Beranda Politik Rudi Timisela: Perkawinan Politik, Bangkitkan Kesadaran Politik

Rudi Timisela: Perkawinan Politik, Bangkitkan Kesadaran Politik

441
0
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat, Rudi Frans Moses Timisela. Istimewa

MANOKWARI, PAPUAKITA.COM—Konstelasi politik menuju perhelatan pesta demokrasi pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Manokwari (2020-2025) semakin dinamis.

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat, Rudi Franz Moses Timisela mengungkapkan angan-angan politiknya ikut berpartisipasi dalam perebutan tampuk kepemimpinan di kabupaten Manokwari. Konsep yang didorong adalah perkawinan politik.

“Karena itu saya ingin memainkan konsep apa yang disebut dengan perkawinan politik atau partai politik menjadi jembatan dari pada lahirnya kepemimpinan,” kata Rudi akhir pekan lalu.

Kata Rudi Timisela demikian ia disapa, partai politik mempunyai tugas melakukan rekrutmen, dimana proses itu tentu dilakukan dengan persyaratan-persyaratan. Dan persyaratan disetiap partai politik tentu berbeda-beda pula.

“Perkawinan politik itu menjadikan partai politik sebagai jembatan sehingga parpolah yang kemudian mengawinkan pasangan bupati dan wakil bupati. Bukan kedua kandidat itu langsung memasangkan diri, kemudian meminta dukungan partai politik,” ujarnya.

Meski peluncuran pelaksanaan pilkada serentak 2020 secara resmi dijadwalkan pada 24 September mendatang. Akan tetapi sejumlah partai politik telah membuka pendaftaran bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Menurut Rudi Timisela, perkawinan politik juga bertujuan membangkitkan kesadaran politik untuk melawan politik transaksional, mengeliminir sikap pragmatis masyarakat agar mau berpartisipasi secara aktif dalam memilih calon pemimpin serta menjaga komunikasi politik.

“Perkawinan politik ini untuk kemudian menjaga komunikasi politik di masa saat memimpin. Karena para kandidat sadar mereka itu lahir karena partai politik. sehingga mereka bisa memperhatikan partai politik. Mereka juga sadar untuk tetap menjaga komunikasi politik dengan parpol maupun masyarakat,” jelasnya.

“Di beberapa tahun belakangan ini, kita juga melakukan dukungan-dukungan politik kepada si A, si B, dan kandidat-kandidat tertentu. Karena bukan lahir dari sebuah perkawinan politik, maka disitu partai politik ditinggalkan begitu saja,”sambungnya.

Konsep perkawinan politik yang didorong oleh Rudi Timisela, juga bisa dibilang memberikan ruang kontrol bagi parpol untuk selalu mengingatkan para kandidat tidak sebatas pada saat berkompetisi saja. Kontrol itu harus tetap melekat selama kandidat yang diusung memimpin.

“Ruang ini juga meminta tanggung jawab moral parpol. Jika parpol tidak memainkan perannya maka siap-siap mendapat sanksi moral dari rakyat dan konstituennya.

Konsep ini juga membuat kandidat benar-benar bekerja sesuai dengan ide dan gagasan yang dituangkan ke dalam visi dan misi dari hasil kolaborasi kandidat dan parpol,” ungkap Rudi Timisela.

Rudi mengaku, konsep politik yang selama ini dipakai oleh para kandidat hanya menjadikan parpol sebagai kendaraan untuk bisa tampil di pesta demokrasi. Ini menjadikan posisi parpol tak lebih dari sebuah ‘alat’ untuk menyukseskan kandidat dalam kontestasi politik setelahnya, parpol tak bisa lagi berbuat banyak.

Dengan konsep yang didorong, Rudi yakin bisa membuat tenang suasana kebatinan kader partai politik. Yang tahu bagaimana rasanya dan susahnya mengurus partai.

Juga bagaimana agar meyakinkan masyarakat supaya proses-proses demokrasi berlangsung dengan cara-cara yang baik dan benar terutama bagaimana mengurangi proses-proses politik uang.

Rudi Timisela mengatakan, golkar telah berkomitmen untuk segera melakukan komunikasi-komunikasi politik untuk bisa berpartisipasi pada kontenstasi politik tersebut, dimana pendekatan formal sudah dibangun secara organisasi kepartaian dengan parpol lainnya untuk saling kenal, mendalami track record, serta ide dan gagasan.

“Saya pikir ini (bakal calon pasangan,red) mengalir saja tidak menyebutkannya dulu biarkan proses ini berjalan. Saya menghormati semua partai politik, kami menunggu saja kalau kemudian partai politik membuka pendaftaran kita akan mendaftar,” katanya.

Diketahui, golkar meraih 4 kursi di DPRD kabupaten Manokwari saat pileg 17 April 2019 lalu. Dari hasil tersebut, tentu parpol berlambang pohon beringin ini harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten Manokwari periode 2020-2025.

Rudi Timisela menambahkan, golkar belajar betul bagaimana soal komunikasi politik yang dibangun di penghujung waktu akhirnya membuat parpol ‘tak berdaya’. Ini terlihat pada pilkada lalu, dimana golkar tidak bisa mengusung pasangan calon.

“Saya juga apresiasi ketua DPD Golkar kabupaten Manokwari Bung Dadi Narwawan karena berhasil melakukan komunikasi-komunikasi politik. Ini membantu kami golkar dan biar dinamika ini berjalan. Lobi-lobi politik akan terus dikerjakan,” pungkasnya. (RBM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.