Beranda Papua Barat Derek Ampnir: Koordinasi Menjadi Penting Saat Bencana Terjadi

Derek Ampnir: Koordinasi Menjadi Penting Saat Bencana Terjadi

899
0
Rakoornas BNPB 2019
Kalaksa BPBD Provinsi Papua Barat Derek Ampnir saat berada di lokasi Rakoornas BNPB di Surabaya, Jawa Timur. Foto : Istimewa

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM – Koordinasi menjadi komponen penting saat bencana terjadi, karena semua pihak bisa menjadi bingung dalam menentukan keputusan untuk menyikapi dengan cepat kondisi yang ada.

Demikian diungkapkan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir kepada papuakita.com, Minggu (3/2/2019).

“Koordinasi menjadi elemen penting. Saat bencana terjadi orang bingung, ini tentu menyulitkan untuk segera mengambil keputusan. Maka, koordinasi sangat penting,” ujar Ampnir.

Pangdam XVIII Kasuari Mayjen TNI, Joppye Onesimus Wayangkau bersama Kalaksa BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir di lokasi Rakoornas BNPB 2019

Kata Ampnir, komponen penting tersebut menjadi salah satu pembahasan di dalam kegiatan Rapat Koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), yang diselenggarakan 2-4 Februari 2019, di Surabaya, Jawa Timur.

“Di hari ini anak asli Papua, saudara kekasih kita Velix Wanggai tampil di depan ribuan pasang mata di Rakor BNPB dan BPBD se Indonesia mendapat kepercayaan dari kepala Bappenas memberikan materi terkait 6 point arahan Presiden RI,” ujarnya.

Rakoornas Kebencanaan BNPB 2019 bertemakan “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”. Adapun 6 point arahan presiden sebagai berikut:

1. Perencanaan pembangunan daerah harus berlandaskan aspek-aspek pengurangan resiko bencana.
2. Pelibatan akademisi dan pakar-pakar kebencanaan secara masif untuk memprediksi ancaman, mengantisipasi dan mengurangi dampak bencana, serta sosialisasi hasil-hasil kajian dan penelitiannya.
3. Gubernur secara otomatis akan menjadi komandan satgas darurat pada saat kejadian bencana, serta Pangdam dan Kapolda menjadi wakil komandan satgas.
4. pembangunan sitem peringatan dini yang terpadu berbasiskan rekomendasi dari pakar dikoordinasikan oleh kepala BNPB.
5. Edukasi kebencanaan harus dimulai tahun ini, terutama di daerah rawan bencana, kepada sekolah melalui guru, dan kepada masyarakat melalui tokoh agama.
6. Lakukan simulasi penanggulangan bencana secara berkala dan berkesinambungan.

Ampnir menambahkan, membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana harus didorong melalui kegiatan-kegiatan mitigasi bencana.

Lihat juga  Ikut Seleksi Raider, Prajurit Yonif RK 752 Tes Kesegaran Jasmani

“Arahan bapak presiden pada point ke enam harus dimaksimalkan. Simulasi penanggulangan bencana secara berkala dan berkesinambunang terus harus dilakukan,” pungkasnya. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.