by

Identifikasi Risiko dan Strategi Pengendalian Malaria di Papua Barat

Oleh : Rendi Yopi T. 

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan Plasmodium, yaitu makhluk hidup bersel satu yang termasuk ke dalam kelompok protozoa. Malaria bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang mengandung Plasmodium di dalamnya. Plasmodium yang terbawa melalui gigitan nyamuk lalu akan hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah.

Penyakit ini bisa menyerang semua kelompok umur, baik laki-laki maupun perempuan. Gejala malaria yaitu demam, suhu tubuh menurun, menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual, muntah, sakit punggung, batuk tanpa dahak, nyeri dan letih pada otot hingga diare dan pembesaran limpa (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2016).
Rendi Yopi Trifando, Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana, D.I.Yogyakarta. DOK. Pribadi
Masih tingginya jumlah kasus malaria di Provinsi Papua Barat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kondisi geografis, kontur tanah, budaya, kebiasaan masyarakat, dan pendidikan serta informasi yang tersedia bagi masyarakat.
Di Papua Barat penyakit malaria yang sering terjadi adalah malaria tertiana dan malaria tropis. Hal ini berkaitan dengan Plasmodium falciparum sebagai penyebab malaria tropis dan Plasmodium vivax sebagai penyebab malaria tertiana.
Menurut Sulaiman dkk. (2018) total prevalensi malaria tropis adalah 68,2% sementara malaria tertiana mencapai 60,8%.
Tempat berkembang biak nyamuk Anopheles sp. Sebagai vektor penyakit malaria biasanya di tempat yang berair seperti bak mandi, di persawahan, sungai, rawa-rawa, barang bekas dan lain-lain. Nyamuk ini biasanya beristirahat di tempat yang teduh, memiliki intesitas cahaya yang rendah, kelembaban tinggi, sedikit angin, gelap, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
Nyamuk Anopheles sp. Biasanya menggigit pada tengah malam dan pada waktu menjelang pagi hari. Nyamuk ini menggigit pada saat kita berada di dalam ruangan (endophaghic) maupun di luar ruangan (exophaghic).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018), provinsi Papua Barat memiliki suspek penderita malaria sebesar 92.410 jiwa dengan pasien yang positif yaitu 7.450 pada tahun 2018. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Morbiditas (angka kesakitan) malaria di suatu wilayah ditentukan dengan Annual Parasite Incidence (API) per tahun. API merupakan jumlah kasus positif malaria per 1.000 penduduk dalam satu tahun (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2016).
Angka API Annual Parasite Incidence (API) untuk provinsi Papua Barat di tahun 2018 yaitu 7,95 per 1000 penduduk. Angka ini sangat tinggi karena telah melewati ambang batas yang ditentukan oleh WHO yaitu API<5.
Untuk distribusi kasus penderita malaria di provinsi Papua Barat, khususnya di kabupaten Manokwari, kategori anak-anak dengan umur 0-14 tahun memiliki potensi terjangkit malaria yang lebih tinggi dibanding kategori umur yang lainnya khususnya di provinsi Papua Barat.
Selain itu ibu hamil juga menjadi perhatian khusus bagi penyebaran penyakit malaria karena ibu yang sedang hamil bila terjangkit malaria bisa menyebabkan bayi yang lahir mengalami penurunan berat badan, lahir cacat dan bisa menyebabkan kematian bagi bayi. Faktor risiko ini didukung dan dipengaruhi juga oleh immunitas dari tubuh manusia. Jika manusia memiliki immunitas yang rendah maka risiko terjangkit malaria semakin tinggi.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 293 Tahun 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia, eliminasi malaria merupakan upaya untuk menghentikan penularan malaria dalam suatu wilayah tertentu namun bukan berarti tidak terdapat kasus malaria dari luar daerah tersebut dan sudah tidak ada lagi vektor malaria sehingga dibutuhkan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2016).
Strategi untuk mengeliminasi malaria diantaranya dengan mengintensifkan penyemprotan rumah secara selektif, meningkatkan deteksi dini malaria, pengobatan yang tepat, serta meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan malaria (Debora dkk, 2018).
Salah satu upaya dalam percepatan eliminasi malaria selain pemberian kelambu anti nyamuk (daerah endemis tinggi dan daerah endemis sedang) dan pemberian obat ACT bagi penderita malaria yang telah ditetapkan oleh WHO juga bisa dilakukan secara biologis.
Strategi pengendalian vektor nyamuk sebenarnya bisa dilakukan baik secara kimia, fisika, maupun biologis. Namun semakin berjalannya waktu pengendalian vektor secara biologis dinilai lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan secara kimia dan fisika.
Beberapa strategi pengendalian vektor secara biologis antara lain yaitu pemeliharaan predator alami dari jentik nyamuk seperti ikan, penanaman tanaman anti nyamuk seperti lavender dan serai wangi, penggunaan biolarvasida, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan di rumah masing-masing.
Sementara kelambu berinsektisida yang digunakan bisa diberikan alternatif dengan pemberian insektisida berbasis biologis yang ramah lingkungan sehingga kelambu yang digunakan aman.
Perlu adanya kerjasama dan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga, dan masyarakat untuk mendukung proses pengendalian vektor malaria di provinsi Papua Barat.
Kemudian dibutuhkan kajian terhadap keefektifan program pemerintah dalam rangka menurunkan kasus Malaria di Papua Barat setiap tahunnya. Hal ini untuk mengevaluasi hal apa saja yang masih perlu dibenahi dalam mengurangi kasus malaria. Selain itu perlu adanya peningkatan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di beberapa kabupaten terutama di distrik-distrik yang letaknya jauh dari perkotaan karena akses untuk menuju puskemas dan rumah sakit sulit dijangkau.
Semua upaya dan program ini dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit malaria di Papua Barat sehingga diharapkan Papua Barat bisa bebas dari malaria di masa depan dan impian Indonesia mampu bebas malaria di tahun 2030 juga dapat terwujud.
Penulis adalah :
Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana, D.I.Yogyakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed