Beranda Hukum & Kriminal Pieters Kondjol: Melihat Persoalan Mahasiswa Papua di Malang-Surabaya Jangan dengan Sebelah Mata

Pieters Kondjol: Melihat Persoalan Mahasiswa Papua di Malang-Surabaya Jangan dengan Sebelah Mata

317
0
Ketua DPR Papua Barat Pieters Kondjol (topi hitam) bersama Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan dalam suatu kesempatan. Foto : Dok. Pribadi Pieters Kondjol.

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM—Ketua DPR Papua Barat Pieters Kondjol mendesak, pemerintah melalui institusi terkait bertindak cepat menyikapi persoalan mahasiswa asal Papua yang berada di Malang dan Surabaya, Jawa Timur.

“Saya berharap aparat dan negara cepat melihat masalah ini dengan tidak sebelah mata. Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan. Dalam rangka menciptakan hidup yang baik dan rukun di negeri tercinta Indonesia ini,” tutur Kondjol kepada papuakita.com, Minggu (18/8/2019).

Perisitiwa pengepungan asrama mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya, lanjut Kondjol, harus disikapi dengan langkah cepat dan tepat. Sehingga tidak merembet dan meluas sehingga menimbulkan persoalan baru yang dapat merusak persatuan dan kesatuan, serta mengoyakan kebhinekaan bangsa Indonesia.

“Saya berharap persoalan ini segera diatasi dengan baik dan mencari jalan perdamaian sehingga tidak sampai merembet ke mana-mana. Karena orang Papua yang ada di atas tanah Papua merasa terganggu sekali dengan melihat kondisi anak-anak mereka yang studi di daerah tersebut,” ujarnya.

“Kami mengecam tindakan yang terjadi di Malang dan Surabaya. Kami minta kepolisian sebagai simbol negara harus hadir dan mengamankan setiap warga negara Indonesia, dalam hal ini masyarakat Papua yang berada di wilayah tersebut,” sambungnya.

Menurut Kondjol, langkah cepat dan tepat, dibutuhkan dalam rangka menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif. Sehingga, persoalan yang terjadi di Malang dan Surabaya tidak disusupi oleh pihak-pihak yang justru dapat memanasi situasi.

“Kami di Papua ini hidup bhineka tunggal ika. Saudara-saudara nusantara (pendatang, red) yang ada di sini, kami saling suport. Tidak ada tindakan mengepung, usir dan sebagainya. Kalau tindakannya sudah seperti itu kami merasa sudah tidak aman lagi,” ujar Kondjol.

Mengenai aksi-aksi mahasiswa Papua yang bersinggungan dengan aspirasi ‘Papua Merdeka’, ia mengakui jika hal seperti sudah berlangsung sejak tahun 1950-an. Di mana, kondisi itu dilatarbelakangi pelbagai persoalan yang tak kunjung dituntaskan secara baik.

“Harusnya bagaimana (pemerintah) Indonesia menciptakan Papua ini menjadi orang Indonesia yang secara ideologi harus terbangun dengan baik. Ini kan, banyak persoalan yang terjadi di bangsa ini terutama di Papua yang tidak pernah terselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Kondjol menambahkan, kondisi tersebut yang berlarut dari waktu ke waktu telah ‘menumbuhkan’ idealisme ‘Papua Merdeka’ ini terus ada.

“Menurut saya itu karena orang Papua belum bisa di-Indonesiakan oleh orang Indonesia sendiri,” tutupnya. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.