BAHAYA LATEN PERJUDIAN

Oleh Luqmanul Hakim Sudahnan, Lc., M.A.

Di antara kewajiban seorang muslim adalah memperhatikan kehalalan rezeki dan nafkah untuk dirinya dan keluarganya, ini merupakan perintah Ilahi di dalam Al-Qur’an kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu (QS. Al-Baqarah ayat 172).
Di dalam ayat lain, Allah ‘Azza wajalla juga berfirman:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Terjemahnya: Dan makanlah dari apa yang Allah berikan kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah ayat 88).
Sesungguhnya mencari rezeki yang halal dan nafkah yang baik merupakan jalan orang-orang yang bertakwa kepada Allah, bahkan hal tersebut adalah jalan para Nabi dan para Rasul, simaklah firman Allah ‘Azza wajalla di dalam Al-Qur’an:

يَا أيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Terjemahnya,”Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal saleh. (QS. Al-Mukminun ayat 51).

Islam sangat memperhatikan rezeki dan penghasilan seorang hamba, sebab darah dan daging tumbuh dan berkembang dari makanan yang dikonsumsi seseorang, jika rezeki dan penghasilannya baik dan halal, maka akan baik pula dampaknya bagi kesalihan dan kebahagiaannya di akhirat seseorang. Namun jika rezeki dan penghasilannya haram, maka hal itu akan berdampak buruk pula bagi kehidupannya di akhirat, dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ وَدَمٌ نَبَتَا عَلَى سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Artinya: Tidak masuk ke dalam surga daging dan darah yang tumbuh dari makanan haram, maka ia lebih berhak untuk masuk ke dalam neraka. (HR. Ibnu Hibban).

Di antara pekerjaan haram yang banyak digandrungi oleh masyarakat, baik yang masih di bangku sekolah, maupun para orang tua adalah perjudian. Sangat banyak faktor yang menyebabkan maraknya perjudian di tengah masyarakat, diantaranya adalah karena sebagian perjudian terselubung, seperti perjudian di game-game ataupun di aplikasi investasi, sehingga banyak masyarakat yang tertipu.

Demikian juga karena perjudian menjanjikan keuntungan yang sangat fantastis dengan tidak banyak mengeluarkan tenaga, sehingga banyak diantara masyarakat yang tergiur dengan keuntungan tersebut, sehingga mereka terjebak ke dalam angan-angan palsu, yaitu berupa terwujudnya janji keuntungan yang sangat besar, faktor inilah yang menyebabkan seseorang senantiasa penasaran bahkan kecanduan, sehingga terjerembab ke dalam kubangan perjudian sehingga sulit untuk kembali.

Lihat juga  Saat Bencana Menerjang

Allah Azza wajalla mengharamkan perjudian, maka harta yang dihasilkan dari aktifitas tersebut haram juga. Allah mengharamkan perjudian lewat firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. (QS. Al-Maidah ayat 90).

Sejatinya ayat ini cukup menjadi peringatan bagi orang-orang yang beriman terkait dengan aktifitas perjudian, hendaknya kaum muslimin menjauhi dan meninggalkannya, sebab Allah Azza wajalla menggandengkan perjudian dengan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk; yaitu minuman keras, berkurban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, semua perbuatan ini merupakan bagian dari dosa-dosa besar, bahkan sebagiannya merupakan bagian dari kesyirikan. Kemudian ditegaskan dalam ayat diatas keburukan perjudian, dengan memberinya predikat sebagai perbuatan keji dan perbuatan setan, maka cukuplah ini semua sebagai peringatan keras dari Allah terkait perjudian bagi seluruh kaum muslimin.

Dan tidak ketinggalan pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan umatnya dari perjudian ini, beliau bersabda,

إِنَّ الله حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَاْلكُوْبَةَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Terjemahnya: Sesungguhnya Allah mengharamkan khamr (minuman keras), perjudian, drum (sejenis alat musik), dan setiap yang memabukkan hukumnya haram. (HR. Ahmad).
Hakikat dari judi adalah bertaruh yang berpotensi untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian tanpa kompensasi, sehingga bisa meraih atau kehilangan harta dengan sangat mudah.

Allah mengharamkan perjudian karena memiliki dampak buruk yang sangat besar, dintaranya:
Menimbulkan permusuhan dan pertikaian di tengah masyarakat dan menjauhkan pelakunya dari Allah Azza wajalla, hal ini sebagaimana dipaparkan oleh Allah Azza wajalla dalam firmannya,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Terjemahnya: Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantara (meminum) khamr dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat, maka jauhlah dan berhentinya dari perbuatan tersebut. (QS. Al-Maidah ayat 91)

Lihat juga  Dipersoalkan Pertemuan “Salam Manis”, MUI Manokwari Beri Klarifikasi

Dapat menimbulkan terjadi kejahatan di tengah masyarakat, seperti pencurian, perampokan dan lain sebagainya.

Hal ini disebabkan karena judi membutuhkan modal untuk bertaruh, jika modal untuk bertaruh habis, maka orang yang sudah terbiasa berjudi dan kecanduan akan mencari modal dengan segala cara, bahkan dengan cara mencuri dan merampok, dan hal ini dapat merusak kestabilan masyarakat dan keamanannya.

Menimbulkan percekcokan antara suami istri, terbengkalainya keluarga bahkan dapat menimbulkan perceraian. Sebab uang yang seharusnya dipakai untuk memberi nafkah keluarga dan biaya pendidikan anak-anak mereka terpakai untuk modal berjudi, sehingga uang untuk nafkah keluarga tidak cukup atau bahkan habis di meja judi.

Mengakibatkan sifat malas bekerja, karena terjebak dengan angan-angan tinggi, senantiasa berharap untuk memenangkan taruhan sehingga mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat, angan-angan dan harapan inilah yang menjadikan pemalas.

Semoga Allah subhana wata’ala menjaga kaum muslimin dari dosa besar perjudian ini dan memberikan hidayah kepada mereka yang masih melakukan perbuatan ini…

Allah Azza wajalla telah mewanti-wanti kita agar tidak mengikuti langkah-langkah setan, yang diantaranya ialah perjudian tersebut, karena ada orang yang awalnya hanya mencoba sekali, kemudian menang lalu mencoba lagi dan ketagihan serta kecanduan. Sebagaimana dalam firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَـٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Terjemahnya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah ayat 168).

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *