Legislator DPRPB sarankan PT Padoma miliki fokus bisnis

MANOKWARI, PAPUAKITA.com—Anggota Komisi III DPR Papua Barat Mugiyono menyarakan, PT Padoma lebih fokus mengelola bisnisnya. Sebab perusahaan daerah tersebut dinilai minim kontribusi akibat terlalu banyaknya bidang usaha yang dibuka.

“Lebih bagus Padoma lebih fokus cakupan usahanya sehingga bisa maksimal,” tutur Mugiyono

Diketahui, Padoma bergerak dalam bidang perhubungan, pertashop, konstruksi, bisnis semen dan ada beberapa bidang usaha lain. Banyaknya bidang ini membuat BUMD tersebut tidak fokus.

“SDM masih terbatas namun usahanya banyak sehingga tidak maksimal dan ini berakibat belum bisa memberikan masukan pada PAD maksimal,” ujarnya.

Dia mengharapkan agar PT Padoma ke depan bisa fokus pada beberapa bisnis potensial sesuai dengan dukungan finansial maupun ketersediaan SDM.

“Pada dasarnya kita hanya saling menguatkan karena kita mitra. Sehingga perusahaan ini nantinya ada profit,” tandasnya.

Gas untuk rumah tangga

DPR Papua Barat (DPRPB) juga mendorong PT Padoma mengelola gas secara kolektif. Bukan hanya untuk sektor kelistrikan, melainkan mengonversinya menjadi gas untuk kebutuhan rumah tangga.

“Papua Barat mendapat jatah 20 MMSCFD. Kita harap juga dikelola sebagai gas rumah tangga. Kita akan menyurat ke Kementerian ESDM agar PT Padoma diberikan keleluasaan dalam mengelola gas,” kata anggota Komisi III  DPR Papua Barat Febri Jean Andjar Febri, Kamis (17/3/2022).

Anggota DPR Papua Barat Jein Febri Andjar. Foto : PK-01

Menurut Febri, DPR akan meminta gas Papua Barat dikelola lebih produktif. Agar ada profit yang bisa memberi kontribusi bagi perusahaan.

Karenanya, gas tidak boleh sekadar dikelola sebagai penerangan saja. Melainkan kata Febri, juga mulai memikirkan untuk membuat tabung gas. Sehingga nantinya juga bisa meringankan beban masyarakat.

Jatah 20 MMSCFD ini kata dia dijual ke pemerintah pusat dan di kembalikan ke Papua Barat dalam bentuk uang (bagi hasil migas).

Lihat juga  Ketua Fraksi Otsus DPRPB: Proses PAW YAY akan dilakukan setelah kasusnya inkrah

“Gas rumah tangga ini dipasok dari luar daerah sehingga harganya cukup tinggi. Jika ada pengelolaan di Papua Barat tentu harganya akan lebih ringan,” katanya.

Sebagai ibu rumah tangga dirinya juga merasakan melonjaknya harga gas rumah tangga apalagi masyarakat. Sehingga jika ada pengelolaan gas di Papua Barat tentu akan membantu masyarakat.

“Kita akan mengawal agar gas tersebut bisa diperuntukkan sebagai gas rumah tangga,” tandasnya. (PK-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *