CATATAN KELAM FIR’AUN MUSUH ALLAH

Oleh : Muhammad Harsya Bachtiar, Lc., M.A.

Disampaikan pada Khutbah JUMAT, 10 Muharram 1445 H / 28 Juli 2023 M

Hari ini kita sedang berada di hari yang mulia yaitu hari 10 Muharram. Di dalam Islam salah satu ajaran Nabi yang berkaitan dengan 10 Muharram adalah disunnahkannya berpuasa yang dikenal dengan sebutan puasa Asyura’.

Keutamaan puasa Asyura’ begitu besar yaitu dapat menghapuskan satu tahun dosa yang lalu. Nabi saw bersabda ketika ditanya akan kemuliaan puasa Asyura’:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Saya mengharap kepada Allah agar menghapuskan dosa yang dilakukan satu tahun sebelumnya”. HR.Muslim.

Semoga semua yang berpuasa hari ini amalan ibadahnya diterima oleh Allah dan menggapai pahala ampunan dosa satu tahun yang lalu sebagaimana dalam hadis. Aamiin. Doa yang sama kita tujukan bagi yang belum sempat berpuasa karena ada udzur atau hal lainnya. Aamiin.

Hari Asyura’ juga merupakan hari yang menyimpan sejarah besar. Berdasarkan informasi hadis, hari Asyura’ adalah hari dimana Allah swt membinasakan salah satu musuh-Nya yaitu Fir’aun laknatullahi alaihi. Ketika Nabi saw berpuasa Asyura’ di Madinah, Nabi saw mendapati kaum Yahudi juga berpuasa Asyura’.

Lantas ditanyakan kepada mereka alasan berpuasa Asyura’, mereka kaum Yahudi menjawab bahwa ini adalah hari yang agung, hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dan Nabi Musa ‘alaihissalam dari musuh mereka (Fir’aun). Nabi saw menjawab ; “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kisah Fir’aun sungguh begitu banyak kita dapati di dalam Al-Qur’an. Tidak kurang 67 kali nama Fir’aun disebutkan dalam Al-Qur’an yang tersebar di berbagai surat dan ayat.

Lebih dari itu bahkan jasad Fir’aun pun diabadikan Allah hingga saat ini yang masih dapat kita jumpai di museum kuno Mesir. Lalu apa tujuan dari ini semua?

Tidak lain dan tidak bukan sebagai pelajaran bagi kaum yang datang setelahnya agar tidak berbuat yang sama dengan perbuatannya (Fir’aun). Allah berfirman:
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Lihat juga  Edi Budoyo: Saya Harap Jamaah Al Amin Sebarkan Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan

Terjemahnya: Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami. (QS. Yunus ayat 92).

Sudah jelas melalui ayat di atas bahwa Fir’aun dijadikan oleh Allah sebagai manusia paling zalim dan durjana. Kisahnya banyak disebutkan dalam Al-Quran sebagai peringatan bagi manusia agar tidak meniti jalannya.

Fir’aun memang adalah seorang individu yang spesifik yang tidak ada tiruannya, namun sifat-sifatnya adalah sifat-sifat umum yang dapat ditiru oleh banyak orang.

Seorang muslim tidak diperkenankan menjadikan kaum yang binasa sebagai contoh dalam kehidupannya. Muslim sejati hendaklah menjadikan kaum-kaum terbaik sebagai panutannya.

Berikut beberapa sifat Fir’aun yang tidak boleh kita ikuti:

Melampaui Batas. Dalam hal ini Fir’aun sampai-sampai mejadikan dirinya sebagai Tuhan yang maha tinggi. -naudzubillah-. Allah berfirman:
فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

Terjemahnya: Kemudian dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya) (Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS: An-Naziat ayat 23-24).

Perkataan inilah yang kemudian mengundang murka Allah. Allah berfirman:
فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ
Terjemahnya: Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia. (QS.An-Naziat ayat 25).

Berlaku congkak dan sewenang-wenang di atas muka bumi. Allah berfirman:
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ
Terjemahnya: Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi (QS. Al-Qashas ayat 4).

Dan di ayat yang lain Allah berfirman:
وَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّه لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ
Terjemahnya: Dan sungguh, Fir‘aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas. (QS. Yunus ayat 83).

Pembunuh yang bengis. Tatkala penyihir-penyihirnya masuk ke dalam Islam, Fir’aun berkata:
لَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَاُصَلِّبَنَّكُمْ اَجْمَعِيْنَ

Terjemahnya: Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya), kemudian aku akan menyalib kamu semua.” (QS. Al-A’raf ayat 124).

Penipu yang handal. Fir’aun menipu rakyatnya dengan mengatakan bahwa jalan Musa adalah jalan kesesatan dan jalannyalah jalan yang benar dan terpuji. Allah mengisahkan perkataanya:
قَالَ فِرْعَوْنُ مَآ اُرِيْكُمْ اِلَّا مَآ اَرٰى وَمَآ اَهْدِيْكُمْ اِلَّا سَبِيْلَ الرَّشَادِ

Lihat juga  Pesparawi ke 13 Digelar 17 Februari, Dipusatkan di Aula Unipa Manokwari

Terjemahnya: Fir‘aun berkata, “Aku hanya mengemukakan kepadamu, apa yang aku pandang baik; dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (QS. Ghafir ayat 29).

Pemecah belah rakyatnya. Fir’aun menjadikan sebagian rakyatnya sebagai kaum tertindas dan sebagian lainnya sebagai kaum terdekatnya. Allah berfirman:
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ

Terjemahnya:
Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), (QS.Al-Qashas ayat 4).

Demikianlah beberapa sifat tercela Fir’aun yang tidak patut bersemayam dalam diri seorang muslim. semoga bermanfaat.

Demikianlah petikan sejumlah kebiadaban dan catatan kejahatan si musuh Allah, Fir’aun. Dan demikian juga berlaku untuk umat-umat semisalnya, dan sebagai pelajaran bagi umat-umat setelahnya. Allah berfirman:
اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

Terjemahnya: Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. (QS.Al-Qashas: 4).

Demikianlah petikan ibrah dari kisah Fir’aun, semoga menjadi pelajaran berhaga untuk kita semua agar tidak bertingkah seperti mereka kaum-kaum yang durhaka, aamiin…

Sumber : Departemen Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *