Beranda Kesehatan Dipertanyakan Realisasi Faskar Terpusat di Dataran Warpramasi

Dipertanyakan Realisasi Faskar Terpusat di Dataran Warpramasi

130
0
Rusuna milik Pemkab Manokwari di Kompleks Reremi Puncak dijadikan sebagai Faskar terpusat pasien Covid-19. Daya tampung faskar tak lagi memungkinan menerima pasien baru. Foto diambil pada 16 September 2020.

MANOKWARI, PAPUAKITA.com—Realisasi pembangunan Fasilitas Karantina (Faskar) terpusat di daerah dataran Warmare, Prafi, Masni, dan Sidey (Warpramasi) kembali disoroti. Sebab, rencana pembangunan fasilitas kesehatan khusus untuk pasien Covid-19 ini, hingga kini belum jelas.

DPRD mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah terkait rencana pembangunan faskar tersebut. Kehadiran faskar di wilayah itu dinilai tepat, karena aspek jarak yang harus ditempuh oleh masyarakat akan lebih dekat ketimbang harus ke daerah perkotaan.

“Jadi, kami di warpramasi perlu diberikan tepat tersendiri, fasilitas tersendiri supaya mudah dikontrol. Yang dikhawatirkan yang sudah terkena Covid-19 tetapi masih beraktivitas normal seperti biasa, jalan dan sebagainya karena merasa masih sehat. Ini yang akan memperparah situasi dan kondisi,” kata Anggota Fraksi PKS Bersatu DPRD Kabupaten Manokwari, Samsul Hadi, Senin (30/11/2020).

Anggota Fraksi PKS Bersatu DPRD Kabupaten Manokwari Samsul Hadi. Foto : ARF

Sejumlah bangunan di warpramasi, lanjutnya, sempat diwacanakan menjadi lokasi faskar. Salah satunya, pasar sentral SP-4, Prafi. Kendati demikian, perlu ada renovasi besar pada bangunan pasar tersebut.

“Kalau tidak direnovasi total, masyarakat yang dibawa ke sana secara mental bisa saja akan menolak dan ini akan berkaitan dengan proses penyembuhan. Untuk menjadikan rumah sakit pratama sebagai fasilitas karantina, harus dipastikan agar tidak mempengaruhi pelayanan di rumah sakit tersebut. Kalau bisa dipastikan akan jauh lebih baik,” ujarnya.

Samsul Hadi menambahkan, keberadaan faskar harus bisa menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni oleh pasien covid. Sehingga, kelengkapan fasilitas dan penataan bangunan faskar perlu mempertimbangkan aspek kenyamanan itu.

“Orang itu kalau dimasukkan ke faskar seoalah-olah seperti dimasukkan ke rumah sakit, perasaannya sudah seperti apalah. Perlu diedukasi supaya kesan itu bisa hilang. Edukasi perlu ditingkatkan, pemerintah daerah dan masyarakat harus bersinergi. Kalau tidak, anggaran daerah akan terkuras, ekonomi masyarakat menjadi lesu, dan wabah akan semakin bertambah. Kita tidak inginkan seperti itu,” pungkasnya. (ARF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.