HIDUP BAHAGIA DENGAN ITTIBA NABI

Oleh Rachmat Badani, Lc., M.A

Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benarnya ketakwaan, dengan mengamalkan perintah Allah atas dasar ilmu karena mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan Allah atas dasar ilmu karena takut akan azab-Nya.

Salawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya serta kepada setiap pengikutnya yang konsisten menjalankan syariatnya.

Ittiba’ artinya mengikuti dan mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan meninggalkan apa-apa yang ditinggalkan oleh beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemahnya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab ayat 23).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah timbangan terbesar yang menjadi tolok ukur perbuatan, apapun yang diucapkan seseorang atau yang dia lakukan dalam perbuatannya, tidak akan bernilai sampai perkataan dan perbuatannya ditimbang dengan timbangan terbesar itu.

Apakah Kita salah seorang yang mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah Kita salah satu dari mereka yang menjawab panggilan tersebut? Apakah Kita salah satu dari mereka yang menanggapi peringatannya dan melindungi dirinya dari api Neraka? Sebelum Kita terburu-buru menjawabnya, lihatlah perkataan dan tindakan Kita, apakah sesuai dengan hukum Allah dan apa yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah? Alangkah bahagianya orang-orang yang menaati dan mengikutinya, dan alangkah buruk dan menyesalnya bagi mereka yang durhaka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

Terjemahnya: Dan ingatlah hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul (QS. Al-Furqan ayat 27).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “3 hal, barangsiapa yang memilikinya, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: Bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apa pun…” Bayangkan jamaah sekalian, Rasulullah itu dicintai oleh segala sesuatu, bahkan oleh benda mati seperti batang pohon yang sudah mati yang biasa digunakan oleh Nabi untuk menyampaikan khotbah, dia sujud dan menangis karena kehilangan kekasihnya tatkala tidak lagi menggunakannya sebagai mimbar khutbah.

Lihat juga  Saat Bencana Menerjang

Mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab kebahagiaan, sebagaimana meninggalkannya adalah penyebab kesengsaraan. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kita untuk mentaati-Nya secara mutlak:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Terjemahnya: Dan apa yang diberikan oleh Rasulullah maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS. Al-Hasyr ayat 7)

Bukan hanya sebab kebahagiaan, mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan kunci menuju surga Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Sahih Al-Bukhari dimana Rasulullah bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali mereka yang menolak. Sahabat bertanya: Siapa yang menolak, ya Rasulullah? beliau bersabda: Siapa pun yang menaatiku akan masuk surga, dan siapa pun yang tidak menaatiku, maka dialah yang menolak.”

Berpegang teguh pada sunnah dan mengikutinya juga adalah perlindungan dari kesesatan dan keselamatan dari godaan syaitan yang terkutuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara yang jika kalian menaatinya niscaya kalian tidak akan sesat setelah aku, Kitab Allah dan Sunnahku” [HR. Al-Hakim dan shahih oleh Al- Albani].

Di dalam hadis lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada para sahabatnya: “Saya menasihati kalian untuk bertakwa, mendengarkan dan menaati, bahkan jika seorang budak menjadi pemimpin kalian, dan siapa pun di antara kalian yang hidup akan melihat banyak perselisihan, maka peliharalah Sunnahku dan Sunnah Para Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk setelah aku, gigitlah dengan gigi gerahammu.

Di antara keutamaan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya ialah bahwasanya mengikuti beliau adalah salah satu jalan meraih mahabbatullah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahnya: Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imran ayat 31).

Lihat juga  Kontingen Pesparani Papua Barat Target Emas dan 5 Champion

Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” Nabi Muhammad meraih tangan Umar suatu hari dan Umar berkata: Wahai Rasulullah sungguh, engkau lebih aku cintai dari segalanya kecuali diriku sendiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih dicintai olehmu daripada dirimu sendiri”. Umar lantas berkata kepadanya: Sekarang, demi Allah, engkau (wahai Rasulullah) lebih dicintai olehku daripada diriku sendiri. Rasulullah kemudian bersabda: Sekarang, wahai Umar (barulah engkau merealisasikan cinta sesungguhnya).

Sebaliknya jamaah sekalian, menentang petunjuk Nabi Muhammad adalah kesesatan besar, bayangkan jika seorang pasien tidak setuju dengan dokternya dalam meresepkan obat, orang akan menganggapnya sedang gangguan mental. Atau jika seseorang mengemudikan mobilnya dan tidak menaati rambu lalu lintas dan mengikuti jalan yang berbahaya, dia akan dituduh gila. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak sependapat dengan Rasulullah, padahal kepadanya wahyu diturunkan dan bukan kepada orang lain, beliau telah melihat surga dan neraka, dan berbicara dengan Allah ta’ala dalam peristiwa Mi’raj ke langit ketujuh. Allah ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahnya: “Maka hendaklah orang-orang yang tidak menaati perintah-Nya berhati-hati, jangan sampai mereka mendapat cobaan atau siksa yang pedih menimpa mereka.” (QS. An-Nur ayat 63).

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *