Beranda Ekonomi & Bisnis Penduduk Miskin Papua Barat Berkurang, BPS: Berjumlah 213,67 Ribu Jiwa

Penduduk Miskin Papua Barat Berkurang, BPS: Berjumlah 213,67 Ribu Jiwa

80
0
BPS
Para penjual di pasar Wosi berjubel di areal pakir dan jalan di dalam pasar menunggu pembeli. BPS mencatat penduduk miskin di Provinsi Papua Barat menurun. Foto : RBM/PKT.

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM – Penduduk miskin di Provinsi Papua Barat mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, jumlahnya mencapai 213, 67 ribu jiwa (22,66 persen) pada September 2018 jika dibandingkan kondisi Maret 2018, yang berjumlah 214,47 ribu jiwa (23,01 persen).

Kepala BPS Provinsi Papua Barat Endang Retno Sri Subiyandani menjelaskan, antara periode Maret 2018 hingga September 2018, terjadi penurunan tingkat kemiskinan di Papua Barat sebesar 0,35 persen poin.

“Dengan kata lain terjadi penurunan jumlah penduduk miskin di Papua Barat sebanyak 793 orang pada periode tersebut,” kata Endang saat rilis data kemiskinan dan ketimpangan Papua Barat di kantornya, Selasa (15/1/2019).

BPS Provinsi papua barat
Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Endang Retno Subiyandani. Foto : RBM/PKT

Penurunan kemiskinan ini hanya terjadi di daerah perdesaan, dimana presentase kemiskinan turun sebesar 1,02 persen poin, dari 35,31 persen poin pada Maret 2018 menjadi 34,29 persen pada September 2018.

Ada beberapa faktor terkait dengan penurunan kemiskinan di Papua Barat pada periode Maret 2018-September 2018, diantaranya Nilai Tukar Petani (NTP) pada September naik 0,62 poin dibanding Maret, yaitu dari 99,73 menjadi 100,35. Juga penguatan pertumbuhan ekonomi, secara y-o-y (triwulan 3 2017 – triwulan 3 2018) pertumbuhan ekonomi mencapai 6,89 persen.

Sementara itu secara q-o-q (triwulan 2 2018 – triwulan 3 2018) pertumbuhan ekonomi menguat sebesar 2,66 persen.
Selain itu pengeluaran rata-rata per kapita penduduk yang berada pada Desil 1 periode Maret 2018 – September 2018 meningkat 8,91 persen, lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan pada periode yang sama (8,64 persen).

“Di daerah perkotaan kemiskinan justru naik sebesar 0,47 persen poin, yaitu dari 5,10 persen poin menjadi 5,57 persen,” ujar Endang.

Endang mengatakan, pada September 2018 terjadi kenaikan indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 0,21 persen poin dari 2,286 pada Maret 2018 menjadi 6,499 pada September 2018.

Sedangkan indeks keparahan kemiskinan (P2) sedikit mengalami kenaikan dari 2,379 menjadi 2,382 pada periode tersebut.
Endang melanjutkan, garis kemiskinan (GK) pada periode September 2018 tercatat sebesar 560.976 per kapita per bulan. Dibandingkan dengan GK pada periode Maret 2018 yang sebesar 516.362.

“Terjadi kenaikan GK sebesar 8,64 persen. Dan kenaikan ini merupakan kenaikan paling tinggi di Indonesia,” kata Endang lagi.
Tercatat ada lima komoditas utama yang memberikan kontribusi terhadap garis kemiskinan di September di perdesaan, yakni beras 19,48%, rokok kretek filter 14,69%, gula pasir 3,59%, daging sapi 3,39%, dan daging ayam ras 3,08%.

Sementara itu lima komoditas utama yang berkontribusi terhadap garis kemiskinan di September di Perkotaan, yakni beras 17,68%, rokok kretek filter 11,97%, tongkol/tuna/cakalang 3,85%, kembung 3,33%, dan roti 3,15%. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here