Beranda Lingkungan Masyarakat Papua Barat Diajak Hidup Bersahabat dengan Bencana

Masyarakat Papua Barat Diajak Hidup Bersahabat dengan Bencana

501
0
Bersahabat dengan Bencana
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir. Foto : RBM/PKT

MANOKWARI, Papuakita.com – Provinsi Papua Barat merupakan salah satu daerah dengan tingkat resiko bencana tinggi. Mulai dari bencana gempa bumi, tsunami dan bencana hidrometeorologi.

Untuk itu, masyarakat di daerah ini perlu memahami kondisi daerah dengan baik, serta hidup bersahabat dengan bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir mengatakan, bencana tidak bisa dihindari, tetapi bisa dicegah serta meminimalisir dampak dari bencana yang terjadi.

“Masyarakat di Papua Barat harus familiar dengan kondisi daerah yang penuh dengan potensi bencana. Kita harus hidup bersahabat dengan bencana,” kata Ampnir menjawab papuakita.com terkait aktivitas kegempaan yang meningkat di wilayah Indonesia, Jumat (24/8/2018).

Menurut Derek Ampnir, berbagai hasil pengamatan yang dilakukan, masyarakat di Papua Barat sudah cukup teredukasi. Sudah memahami soal ancaman bencana, cara menghindar, dan mampu mengatasi bencana.

“Ini yang kita harapkan. Masyarakat kita di Papua Barat ini sudah siap. Kelembagaan BPBD di 12 kabupaten dan satu kota sudah terbentuk, termasuk kapasitasi SDM dan perlatan yang dimiliki cukup memadai,” ujarnya.

Sarana dan prasarana yang cukup memadai ini, menjadi salah satu faktor pendukung dalam membantu serta mendukung program-program kebencanaan dan sosialisasi pencegahan bencana yang dilakukan oleh BPBD setiap saat.

“Sudah ada personil dan peralatan yang diberikan baik dari provinsi dan nasional serta yang disediakan sendiri oleh kabupaten dan kota. Kita harapkan BPBD di kabupaten dan kota lebih siap dan familiar dengan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana,” kata Derek Ampnir.

Derek Ampnir menambahkan, saat terjadi gempa bumi, masyarakat harus segera mencari tempat yang lebih aman dan kosong dari gedung-gedung. Juga memperhatikan peringatan dini tsunami atau early warning sistem.

“Gempa bumi itu tidak membunuh, yang membunuh kita adalah gedung dan kaca. Cari tempat yang kosong serta memperhatikan early warning sistem, terutama masyarakat pesisir. Kalau ada peringatan dini tsunami harus mencari tempat yang aman. Surat-surat penting dan barang berharga itu patut dipersiapkan,” ujarnya. (RBM/R1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here