BEKAL TERBAIK MENYONGSONG RAMADAN

Oleh Muhammad Istiqamah, Lc., M.Ag.

Ramadan tak lama lagi menyapa kita. Rasulullah ﷺ senantiasa memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya akan dekatnya musim berlimpah kebaikan ini. Beliau bersabda:

 

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

 

Artinya: Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385)

 

Salafus saleh, para qudwah kita dari generasi-generasi terbaik, merutinkan munajat mereka agar diperjumpakan dengan bulan Ramadan. Diantara doa mereka sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hanbali:

 

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً

 

Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif al Ma’arif, hlm. 264).

 

Salah satu problem utama bagi sebagian orang ialah karena tidak mendapatkan taufik dari Allah untuk memaksimalkan Ibadah di bulan suci Ramadan. Beberapa perkara yang menyebabkan seorang hamba terhalang dari kebaikan-kebaikan Ramadan diantaranya:

 

Tidak memperbarui taubatan nasuha sebelum Ramadan

 

Taubat secara umum disyariatkan di sepanjang waktu. Seorang hamba yang bertakwa dikenali dengan pertaubatan yang dilakukannya selepas ketergelincirannya dalam kubangan kemaksiatan, Allah berfirman:

 

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

 

Terjemahnya: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran ayat 135).

 

Dosa-dosa yang dilakukan adalah ibarat beban berat bagi seseorang yang sedang berjalan menuju Allah. Semakin berat beban yang ia bawa maka semakin memperlambat langkahnya. Karena itu dosa-dosa ini harus dibuang dengan bertaubat kepada Allah, agar langkahnya ringan untuk melakukan kebaikan-kebaikan, ketaatan-ketaatan dan amalan-amalan shaleh.

Pertaubatan yang tulus kepada Allah, dibarengi penyesalan serta azam yang kuat untuk tidak lagi mengulangi dosa tersebut merupakan diantara ciri taubat yang nasuha. Orang yang gemar bertaubat tidak hanya memperoleh ampunan dari Ar-Rahman, namun ia juga menyandang gelar sebagai hamba-hamba terkasih dari Sang Maha Pengasih. Allah berfirman:

 

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

 

Terjemahnya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah ayat 222).

 

Oleh karenanya, seorang hamba yang bertekad mengoptimalkan Ramadannya hendaknya menyucikan jiwanya dengan memperbanyak taubat dan istigfar, sebab merekalah orang yang akan memperoleh petunjuk dan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.

 

Tidak memasang target untuk Ramadannya

 

Seorang muslim sejati hendaknya menyadari dan menanamkan dalam sanubarinya, bahwa momentum Ramadan ialah sebaik-baik momen yang Allah karuniakan kepada hamba-hambanya untuk meraup keuntungan dari perdagangan mereka kepada Allah. Perdagangan kita yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:

Lihat juga  Zainut Tauhid: Kantor Baru MUI, Ikhtiar Tingkatkan Pelayanan dan Pengabdian di Papua Barat

 

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ

 

Terjemahnya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At Taubah ayat 111).

 

Lantas perdagangan apa lagi yang lebih menguntungkan dari ini semua? Hendaknya kita berbahagia tatkala memperoleh kesempatan emas tersebut. Di penghujung ayat Allah menegakan:

 

فَٱسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

 

Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah ayat 111).

 

Seorang pedagang dengan semua ilmu marketing yang dimilikinya tentu akan memasang target-target penjualan berikut keuntungan yang diperolehnya. Setelah memasang target, mereka lantas menyusun strategi perdagangan mereka, menempuh berbagai langkah taktis guna mencapai apa yang mereka telah targetkan.

Jikalau saja perdagangan duniawi dimanajemen dengan sedemikian apik, maka bagaimana mungkin seorang hamba yang hendak “membeli Surga” dari Allah azza wa Jalla lantas tidak memaksimalkan peluang dan kesempatan emas berupa momentum Ramadan seperti ini??

Maka jika kita ingin mencapai hasil yang maksimal, perlu target-target besar untuk Ramadan kita, dan semua itu dimulai dengan memasang niat yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

 

إِنَّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ. وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ له سَيِّئَةً وَاحِدَةً

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya,  maka Allah akan catat baginya dengan 10 kebaikan hingga 700 kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya. Sebaliknya, apabila dia berniat untuk mengerjakan amalan kejelekan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan apabila dia berniat untuk kejelekan dan mengerjakannya, maka Allah akan mencatat baginya satu kejelekan saja.” (HR.  Al Bukhari dan Muslim).

 

Lihatlah jamaah sekalian, betapa luasnya nikmat dan karunia dari Allah bagi hamba-Nya, manakala mereka baru meniatkan kebaikan dan belum mewujudkannya, namun malaikat telah mencatatkan baginya satu kebaikan sempurna atas niat baik yang terpatri dari seorang hamba.

Anas bin Nadhar radhiyallahu ‘anhu ketika terluput dari Perang Badar beliau memasang target dan berjanji kepada Allah, “Jika Allah masih mempertemukan aku dalam peperangan melawan kaum musyrikin niscaya Allah akan melihat apa yang aku perbuat.” Dan ketika tiba perang uhud beliau berperang dengan gagah berani hingga kesyahidan menjemputnya. Lalu kemudian turun firman Allah:

 

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَـٰهَدُوا ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

 

Terjemahnya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya) (QS. Al Ahzab ayat 23).

Lihat juga  Badan Amil Zakat RI salurkan belasan sapi kurban di wilayah Papua Barat

 

Maka mari kita memasang janji kita kepada Allah, “Jika Allah masih mempertemukan aku dengan bulan Ramadhan maka niscaya Allah akan melihat apa yang aku perbuat.” Lalu ketika kita merealisasikannya dengan baik, semoga kita tercatat di antara kaum mukminin yang jujur janji mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Lalu kemudian, di antara hal yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan adalah yang ketiga,

Terbuai dengan hal-hal yang melalaikan.

Di era digital saat ini tidak bisa disangsikan banyak manusia yang tenggelam tatkala berselancar di dunia maya. Mereka menghabiskan siang dan malam mereka dalam kesia-siaan bahkan terjerembab dalam kubangan kemaksiatan. Waktu yang berharga di bulan Ramadan tidak semestinya terbuang sia-sia untuk hal yang tidak mendatangkan manfaat dunia apalagi akhirat kita. Rasulullah bersabda:

 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

 

Artinya: “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2318).

Di sisi lain, sebagian kaum muslimin menghabiskan sebagian besar siangnya untuk tidur, dengan asumsi bahwa tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah. Ini merupakan sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan. Syaikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin ketika ditanyakan tentang seseorang yang tertidur sepanjang siang di Ramadan, beliau mengatakan:

Adapun jika seseorang tertidur sepanjang siang di Ramadan namun tetap bangun melaksanakan salat wajib, maka ia tidaklah berdosa, namun sangat disayangkan dia melewatkan kebaikan yang amat banyak. Karena sepatutnya bagi seseorang yang berpuasa menyibukkan diri mereka dengan salat, zikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an agar mereka mengumpulkan beraneka kebaikan pada ibadah puasa mereka.

Terjebak pada hal-hal yang melalaikan juga merupakan tanda bahwa seseorang tidak membuat target yang jelas serta niat yang tulus untuk memperoleh kebaikan Ramadhan, hal ini bisa jadi juga disebabkan oleh maksiat serta dosa yang masih saja dilakukan dan tidak memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

Terjebak pada hal-hal yang melalaikan juga merupakan tanda bahwa Ramadhan baginya adalah sesuatu yang sepele dan biasa-biasa saja, sehingga tidak membuat hatinya bergerak dan bergelora untuk menyambutnya dengan antusias dan penuh persiapan.

Maka semoga Allah memberikan kita taufik-Nya untuk menyambut bulan ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Dan menerima amalan-amalan kita padanya.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *