BEGINILAH KITA MEMULIAKAN BULAN RAJAB

Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Salah satu bentuk karunia mulia Allah Ta’ala  kepada kita, hamba-hambaNya, adalah dengan dihadirkannya musim-musim kebaikan dalam hari-hari kita. Musim-musim kebaikan itu menjadi momentum dilipatgandakannya kebaikan sang hamba. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إنَّ لِربِّكم عزَّ وجلَّ في أيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوْا لهَا، لَعَلَّ أَحَدَكُمْ أنْ تُصِيْبَهُ مِنْهَا نَفْحَةٌ لَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا

 

Artinya: “Sesungguhnya Rabb kalian Azza wa Jalla itu memiliki semerbak-semerbak pada hari-hari di tahun kalian, maka kejarlah (semerbak-semerbak) itu, semoga saja seorang dari kalian bisa mendapat satu semerbak yang kelak membuatnya tidak akan sengsara selama-lamanya.”  (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath)

 

Dan salah satu musim kebaikan yang hari-hari ini hadir di tengah kita adalah datangnya bulan Rajab. Bulan Rajab adalah salah satu dari 4 bulan yang ditetapkan sebagai “bulan-bulan Haram”, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab itu sendiri. “Bulan-bulan Haram” adalah bulan-bulan yang dimuliakan sehingga kaum muslimin secara khusus dilarang untuk melakukan kezhaliman dan peperangan di dalamnya.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

 

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian sendiri…”  (QS. Al-Taubah ayat 36)

 

Karena itu, menjadi salah satu kewajiban utama kita dengan hadirnya bulan Rajab ini adalah melakukan segala bentuk upaya untuk mengagungkan dan memuliakan bulan Rajab ini. Pertanyaannya sekarang: bagaimana cara yang benar mengagungkan dan memuliakan bulan Rajab ini?

 

Cara pertama mengagungkan bulan Rajab ini adalah dengan mengingatkan diri untuk tidak menggampang-gampangkan berbuat dosa dan maksiat di bulan ini. Mengapa? Karena berbuat maksiat di bulan Rajab ini tidak sama dengan berbuat maksiat di luar bulan-bulan Haram. Bermaksiat di bulan Haram seperti bulan Rajab ini nilai dosanya lebih besar dari bulan-bulan lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

 

Artinya: “Mereka bertanya padamu (wahai Muhammad) tentang berperang di bulan Haram, maka katakanlah: ‘Berperang di dalamnya adalah sebuah dosa yang besar…” (QS. Al-Baqarah ayat 217)

 

Maka melakukan dosa, maksiat dan kezhaliman di bulan Rajab, itu sama seperti melakukan dosa dan kezhaliman di Negeri Haram, yang Allah Ta’ala katakan tentangnya:

 

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

 

Artinya: “Dan siapa saja yang ingin melakukan penyimpangan di dalam (Negeri Haram) secara zhalim, niscaya Kami membuatnya merasakan sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj ayat 25)

Lihat juga  Gereja Sidang Jemaat Allah Getsemani Amban Rayakan HUT ke-27

 

Al-Imam Qatadah rahimahuLlah menjelaskan:

 

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الشَّهْرِ الحَرامِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةٍ وَوِزْرٍ مِنْ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاه ، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيمًا ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا شَاءَ . . . فَعَظِّمُوْا مَا عَظَّمَ اللَّهُ…

 

“Sesungguhnya berbuat zhalim di bulan Haram itu kesalahan dan dosanya jauh lebih besar daripada melakukan kezhaliman di bulan lainnya, meskipun kezhaliman itu bagaimanapun juga adalah sebuah dosa besar, namun Allah berhak mengagungkan apa saja yang dikehendakiNya…Karena itu, agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah…” (Tafsir al-Durr al-Mantsur  4/139-140)

 

Karena itu, mengagungkan apa yang diagungkan Allah Ta’ala adalah sebuah bukti nyata ketakwaan dan rasa takut kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

 

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

 

Artinya: “Demikianlah, dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sungguh itu merupakan (bentuk) ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj ayat 32).

 

Karena itu, kaum muslimin yang dimuliakan Allah, melakukan dosa, maksiat dan kezhaliman di setiap waktu adalah sebuah kegelapan hidup, namun kegelapannnya semakin pekat dan kelam jika dilakukan di bulan-bulan Haram, seperti di bulan Rajab ini. Karena selain berbuat dosa dan maksiat, itu juga berarti kita meremehkan momentum-momentum yang diagungkan dan dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla.

 

Maka di bulan Rajab yang mulia ini, menjauhlah sejauh-jauhnya dari syirik, durhaka pada orang tua, memakan hak orang lain secara batil, mencemarkan nama baik dan memfitnah sesama muslim, serta dosa-dosa lainnya.

 

Lalu yang kedua, kaum muslimin yang dimuliakan Allah, jika kegelapan dosa dan maksiat diperbesar oleh Allah Ta’ala di bulan Rajab ini, maka nilai kebaikan dan amal shalih pun juga diperbesar dan dilipatgandakan nilainya oleh Allah Ta’ala pada bulan Haram ini. Memperbanyak amal shalih dan kebaikan, meningkatkan kualitas dan kuantitasnya di bulan Rajab ini akan memberikan nilai tambah yang besar dalam catatan amal kita, insya Allah, dibandingkan bulan-bulan lainnya di luar bulan Haram.

 

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

 

وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَالْأَجْرُ أَعْظَمُ

 

“…Dan (Allah) menetapkan berbuat dosa di dalam (bulan-bulan Haram) itu sangat besar (nilai dosanya), dan (menetapkan) amal shalih serta pahalanya (juga) lebih besar (dari bulan-bulan lainnya).”

 

Maka di bulan Rajab, perbaikilah kualitas ibadah-ibadah fardhu kita, perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah kita, infakkan harta kita di jalan Allah, jagalah hubungan kita dengan orang tua dan kerabat, serta perbanyaklah dzikir mengingat Allah Ta’ala dan amal-amal shalih yang selama ini kita lalaikan; karena ini bukan bulan biasa. Ini adalah bulan Rajab yang dimuliakan dan diagungkan Allah Azza wa Jalla.

 

Lihat juga  Perlakuan Terhadap Perempuan

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang cerdas dan bijak dalam memanfaatkan momentum-momentum kebaikan yang telah Allah siapkan untuk kita, agar kelak kita dapat memiliki bekal pulang yang cukup jika saatnya tiba untuk memenuhi panggilan Allah Ta’ala.

 

Sebagai catatan akhir tentang bulan Rajab, di tengah semangat kita untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih di bulan Rajab ini, kita harus memastikan bahwa yang kita lakukan itu adalah hal-hal yang memang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

 

Karena itu, harus diingat bahwa tidak ada ibadah khusus dan spesifik untuk bulan Rajab ini. Tidak ada shalat tertentu misalnya yang hanya spesifik dilakukan di bulan Rajab ini. Tidak ada puasa khusus dan spesifik yang hanya dilakukan pada bulan Rajab ini. Kita hanya melakukan ibadah dan amal shalih yang selama ini kita lakukan di bulan-bulan lain, tetapi dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik, tanpa mengada-ada yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan:

 

لَمْ يَرِدْ فِي فَضْلِ شَهْرِ رَجَبَ، وَلَا فِي صِيَامِهِ، وَلَا فِي صِيَامِ شَيْءٍ مِنْهُ مُعَيَّنٌ، وَلَا فِي قِيَامِ لَيْلَةٍ مَخْصُوصَةٍ فِيهِ -حَدِيثٌ صَحِيحٌ يَصْلُحُ لِلْحُجَّةِ

 

Artinya: “Tidak ada hadits shahih yang layak menjadi landasan (hujjah) terkait keutamaan bulan Rajab (selain bahwa ia adalah bulan Haram-penj), tidak pula tentang berpuasa di dalamnya, tidak pula terkait berpuasa secara khusus (pada hari) tertentu di dalamnya, tidak pula terkait (keutamaan) qiyamullai pada malam tertentu di dalamnya.”

 

Bahkan secara khusus Imam al-Nawawi rahimahullah mengoreksi kebiasaan sebagian orang mengerjakan apa yang disebut sebagai “Shalat Ragha’ib” di bulan Rajab:

 

صَلَاةُ الرَّغَائِبِ بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ مُنْكرَةٌ أَشَدَّ إِنْكَارٍ، مُشْتَمِلَةٌ عَلَى مُنْكَرَاتٍ، فَيَتَعَيَّنُ تَرْكُهَا وَالْإِعْرَاضُ عَنْهَا، وَإِنْكَارُهَا عَلَى فَاعِلِهَا.

 

Artinya: “Shalat Raghaib itu adalah sebuah bid’ah yang buruk dan mungkar semungkar-mungkarnya, mengandung sejumlah kemugkaran, sehingga harus ditinggalkan dan dijauhi, serta diingkari pelakunya.”

 

Demikian sedikit pesan dan nasihat terkait kehadiran bulan Rajab ini, semoga Allah Ta’ala selalu mengaruniakan momentum kebaikan dalam kehidupan kita semua…

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *