Beranda Ekonomi & Bisnis Bank Indonesia Klaim Kasus Uang Palsu Minim di Papua Barat

Bank Indonesia Klaim Kasus Uang Palsu Minim di Papua Barat

88
0
Donny Heatubun
Sosialisasi ciri-ciri uang asli, kerja sama BI dengan Kementerian Keuangan, yang berlangsung di kantor gubernur provinsi Papua Barat. Foto : MR3

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM—Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat, Donny H. Heatubun mengatakan, kasus uang palsu minim ditemukan di wilayah Papua Barat, dimana sampai akhir tahun 2018 hanya ditemukan sedikitnya 13 laporan kasus uang palsu. Hingga memasuki April 2019, baru dua kasus.

“Peredaran uang palsu di Papua Barat relatif minim. Namun, tindakan pencegahan terus dilakukan dengan sosialisasi ciri-ciri uang asli secara umum,” kata Donny Heatubun usai sosialisasi ciri-ciri uang asli, kerja sama BI dengan Kementerian Keuangan, yang berlangsung di kantor gubernur provinsi Papua Barat, Kamis (11/4/2019).

Menurut Donny Heatubun, uang palsu yang masuk ke wilayah Papua Barat lebih banyak karena faktor ketidaktahuan akan ciri-ciri uang tersebut dan terselip. Hinga kini, lanjut Donny Heatubun, di Papua Barat belum ditemukan kasus produksi uang palsu sehingga jumlah kasusnya relatif sedikit.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Donny. H Heatubun. Foto : MR3

“Pemain uang palsu sebenarnya itu-itu saja. Mereka bermain di wilayah Jawa. Kita di Papua barat kasus banyak karena keselip atau ketidktahuan uang palsu sehingga bisa sampai ke daerah, kebanyakan laporan dari masyarakat,” ujarnya.

Dari pengamatan dan catatan BI, kata Donny Heatubun, pola distribusi uang palsu bisa mudah dibaca jika pengetahuan masyarakat baik tentang ciri uang asli.

“Pola penyebarannya biasa satu-satu lembar dan di suatu lokasi akan ditemui banyak uang palsu. Bersyukur di sini kita tidak ada kasus produksi uang palsu,” kata Donny Heatubun lagi.

Sosialisasi ciri-ciri uang asli yang dilakukan sengaja ditingkatkan jelang perhelatan pesta demokrasi. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya pihak-pihak yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mengedarkan uang palsu.

“Momentum ini kita manfaatkan juga dengan sosialisasi ciri uang palsu. Pemilu merupakan agenda musiman, kita juga mengenal terminologi atau jargon serangan fajar jangan sampai dimanfaatkan untuk penyebaran uang palsu,” ujar dia.

Donny Heatubun menambahkan, prediksi peredaran uang di daerah akan meningkat jelang pemilu serentak 2019 hingga memasuki momentum bulan ramdan dan hari raya idul fitri yang jaraknya berdekatan. (MR3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here