Bertemu BP, DPRPB dan Gubernur bahas soal tenaga kerja asli Papua

MANOKWARI, PAPUAKITA.com—Pelibatan orang asli Papua sebagai tenaga kerja di Proyek Tanggung LNG di Kabupaten Teluk Bintuni menjadi perhatian DPR Papua Barat (DPRPB) dan Pemerintah Provinsi Papua Barat.

Hal itu menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan bersama antara DPRPB, Penjabat Gubernur Papua Barat dan pihak BP Indonesia di Jakarta baru-baru ini. Pihak BP Indonesia diminta memperhatikan kualitas dan kuantitas pekerja asli Papua.

“Belum ada silaturahim bersama dengan BP sejauh ini. Melalui momentum tersebut sekaligus kami meminta informasi sejauh mana dampak positif atas kehadiran Tangguh LNG bagi pemerintah maupun masyarakat di kabupaten Teluk Bintuni. Apa saja?,” kata Ketua DPRPB Orgenes Wonggor.

Sekira 70 persen pekerja di proyek Tanggung LNG di kabupaten Teluk Bintuni adalah orang asli Papua. Menurut Wonggor, informasi tersebut disampaikan oleh pihak BP dalam pertemuan tersebut.

Diketahui, Tangguh LNG merupakan lapangan gas terpadu yang terletak di wilayah Kontrak Kerja Sama (KKS) Wiriagar, Berau, Muturi di kabupaten Teluk Bintuni. Dan telah mulai berproduksi pada 2009 silam. Juga telah mengoperasikan dan mengembangkan train 1, 2, dan 3.

“Sekira 70 persen tenaga kerja yang ada di Tangguh LNG itu anak-anak asli Papua, itu luar biasa. Kita apresiasi. Kami mendorong agar pekerja asli Papua ini dapat bekerja sebagai tenaga inti di LNG maupun tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi,” ujarnya.

Kata Wonggor, keberpihak terhadap orang asli Papua, ini menjadi cerminan implementasi Undang Undang Otonomi Khusus (Otsus). Sehingga diharapkan ada perhatian dari pihak BP untuk mengasah skil dan keahlian pekerja asli Papua supaya keberadaan mereka relevan dengan kebutuhan proyek Tangguh LNG.

Pemerintah provinsi, lanjutnya, juga akan bekerja sama dalam memaksimalkan pelatihan-pelatihan yang sudah berjalan maupun nantinya digelar melalui keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK).

Lihat juga  Subitu Trans Maritim, Sejarah Baru Dunia Transportasi Teluk Bintuni

“Penjabat gubernur sudah menyampaikan hal itu juga didalam pertemuan tersebut yang nantinya pembukaan kembali BLK di kabupaten Manokwari Selatan. Ini akan dibicarakan bersama-sama sehingga tenaga kerja disiapkan sehingga bisa terserap di LNG Tangguh,” jelasnya.

Informasi lain yang disampaikan oleh pihak BP sebut Wonggor, sejalan dengan harapan DPRPB dan pemerintah provinsi. Yakni, BP juga telah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skil dan keterampilan pekerja orang asli Papua.

“Pelatihan-pelatihan itu sudah berjalan. BP berharap upaya tersebut bisa menjawab kebutuhan tenaga kerja bukan saja pada proyek Tangguh LNG. Tetapi bisa di dunia usaha mana pun yang butuhkan tenaga kerja sehingga mereka bisa diserap,” ungkapnya.

Wonggor menambahkan, ketersediaan tenaga kerja khusus asli Papua harus dibarengi dengan kepemilikan skil. Sebab itu menjadi sandungan dalam dunia usaha yang sering membuat tenaga kerja asli Papua kalah bersaing. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *