BERLINDUNG DARI HATI YANG TIDAK KHUSYUK

Oleh : Rachmat Badani, Lc., M.A.

Di dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari hati yang tidak khusyuk. Mengapa? karena hati yang khusyuk memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam, sehingga orang yang kehilangan hal ini maka sama saja ia telah kehilangan salah satu kemuliaan tertinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Lafaz khusyuk disebutkan berulang kali di dalam Alquran dan ia datang dengan beberapa makna, yaitu: khusyuk bermakna kehinaan, tenangnya anggota tubuh, takut, tawadhu, dan kering. Kelima makna ini disebutkan di dalam Alquran dengan menggunakan lafaz khusyuk.

Pertama, khusyuk bermakna kehinaan yaitu firman Allah :
يَوۡمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسا ١٠٨
Terjemahnya: Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (malaikat) tanpa berbelok-belok (membantah), dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. (QS. Taha ayat 108).

Juga di dalam firman-Nya :
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَل لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعا مُّتَصَدِّعا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٢١
Terjemahnya: Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir. (QS. Al Hasyr ayat 21).

Kedua, khusyuk bermakna tenangnya anggota tubuh, yaitu dalam firman Allah :
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
Terjemahnya: Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk di dalam salatnya. (QS. Al Mu’minun ayat 1-2).
Makna khusyuk dalam salat adalah tenangnya anggota tubuh sebagaimana telah dijelaskan ulama salaf seperti perkataan Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhuma:
كَانُوْا إِذَا قَامُوْا فِيْ الصَّلَاةِ اَقْبَلُوْا عَلَى صَلَاتِهِمْ وَخَفَضُوْا أَبْصَارَهُمْ إِلَى مَوْضِعِ سُجُوْدِهِمْ وَعَلِمُوْا أَنَّ اللهَ يُقْبِلُ عَلَيْهِمْ فَلَا يَلْتَفِتُوْنَ يَمِيْنًا وَلَا شِمَالاً.
Artinya: Dahulu para sahabat apabila mereka mendirikan ibadah salat maka mereka menghadapkan (diri mereka) kepada salatnya dan menundukkan pandangannya ke tempat sujud, serta mereka sadar bahwa Allah juga datang kepada mereka maka mereka tidak menoleh ke kanan atau ke kiri.

Ketiga, khusyuk bermakna takut, sebagaimana dalam firman Allah:
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبا وَرَهَباۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ ٩٠
Terjemahnya: Maka Kami kabulkan (doa Zakaria), dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. Al-Anbiya ayat 90).

Maknanya adalah mereka para Nabi Allah merupakan orang-orang yang senantiasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di ayat lainnya Allah berfirman:
وَتَرَىٰهُمۡ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرۡفٍ خَفِيّۗ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ فِي عَذَاب مُّقِيم ٤٥
Terjemahnya: Dan kamu akan melihat mereka (orang-orang zalim) di hadapkan ke neraka dalam keadaan tertunduk karena merasa hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (QS. Al-Syura ayat 45)

Keempat, khusyuk bermakna tawadhu yaitu dalam firman Allah:
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
Terjemahnya: Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS. Al-Baqarah ayat 45).

Juga dalam firman-Nya:
وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِايَٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنا قَلِيلًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ١٩٩
Terjemahnya: Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati (tawadhu) kepada Allah dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran ayat 199).

Kelima, khusyuk bermakna kering yaitu firman Allah dalam:
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَة فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡۚ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء قَدِيرٌ ٣٩
Terjemahnya: Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan tumbuh subur. Sesungguhnya Allah yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Fusshilat ayat 39).

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah khusyuk adalah ketundukan hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala disertai kepasrahan dan kehinaan seorang hamba. Ketundukan hati yang sifatnya mutlak dan mewariskan ketundukan anggota tubuh terhadap kebenaran yang Allah turunkan, sehingga seorang yang khusyuk apabila diberitakan kepadanya mengenai kebenaran niscaya ia segera mempercayai dan menerimanya.

Lihat juga  BUAH MANIS HUSNUZHAN DAN OPTIMISME

Allah ta’ala berfirman:
۞أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِير مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦
Terjemahnya: Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid ayat 16).

Ibnu Hajar rahimahullah menukil dari beberapa ulama bahwa khusyuk terkadang berwujud dalam amalan hati seperti rasa takut, dan di waktu lain berwujud dalam amalan tubuh seperti ketenangan anggota tubuh, sedangkan sebagian ulama lainnya menganggap bahwa khusyuk yang sebenarnya apabila amalan hati dan tubuh dapat dilakukan bersama-sama.

Khusyuk memiliki kedudukan yang tinggi di dalam ajaran Islam. Salah satu kewajiban iman seorang muslim adalah khusyuk kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga siapa yang kehilangan sifat khusyuk ini maka ia telah kehilangan salah satu kewajiban imannya kepada Allah. Khusyuk juga merupakan salah satu kewajiban di dalam ibadah salat.

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mengatakan:
أَوَّلُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ الْخُشُوعُ، وَآخِرُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ.
Artinya: Hal yang paling pertama hilang dari agama kalian adalah sifat khusyuk, dan hal yang paling terakhir hilang dari agama kalian adalah ibadah salat.

Atsar ini hendak menjelaskan besarnya urgensi khusyuk di dalam kehidupan seseorang, dan bahwa ia adalah perkara yang amat berat untuk dilakukan. Karena itu tatkala Allah ‘azza wa jalla melihat lambatnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhias dengan sifat khusyuk ini maka Allah memperingatkan mereka dengan firman-Nya:
أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِير مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦
Terjemahnya: Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.

Ulama bersepakat bahwa khusyuk merupakan amalan hati sedangkan buahnya adalah amalan anggota tubuh. Semakin bersih hati seseorang, maka semakin mudah pula ia memperoleh kekhusyukan kepada Allah. Oleh karena hati ibarat raja bagi anggota tubuhnya, apabila hati baik niscaya anggota yang lainnya akan ikut baik dan sebaliknya apabila hati buruk niscaya anggota yang lainnya akan ikut buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
Artinya: Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati. (Muttafaq Alaihi)
Di dalam Alquran, Allah menyebutkan lafaz hati dalam beberapa kondisi. Terkadang Allah memuji hati orang-orang yang beriman, dan di lain waktu Allah mencela hati orang-orang kafir. Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati manusia memiliki tiga kondsi.

Pertama, hati yang sehat dan hidup, kedua, hati yang mati, dan ketiga, hati yang sakit.

Pertama, hati yang sehat dan hidup, yaitu hati yang diisi dan dicahayai oleh cahaya iman, tabir-tabir syahwat telah tersibak darinya, gelapnya kezaliman telah pergi darinya, karena di dalam hati tersebut terdapat sinar iman, apabila was-was mendekat kepadanya maka ia akan terbakar oleh sinar iman tersebut. Hati yang sehat dan hidup ibarat langit yang dijaga oleh bintang-bintang, jika syaithan berusaha mendekat kepadanya niscaya langit akan melemparinya dengan bintang-bintang tersebut untuk membakarnya.

Disebut sebagai hati yang sehat dan hidup karena sifat selamat dan sehat telah menyatu padanya. Ia sehat dari berbagai macam penyakit hati seperti penyakit iri, takabbur, riya, sum’ah dan sebagainya. Dan ia juga hidup karena senantiasa mengingat Allah yang Maha Hidup serta taat kepada-Nya Yang Maha Kuasa.

Kedua, hati yang telah tersinari oleh cahaya iman namun di saat yang sama terdapat pula padanya bayang-bayang syahwat dan hempasan hawa nafsu. Maka syaithan senantiasa datang memberikan godaan dan was-was kepadanya, sehingga pertarungan antara kebenaran dan kebatilan selalu berkobar di dalam hati yang sakit.

Apabila kebenaran menang di satu waktu, maka kebatilan akan pergi menjauh dari hati tersebut sehingga hati itu menjadi sehat dan hidup. Namun sebaliknya bila kebatilan menang di waktu lainnya maka kebenaran akan pergi darinya sehingga hati itu menjadi sakit. Allah ta’ala berfirman:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩ فِي قُلُوبِهِم مَّرَض فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠
Terjemahnya: Dan di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah ayat 8-10).

Lihat juga  TUNJUKKAN KESABARAN!

Ketiga, hati yang kosong dari keimanan dan seluruh kebaikan, maka ini adalah hati yang mati dan syaithan telah berhenti untuk memberikan godaan kepadanya, karena syaithan telah berhasil menjadikannya sebagai rumah dan tempat tinggalnya, ia sanggup memerintahnya sesuai keinginannya dan telah menguasainya secara penuh.

Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki cahaya iman dan kehidupan di dalamnya, sehingga ia tidak mengenal Tuhannya, ia tidak beribadah, tidak menjalankan perintah, dan menjauhi larangan-Nya. Ia tidak mencintai apa yang dicintai Allah, tidak membenci apa yang dibenci Allah, namun ia senantiasa berdiri bersama syahwat dan hawa nafsunya. Maka apabila ia mencintai, membenci, memberi, semuanya dilakukan untuk hawa nafsunya, dan ia enggan menerima masukan maupun nasihat.

Demikian keadaan hati yang mati yang disebutkan sifat-sifatnya oleh Allah di dalam Alquran. Seperti dalam firman Allah:
تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآئِهَاۚ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ مِن قَبۡلُۚ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٠١
Terjemahnya: Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah dustakan. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang kafir. (QS. Al-A’raf ayat 101).

Hati yang tidak khusyuk adalah salah satu dari sifat hati yang mati, ia enggan tunduk dan pasrah kepada Allah bahkan sebaliknya ia menjauh dari Allah dan dari peringatan-peringatan-Nya, sehingga nasihat apapun tidak akan memberikan pengaruh kepadanya. Sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk kepada Allah ta’ala. Al-Thibi rahimahullah menjelaskan isti’adzah beliau dengan mengatakan:
إِنَّ القَلْبَ إِنَّمَا خُلِقَ لِأَنْ يَتَخَشَّعَ لِبَارِئِهِ، وَيَنْشَرِحَ لِذَلِكَ الصَّدْرُ، وَيُقْذَفُ النُّوْرُ فِيْهِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ كَانَ قَاسِياً، فَيَجِبُ أَنْ يُسْتَعَاذَ مِنْهُ، قَالَ تَعَالَى: فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ.
Artinya: Sesungguhnya hati diciptakan untuk khusyuk kepada Penciptanya, berbahagia karenaya, dan memenuhinya dengan cahaya iman. Apabila sebuah hati tidak demikian maka ia adalah hati yang keras maka wajib seseorang berlindung (kepada Allah) darinya, Allah ta’ala berfirman: “Maka kecelakaanlah besarlah bagi mereka yang telah mengeras hatinya.”

Allah juga berfirman :
فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٤٣
Terjemahnya: Maka mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri ketika siksaan Kami datang kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-An’am ayat 43).

Syaikh Ubaidullah Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk yaitu hati yang tidak takut kepada Allah atau tidak khusyuk tatkala mendengarkan nama Allah dan firman-Nya dibacakan, hati yang seperti ini adalah hati yang keras membatu karena ia sangat jauh dari Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah melindungi kita semua dari seluruh penyakit-penyakit hati dan mengaruniakan kita hati yang tunduk khusyuk kepada-Nya hingga kita berjumpa dengan-Nya kelak pada hari kemudian.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Di antara cara yang paling efektif untuk menjaga hati kita dari hilangnya rasa khusyuk adalah dengan berlindung kepada Allah darinya dan banyak berdoa agar Dia mengaruniakan kepada kita hati yang tunduk dan patuh. Demikian halnya dengan membaca al-Quran yang akan melahirkan kekhusyukan di dalam hati kita, selama kita yakin dengan kemukjizatan al-Quran, maka Allah akan mewariskan kekhusyukan hati tanpa kita sadari.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *