dasar kegiatan sosialisasi dan advokasi ini.

“Lintas sektor punya peran penting dalam cegah penularan penyakit polio, kecacingan, dan filariasis. Paling penting adalah memberikan perlindungan untuk anak hidup sehat, laporkan jika temukan anak di bawah usia 0-15 tahun yang alami kelumpuhan yang mendadak agar bisa ditindaklanjuti,” pesan bupati.

Ketua Panitia, Marthen Rante Tampang melaporkan, pelaksanakan kegiatan sosialsiasi dan advokasi, ini dilatarbelakangi Kejadian Luar Biasa (KLB) polio yang terjadi sepanjang April-Oktober di 2018, di Papua Nugini mencapai 26 kasus.

Selain itu, pada November 2018, juga ditemukan satu kasus polio di kabupaten Yahukimo, dan hingga Maret 2019, telah meningkat menjadi empat kasus.

“Ini berarti bahwa penyakit bertambah dan ada potensi penularan lintas negara atau daerah perbatasan. Berdasarkan kejadian tersebut dan sesuai rakernas kementerian kesehatan, bahwa diputuskan dilakukan sub pin polio di Papua dan Papua Barat,” katanya.

Sementara, kasus kecacingan, lanjut Marthen Rante Tampang, ditemukan 30 anak dari 100 anak menderita kecacingan. ”Komitmen bersama antarlintas sektor dan elemen masyarakat menjadi penting dalam pencegahan penyakit polio, kecacingan, dan filariasis,” kata dia.

Marthen Rante Tampang menambahkan, kegiatan sosialisasi dan advokasi tersebut diikuti sebanyak 112 udangan terdiri atas perwakilan distrik, sekolah (SD dan SMP) di Manokwari, 16 perwakilan dari kabupaten Pegunungan Arfak. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here