MEMANTASKAN DIRI MENUJU RAMADAN

Oleh : Luqmanul Hakim Sudahnan, Lc., M.A

Diantara anugerah Allah yang teragung bagi hamba-Nyaya adalah hadirnya waktu-waktu yang istimewa, yaitu waktu yang dipenuhi dengan kebaikan Allah ‘Azza wajalla berupa ampunan, rahmat, dan kasih sayang-Nya yang tiada terhingga, yang seyogyanya bagi kita untuk berlomba-lomba demi untuk memperolehnya.

Diantara waktu yang istimewa tersebut adalah bulan Ramadan, ia adalah bulan dilipat gandakannya pahala amalan kebaikan,  bulan penuh ampunan dan rahmat, serta bulan pembebasan dari api Neraka. Bulan ini memiliki satu malam yang tiap detiknya sangat berharga dan mulia, malam tersebut  sangat istimewa sehingga para malaikat turun untuk menyaksikan keagungan malam itu, dia adalah malam Lailatul Kadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Maka pertemuan seorang hamba dengan bulan yang mulia ini, sejatinya merupakan kenikmatan dari Allah yang patut untuk disyukuri, bahkan merupakan salah satu kenikmatan yang teragung, Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya:”Katakanlah, dengan karunia Allah dan RahmatNya, dengannya hendaknya kalian bergembira, sesungguhnya hal tersebut lebih baik daripada yang kalian kumpulkan”. QS. Yunus 58.

Ayat diatas memaparkan bahwa nikmat agama dan iman kepada seorang hamba yang dapat merealisasikan kebahagiaan di dunia dan akherat lebih mulia dan lebih agung daripada kenikmatan duniawi berupa harta dan materi yang fana dan lenyap, olehnya seorang hamba diperintahkan untuk bergembira dan bersyukur dengan kenikmatan ini.

Untuk memperoleh hasil maksimal di bulan Ramadan, maka hendaknya  memulai persiapannya sejak masuk bulan Syakban, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dalam hal ini, Usamah bin Zaid radiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ:((ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ)).

Artinya:”Usamah bin Zaid mengatakan: aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan (dalam setahun) sebagaimana engkau berpuasa di bulan Syakban? Maka Rasulullah menjawab:”Bulan tersebut (Syakban) adalah bulan yang dilalaikan banyak manusia, (Syakban) adalah bulan diantara Rajab dan Ramadan, ia adalah bulan diangkatnya amalan manusia kepada Rabbul ‘ālamin, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan sedang berpuasa”. HR Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, dan sanadnya dikuatkan oleh sebagian ulama, diantaranya Al-Mundziri, Ibnu Hajar dan Al-Albani.

Bulan Syakban adalah salah satu bulan yang istemewa bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebab ia adalah gerbang bagi bulan Ramadan, maka beliau mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan memulai berpuasa di bulan Syakban, olehnya bulan Syakban menjadi saksi bagi puasa-puasa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wasalallam, adalah ibunda Aisyah radhiyallahu anha yang memberikan informasi tentang hal ini kepada kita, beliau mengatakan:

Lihat juga  Dipersoalkan Pertemuan “Salam Manis”, MUI Manokwari Beri Klarifikasi

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya:”Dan saya tidak mendapati Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau paling banyak berpuasa kecuali di bulan Syakban”. HR. Bukhari dan Muslim.

Inilah salah satu cara Nabi dalam menyambut bulan Ramadan dan mengisi hari-harinya di bulan Syakban, yaitu dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini. Maka berpuasa di bulan ini memiliki beberapa manfaat,

Mengikuti sunnah Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa sallam-, yang mana telah valid bahwa beliau  banyak melaksanakan puasa di bulan ini, sebagaimana yang dijelaskan hadits Aisyah dan Usamah bin Zaid. Dan sunnah ini adalah sunnah yang sahih dan valid penyandarannya kepada beliau, daripada kita menjalankan ritual yang tidak berdasarkan dalil yang shahih, maka akan jauh lebih baik jika kita menghidupkan sunnah Rasulullah yang banyak di tinggalkan oleh umatnya.

Bulan Syakban adalah bulan diangkatnya amalan kepada Allah, sebagaimana yang djelaskan dalam hadits Usamah bin Zaid yang telah kami sebutkan diatas, yang dishahihkan oleh sebagian pakar hadits, maka akan sangat mulia jika kita memanfaat momentum tersebut dengan berpuasa, sambil berharap diterimanya amalan-amalan kita dalam setahun.

Bulan ini adalah bulan yang dilupakan dan dilalaikan oleh kaum muslimin, maka memanfaat waktu-waktu yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin dengan memperbanyak ibadah di dalamnya adalah suatu kemuliaan, bahkan ada potensi untuk mendapatkan pahala berlipat, sebab “Al-Ajru ‘alā Qadri Masyaqqoh” atau besarnya pahala sesuai dengan besarnya kesulitan dan kesusahan.

Posisi puasa di bulan ini bagaikan pemanasan dalam sebuah kompetisi, adalah perkara yang aksiomatik bahwa jika hendak mengikuti sebuah kompetisi olahraga ada sesi pemanasan sebelum kompetisi yang sesungguhnya berlangsung, tujuannya untuk peregangan otot agar tampil maksimal ketika kompetisi berlangsung, dan menghindari suasana “kaget” dalam anggota tubuh sehingga berpotensi untuk menimbulkan cidera dalam kompetisi, dan manfaat-manfaat yang lainnya. Bulan Ramadan sejatimya adalah bulan “kompetisi” puasanya, maka agar puasa di bulan Ramadan lancar dan tidak ada hambatan, maka perlu latihan dan pemanasan, nah, latihan dan pemanasannya adalah di bulan Syakban tersebut.

Lihat juga  Airlangga Hartarto dan Robert Kardinal berbagi ribuan parsel lebaran di Manokwari

Oleh karena itu banyak ulama salaf yang mengatakan, “Bulan Rajab merupakan bulan menanam (pohon kebaikan), sedangkan bulan Syakban merupakan bulan menyirami (pohon kebaikan), sedangkan bulan Ramadan; merupakan bulan memanen pahala (dari pohon-pohon kebaikan tersebut.”

Ulama yang lain mengatakan, “Bulan Rajab ibarat angin, sedangkan bulan Syakban ibarat berkumpulnya awan, sedangkan bulan Ramadan ibarat  turunnya hujan.” Maka barang siapa yang tidak menabur benih kebaikan di bulan Rajab, dan menyiraminya di bulan Syakban, bagaimana ia akan memanen kebaikan di bulan Ramadan?.

Diantara amalan mulia yang dilakukan oleh para ulama salaf adalah banyak membaca Al-Qur’an di bulan Syakban, bahkan bulan Syakban mendapat julukan syahrul qurra’ (bulan bagi para pembaca Al-Qur’an), sebab para ulama salaf memanfaatkan bulan ini untuk menambah porsi mereka dalam membaca Al-Qu’an. Salamah bin Kuhail mengatakan, “Para Ulama dahulu, menyebut bulan Syakban sebagai Syahrul Qurra (bulan bagi para pembaca Al-Qur’an)’.”

Jika datang bulan Syakban, Habib bin Abi Tsabit mengatakan, “Ini adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an.” Sedangkan Amr bin Qais al-Mula-i rahimahullah jika datang bulan Syakban, menutup tokonya, kemudian fokus untuk membaca Al-Qur’an.

Diantara tujuan para ulama tersebut dalam memperbanyak membaca Al-Qur’an adalah sebagai bekal mereka untuk mengarungi bulan Ramadan, jadi amalan ini ibarat latihan pemanasan sebagai persiapan datangnya bulan Ramadan, semua orang mengetahui bahwa bulan Ramadan berpredikat sebagai Syahrul Qur’an, predikat ini mengisyaratkan terkait amalan mulia yang harus diintensifkan di bulan ini, yaitu membaca Al-Qur’an

Semoga kita mampu memaksimalkan Syakban untuk memantaskan diri, fisik dan jiwa kita dalam menyongsong bulan yang mulia, bulan suci Ramadan. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin…

Sumber : Departermen Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *