by

GURU DAN MURID, DUA INSAN PEMBELAJAR

Oleh Abraham Elisa Warmetan, S.Pd

Guru dan murid sama-sama insan pembelajar. Sekolah menjadi tempat bertemu dan berinteraksi dua sosok pembelajar tersebut dengan dua tujuan yang serupa tapi tak sama. Maksudnya, guru belajar dalam rangka meningkatkan kompetensi untuk kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran, dan murid belajar dalam rangka menimba ilmu pengetahuan.
Penulis terinspirasi dengan tokoh pendidikan Raden Mas Suwardi Suryaningrat, atau lebing dikenal dengan sebutan Ki Hadjar Dewantara, nama yang tidak asing lagi bagi seorang guru terutama dalam dunia pendidikan. Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 beliau dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia dan tanggal kelahirannya selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei Tahun berjalan sebagai hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) melalui Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959.

“Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” Semboyan ini tidak asing lagi bagi para guru, pencerdas anak bangsa. Semboyan trilogi pendidikan yang di sampaikan oleh bapak pendidikan Nasionnl KI Hajar Dewantara menjadî pedoman untuk para guru bahwa Guru “Di depan memberi contoh, Di tengah memberi semangat, Di belakang memberi dorongan bagi peserta didik.
Guru dan murid adalah dua insan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan terutama interaksi pembelajaran, Salah satu tugas guru adalah mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid, dan murid pun bertugas menyimak, memahami, dan menguasai ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Ilmu pengetahuan yang disampaikan guru kepada murid tentunya harus mengikuti perkembangan zaman dan tingkat kemampuan berpikir mereka. Oleh karena itu, guru harus terus belajar agar ilmu yang dimilikinya terus bertambah, di-update (kekinian) dan di-upgrade (ditingkatkan) seiring perkembangan jaman yang berlaku.

Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03N/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Jabatan Fungsional Guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pandidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.

Guru adalah pendidik profeional dengan tugas utama mendidik, mengajar; membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan Guru dalam menyusun rencana pembetajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, menilai dan mengevaluasl hasil pembelajaran, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik.

Kegiatan bimbingan adalah kegiatan Guru dalam menyusun rencana bimbingan, melaksanakan bimbingan, mengevaluasi proses dan hasil bimbingan, serta melakukan perbaikan tindak lanjut bimbingan dengan memanfaatkan hasil evaluasi.

Dengan melihat tugas-tugas guru yang begitu berat tetapi mulia, maka suda sewajarnya seorang guru harus terus belajar dan belajar untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman dan juga tuntutan kebutuhan peserta didik di era-digitalisasi 4.0

Beberapa alasan mengapa seorang guru harus terus belajar selama dia berprofesi sebagai pendidik atau guru, sebagai berikut :

1. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

2. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menuntut guru untuk harus belajar beradaptasi dengan hal-hal baru yang berlaku saat ini. Dalam kondisi ini, seorang guru dituntut untuk bisa beradaptasi denga berbagai perubahan yang baru. Adapun kemampuan tersebut bisa diperoleh melalui pelatihan, seminar maupun melalui studi kepustakaan.

Lihat juga  Kapolda PB: Pemberi Informasi Pencurian Kapal Wisata Pearl of Papua Belum Bisa Ditemui

3. Karakter peserta didik yang senantiasa berbeda dari generasi ke generasi menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru. Metode pembelajaran yang digunakan pada peserta didik generasi terdahulu akan sulit diterapkan pada peserta didik generasi sekarang. Oleh karena itu, cara ataupun metode pembelajaran yang digunakan guru harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik saat ini. Dengan demikian maka guru disebut sebagai insan pembelajar sepanjang hayat.

Tantangan yang dihadapi dunia Pendidikan di Indonesia memasuki era abad XXI atau yang lebih dikenal dengan sebutan era-revolusi industri 4.0 sangat berat dan kompleks. Memasuki era-abad 21 ini pendidikan bukan saja diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berkompetisi dengan sumber daya manusia dari belahan dunia lainnya, namun juga sumber daya yang berkarakter, mampu berpikir kritis, mampu menyelesaikan berbagai permasalahan, mampu berkolaborasi, memiliki kemampuan berkomunikasi serta literat.

Tantangan berat dan kompleks tersebut mengharuskan guru dana tenaga pendidik lainnya untuk mempersiapkan diri secara maksimal dan optimal. Mereka bukan saJa harus memahami dampak dari perubahan paradigmatis tersebut, namun juga harus memahami fenomena apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga guru dan tenaga pendidik memiliki pemahaman komprehensif tentang era-revolusi industri 4.0.

Harus disadari bahwa memasuki abad XXI ada sejumlah perubahan mendasar yang terjadi dalam semua dimensi kehidupan. Era digitalisasi ditandai dengan revolusi digital telah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia termasuk pendidikan. Internasionalisasi, globalisasi, komunikasi menyebabkan makin masive-nya proses integrasi belahan dunia yang berimbas pada terjadinya pendataran (flating) dunia. Seluruh belahan dunia seakan telah menjadi satu kawasan luas. Tidak ada satu pun negara di belahan bumi ini yang bisa tersembunyi dari sorotan negara lainnya. Perkembangan yang sangat cepat tersebut telah memicu terjadinya perubahan yang sangat cepat. Hal yang baru dengan sangat cepat digantikan oleh hal baru atau varian baru lainnya. Dunia sepertinya tunggang-langgang mengejar perkembangan yang terjadi. Perkembangan teknologi informasi menyebabkan kreativitas sebagai sebuah keharusan. Dunia kreatif menjadi tolak ukur keunggulan. Hanya mereka yang kreatif yang nantinya bisa memerankan diri dan sekaligus menjadi pemenang dalam persaingan global ini.

Perubahan fundamental tersebut akhirnya berimbas pada metode yang digunakan oleh guru ketika mengajar di kelas. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendekatan saintifik dengan menggunakan beberapa model pembelajaran di antaranya discovary/inquiry learning, Problem Based Learning, serta Project Based Learning. Terlepas dari model pembelajaran sebagaimana yang disebutkan di atas, namun secara umum ada beberapa kegiatan yang menjadi inti seluruh kegiatan belajar. Kegiatan tersebut di antaranya: melalui praktik, overlearning dan drill, resitasi, pengenalan hasil belajar, mengklasifikasi.

Dibutuhkan upaya-upaya strategis untuk mampu mengembangkan tiga kompetensi tersebut. Oleh sebab itu untuk mencapainya guru harus melaksanakan tiga kegiatan yang berkaitan dengan proses psikologis terhadap siswa. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivltas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”.

Keterampilan diperoleh melalul aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan kegiatan psikologis yang harus dilakukan siswa juga berpengaruh pada karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning).

Lihat juga  Orang Tua Mulai Jenuh dan Keluhkan Sistem Belajar Daring di Tengah Pandemi Covid-19

Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Sesungguhnya dalam konteks inilah kita melihat urgensi dari pemberlakuan Kurikulum 2013.

Era digitalisasi yang berkaitan dengan era revolusi industri 4.0 di mana siswa nantinya bukan saja mampu menguasai sains dan teknologi berbasis teknologi informasi, namun juga harus mampu mengembangkan teknologi merupakan tantangan nyata di depan kita. Oleh sebab itu, sejalan dengan perkembangan yang terjadi, tantangan yang dihadapi guru dalam menghasilkan lulusan yang sesuai dengan harapan orang tua juga makin kompleks dan selalu disesuaikan dengan tuntutan pasar.

Dibutuhkan sejumlah piranti baik lunak maupun keras untuk menghadapi tantangan tersebut. Salah satunya adalah proses pembelajaran yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendldikan Dasar dan Menengah ‘yang menyebutkan bahwa, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didlk untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Ketika menyampaikan materi pembelajaran di kelas maka guru bukan saja menjadi sosok yang mampu membangun motivasi siswanya, namun juga dalam waktu yang bersamaan bisa menampilkan diri sebagai sosok yang memberikan inspirasi bagi tumbuh kembangnya prakarsa anak didik. Oleh sebab itu, guru seharusnya memberikan ruang yang terbuka dan seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengeksplorasi diri dan lingkungannya baik sebagai media pembelajaran maupun sebagai bahan belajar. Dengan demikian, maka peserta didik akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kapasitas, bakat dan minatnya.

Paradigma baru proses pembelajaran di kelas harus terus digelorakan dan menjadi bagian penting dari guru. Proses pembelajaran bergeser dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu, dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar, dan dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah atau saintifik.

Dalam kaitannya dengan era milenial ini guru harus benar-benar memahami konsep pembelajaran kontekstual. Sebuah konsep pembelajaran yang makin mendekatkan siswa dengan dunia nyata, Mereka bukan saja harus diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi kompetensi dirinya sendiri, namun lebih dari Itu mereka juga diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar baik sebagai media belajar maupun bahan belajar. Dengan demikian maka guru dan siswa sama sama sebagai insan pembelajar.

Penulis adalah Kepala SMP YPK ALFA OMEGA WAISAI Raja Ampat, Saat ini sebagai Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura, Papua.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *