Beranda Manokwari BPS: Angka Kemiskinan di Papua Barat Meningkat 0,76 Persen

BPS: Angka Kemiskinan di Papua Barat Meningkat 0,76 Persen

522
0
Angka Kemiskinan di Papua Barat
aktifitas masyarakat yang berada di dekat TPA di dekat Kampung Masyepi, Kelurahan Sowi, Distrik Manokwari Selatan. Foto : RBM/PKT

MANOKWARI, Papuakita.com – Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di Provinsi Papua Barat per Maret 2018 meningkat 0,76 % atau 214,47 jiwa dari sebelumnya 23,12 persen atau 212,86 ribu jiwa pada September 2017.

Meski demikian, Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Endang Retno Subiyandani mengatakan, secara prosentasi jumlah pendudukan miskin mengalami perbaikan, yakni menjadi 23,01 persen.

Kata Endang, prsentase penduduk miskin di daerah perkotaan turun pada Maret 2018 5,10 persen dari sebelumnya sebesar 5,16 persen pada September 2017.

Sementara, penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2018 naik menjadi 35,51 persen dari sebelumnya 35,12 persen pada September 2017. “Tingkat kemiskinan di perkotaan dan perdesaan cukup tinggi,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 19,33 ribu jiwa pada Maret 2018 dari sebelumnya 19,02 ribu jiwa pada September 2017 atau naik 0,31 persen.

Sementara di daerah perdesaan jumlah penduduk miskin naik menjadi 195,14 ribu jiwa pada Maret 2018 dari sebelumnya 193,38 ribu jiwa pada September 2017 atau naik sebanyak 1,31 ribu jiwa.

Dimana, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, pendidikan, dan kesehatan).

Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap kemiskinan perkotaan pada Maret 2018 sebesar 72,29 persen. Adapun peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan perdesanaan sebesar 80,58 persen.

Endang menambahkan, komoditas beras dan rokok filter memiliki share tertinggi terhadap pembentukan garis kemiskinan baik di daerah perdesanaan maupun perkotaan.

“Share komoditas beras terhadap garus kemiskinan di wilayah perkotaan sebesar 19,54 persen dan 20,56 persen untuk wilayah perdesaan. Untuk komoditas rokok filter memiliki share 8,15 persen di perkotaan dan 14,64 persen di perdesaan. Angka dua digit ini perlu diwaspadai,” kata Endang lagi. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here