Penampilan pasukan tradisional warnai hari jadi ke-74 Infanteri di Yonif 761/KA

MANOKWARI, PAPUAKITA.com—Penampilan pasukan tradisional mewarnai perayaan Hari Jadi Infanteri ke 74 di lingkungan Kodam XVIII Kasuari yang dipusatkan di Batalyon Infanteri (Yonif) 761/KA (Kikibor Akinting), Senin (19/12/2022).

Pasukan tradisional itu memakai seragam dan menirukan gerakan pasukan yang digambarkan sebagai pejuang-pejuang terdahulu. Dengan membawa bendera merah putih dan diakhiri dengan meminum dan pembelahan kelapa muda serta diiringi dengan letusan senapan LE oleh pasukan tradisional.

Upacara perayaan hari jadi tersebut dipimpin oleh Kasdam, Brigjen TNI Yusuf Ragainaga. Upacara diakhiri dengan pembacaan amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan pengucapan Ikrar Korp Prajurit Infanteri serta penyerahan simbol dan penyerahan duplikat Bendera Yudha Wastu Parmuka dan duplikat Pataka Kodam XVIII/Kasuari.

Adapun, Komandan Pussenif (Danpussenif), Letjen TNI Arif Rahman, M.A. dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Kasdam menyampaikan, latar belakang historis lahirnya hari infanteri tidak terlepas dari keberhasilan perang gerilya di bawah Komando Panglima Besar Jenderal Sudirman.

“Berdasarkan keputusan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang tertuang dalam Perintah Kilat No 1/PB/D/48 tanggal 19 Desember 1948, perang gerilya dilaksanakan oleh angkatan perang yang didukung penuh oleh rakyat ditiap-tiap kantong perlawanan (Wehrkreise),” ucapnya.

Panglima Besar Jenderal Sudirman, saat itu memimpin langsung para pejuang saat melawan Belanda dengan menggunakan senjata tradisional dan perlengkapan perang yang terbatas.

Para pejuang kita mampu mengatasi tentara Belanda yang sudah memiliki senjata modern, metode perlawanan yang diterapkan yaitu serbu dan lari (Hit And Run) berasal dari basis gerilya yang tidak mengenal waktu operasi, para pejuang melakukan penyerangan ke pos-pos yang dijaga belanda atau saat konvoi.

Taktik tersebut membuat Belanda bingung dan kewalahan karena melakukan penyerangan tiba-tiba. Strategi dan taktik tersebut membuat pasukan Belanda lemah dan kalah sehingga mereka terpaksa mundur.

Lihat juga  Status Politik Papua Bergema di Hari HAM Sedunia di Manokwari

“Dari peristiwa tersebut, kita bisa mengambil nilai-nilai berupa jiwa nasionalisme, cinta tanah air, rela berjuang, pantang menyerah dan manunggal dengan rakyat. nilai-nilai tersebut harus selalu terpatri dalam jiwa dan sikap serta perilaku setiap prajurit korps Infanteri,” ungkapnya.

Diakhir amanatnya, Arif Rahman menginstruksikan agar seluruh prajurit Korps Infanteri mampu menjadi pelopor dalam mengatasi kesulitan rakyat di sekitarnya.

Selain itu, selalu berdiri kokoh di atas pondasi jati diri prajurit sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Profesional, selain itu tingkatkan semangat jiwa korsa yang positif, namun jangan sampai terjebak dalam jiwa korsa yang sempit.

Tema Hari Infanteri ke-74 ini yaitu “Infanteri Yang Modern Dan Selalu Di Hati Rakyat”.

“Adalah sangat tepat dan patut dijadikan pedoman dan arah bagi prajurit Korps Infanteri dalam mengemban tugas di masa yang akan datang,” tutupnya. (*/PK-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *