FINALIS-FINALIS RAMADAN

 Oleh Alif Jumai Rajab, Lc., M.Ag.

Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Dari nikmat Kesehatan, waktu luang, terlebih lagi dua nikmat yang besar yang Allah tanamkan di dalam hati kita masing-masing yaitu nikmat iman dan islam.

Nikmat-nikmat tersebut akan selalu ada dan bertambah, manakala kita barengi dengan kesyukuran dan juga menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

 

Terjemahnya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari    (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim ayat 7).

 

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarganya, para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan contoh yang baik pada kita.

Hari ini, kita berada di penghujung bulan Ramadan, yang tentunya mungkin masih ada kesempatan hari ini, hari esok, dan beberapa hari kedepannya yang masih bisa untuk kita maksimalkan. Bagaimana harus berpikir mengakhiri bulan Ramadan dengan sebaik mungkin, Karena sesungguhnya yang Allah lihat itu di akhirnya.

 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

 

Artinya: Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya. (HR. Bukhari, no. 6607)

 

Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.

Karena yang dianggap itu adalah akhir segala sesuatunya, maka dari itulah pada kesempatan-kesempatan ini kita berusaha semaksimal mungkin untuk kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Kita berharap mudah-mudahan kita keluar dari bulan Ramadan dengan mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dahulu para Salaf al-Sholeh ketika Ramadan mendekati akhirnya, semakin bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah tanda ahlul istiqomah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama salaf terdahulu, “Ahlul istiqomah itu semakin mendekati akhir semakin bersungguh-sungguh, sedangkan orang yang tidak istiqomah tidaklah demikian.”

 

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah juga pernah berkata:

 

إِنْ لَمْ تُحْسِنُ الاِسْتِقْبَال لَعَلَّكَ تُحْسِنُ الوَدَاع

 

Artinya: “Jika belum bisa menyambutnya (Ramadan) dengan sempurna, maka hendaknya maksimalkan ketika perpisahannya.”

 

Kita ingin menjadi orang-orang yang istiqomah tentunya, yang setelah Ramadan pun kita terus melakukan amal ibadah; berupa membaca Al-Quran, berupa sholat malam, demikian pula puasa dan amal ibadah lainnya yang kita berusaha dan maksimalkan di bulan ini untuk melakukannya.

Sebelum kita mengakhiri Ramadan ini, jangan lupa sebuah kewajiban yang Allah wajibkan kepada umat Islam, yaitu zakat fitrah. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, “Bahwa zakat fitrah itu penyuci untuk orang yang berpuasa dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan dari ucapan-ucapan yang tidak baik.”

Subhanallah, ternyata dengan zakat fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang ia lakukan secara sia-sia, yang tidak ada guna dan manfaatnya. Demikian pula mensucikan dari ucapan tidak baik yang ia ucapkan ketika ia sedang berpuasa.

Lihat juga  HIDUP BAHAGIA DENGAN ITTIBA NABI

Siapa di antara kita ketika sedang berpuasa terus-menerus tak lepas dari ibadah? Tidak mungkin. Pasti ada masa-masa kita bosan, pasti ada masa-masa kita lelah, dan di waktu itulah kita terkadang jatuh kepada perbuatan yang sia-sia.

Maka dengan zakat fitrah itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensucikan orang-orang yang berpuasa tersebut dari perkataan atau perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang tidak layak sebagai kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya, betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah.

Tentunya jamaah sekalian, di bulan Ramadan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menempa dan mendidik kita dengan kesabaran yang penuh, sabar untuk melaksanakan ketaatan, sabar untuk menjauhi kemaksiatan, demikian pula sabar menghadapi lapar dan haus.

Maka ini pendidikan agung yang Allah inginkan dari semua ini agar kita tetap sabar kelak setelah Ramadan di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Taat di dalam salat kita, di dalam puasa sunnah, demikian pula sedekah, dan juga bersabar untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Apabila di bulan Ramadan kita mampu untuk menahan pandangan kita, kita mampu untuk meninggalkan maksiat-maksiat dan syahwat kita, maka sungguh kita berharap kepada Allah agar Allah tetap memberikan kekuatan kepada kita setelah Ramadan nanti untuk meninggalkan maksiat. Maka setelah Ramadan selesai, barulah kita akan merasakan kenikmatan bulan Ramadan.

Di bulan Ramadan ternyata kita bisa meninggalkan maksiat, tapi setelah bulan Ramadan terasa berat meninggalkan maksiat tersebut. Ketika di bulan Ramadan begitu ringan kaki kita untuk menuju ketaatan, tapi setelah Ramadan terkadang gangguan begitu beratnya. Maka keringanan yang didapatkan di luar bulan Ramadan itu hanyalah dirasakan oleh orang-orang yang ketika Ramadan ia gunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umatnya untuk terus menjaga puasa setelah Ramadan, dengan puasa sunnah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

 

Artinya: “Hendaknya engkau berpuasa karena puasa itu ibadah yang tidak ada tandingannya” (HR. Ahmad, An Nasa-i. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i)

 

Setelah Ramadan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan untuk berpuasa 6 hari Syawal dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian puasa 6 hari di bulan Syawal seolah–olah ia berpuasa 1 tahun penuh.” (HR. Muslim).

 

Karena setiap harinya -puasa syawal- dihitung oleh Allah 10 hari. Sedangkan satu bulannya 30 hari, itu ditambah 6 hari maka menjadi 36 hari. Apabila dikalikan dengan 10 maka 360 hari, sama dengan jumlah hari setahun bulan hijriyah.

 

Semoga Allah memudahkan kebaikan untuk kita semua. Aamiin Allahumma amiin.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Lihat juga  Program PBS Berlanjut ke Fakfak, Baznas Salurkan Ratusan Paket Sembako

 

 

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan umat Islam, apabila telah selesai dari berpuasa Ramadhan sebulan penuh, hendaklah mereka banyak bersyukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada mereka Hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Terjemahnya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah ayat 185)

 

Karena sesungguhnya ketika seseorang diberikan oleh Allah kekuatan untuk berpuasa di bulan Ramadhan sebulan penuh, itu hakikatnya ia diberikan hidayah oleh Allah, bahkan nikmat yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba, dan itulah nikmat yang hendaknya kita syukuri, demikian juga bergembira dengannya, Allah Ta’ala berfirman,

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

 

Terjemahnya: “Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya lah hendaklah mereka bergembira, itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan dunia ini“. (QS. Yunus: 58).

 

Allah mengatakan bahwasanya yang paling layak kita bergembira dengannya adalah karunia Allah berupa hidayah dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa kekuatan taufik untuk beramal. Maka Allah mengatakan itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan dunia.

 

Bagi seorang Mukmin, nikmat yang hakiki adalah diberikan kepada dirinya hidayah dan dimasukkan ke dalam surga. Maka dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 

إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلِمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

 

Artinya: “Sesungguhnya orang yang bahagia itu hakikatnyanya siapa yang dijauhkan dari fitnah, dan orang yang sabar menghadapi musibah”. (HR. Abu Dawud)

 

Itulah orang yang bahagia, dijauhkan dia dari fitnah syahwat, fitnah syubhat, fitnah dunia, lalu ia pun diberikan kesabaran menghadapi ujian-ujian yang Allah berikan, ujian yang berupa perintah dan larangan, demikian pula ujian yang berupa musibah yang menghampiri kehidupannya.

Kita memohon kepada Allah agar Allah menerima amal ibadah kita selama di bulan Ramadan ini, agar Allah mengeluarkan kita dari bulan Ramadan ini dalam keadaan Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *