MEMETIK PELAJARAN DARI PERANG BADAR

 Oleh Abdullah Nazhim Hamid, S.T., Lc., M.Ag.

Lebih seribu empat ratus tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadan tanggal 17 pada tahun kedua setelah hijrah, terjadi sebuah peristiwa besar dalam sejarah peradaban umat Islam. Pertemuan dua pasukan dalam peperangan yang awalnya tidak direncanakan demi untuk merealisasikan ketetapan dari Allah.

Pasukan tauhid yang berada di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad dengan jumlah tiga ratus orang lebih dan persiapan dan perbekalan yang seadanya melawan pasukan kuffar di bawah kepemimpinan Abu Jahl yang jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak, lengkap dengan persenjataan dan perbekalan yang keluar dengan pongah dan angkuh.

Sebelum jalannya peperangan, Nabi berkonsultasi dengan para sahabatnya tentang peperangan ini, apakah mereka bersedia untuk maju dalam keadaan yang seperti itu atau tidak. Nabi pun mendengarkan jawaban yang menggembirakan dari muhajirin dan anshar. Mereka menegaskan komitmen mereka kepada nabi dan bersedia mengikuti Nabi dalam kondisi apapun. Bahkan dikatakan kepada Nabi, “Kami tidak akan berkata kepada Anda seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Musa:

فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

Terjemahnya: Maka pergilah engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua! Sesungguhnya kami duduk saja di sini. (QS. Al-Ma’idah ayat 24)

Mendengarkan hal tersebut Nabi bergembira dan mengatakan:

سِيرُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ قَدْ وَعَدَنِي إِحْدَى الطَّائِفَتَينِ، وَاللهِ لَكَأَنِّي الآنَ أَنْظُرُ إِلَى مَصَارِعِ القَوْمِ

Artinya: “Berangkatlah dan gembiralah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjanjikan saya salah satu dari dua kelompok ini (kafilah dagang Abu Sufyan atau pasukan Quraisy), demi Allah, seolah-olah saya melihat kebinasaan musuh saat ini.”

Maka beliau pun bersama para sahabatnya bergerak hingga sampai di Badar. Kemudian beliau bersabda:

هَذَا مَصْرَعُ فُلَان، وَهَذَا مَصْرَعُ فُلَان، وَهَذَا مَصْرَعُ فُلَان غَدًا؛ إِنْ شَاءَ اللهَ تَعَالَى

Artinya: “Ini adalah tempat terbunuhnya si fulan, dan ini adalah tempat terbunuhnya si fulan, dan ini adalah tempat terbunuhnya si fulan besok, insya Allah Ta’ala.”

Sebelum peperangan Nabi menghadap ke kiblat dan mengangkat tangannya serta berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِي, اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِي, اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلَكْ هَذِهِ العِصَابةُ لَا تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

Artinya: “Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku, ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku, ya Allah, jika pasukan ini dihancurkan, maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi.

Kedua pasukan pun bertemu, dan Allah memberikan kemenangan kepada pasukan tauhid dan menghancurkan pasukan musyrikin. Setelah itu Rasulullah, di hadapan mayat-mayat petinggi quraisy yang tewas dalam peperangan itu berkata:

يَا أَبَا جَهْلِ بنَ هِشَام، وَيَا عُتْبَة بنَ رَبِيعَة، وَيَا شَيْبَة بنَ رَبِيعَة، وَيَا أُمَيَّةَ بنَ خَلَف! ألاَ هَلْ وَجَدْتُم مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فإنِّي قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا

Artinya: “Wahai Abu Jahal bin Hasyam, wahai ‘Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, wahai Umayyah bin Khalaf! Tidakkah kalian mendapati janji Tuhanmu adalah benar? Sungguh, aku telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku dengan benar”

Demikianlah kemenangan kaum muslimin di perang badar. Kemenangan yang luar biasa yang tercatat dengan tinta-tinta emas ahli sirah dan sejarah. Dalam bulan Ramadan kali ini, kita perlu mengenang dan mencoba mengambil pelajaran dari perang badar

Pelajaran pertama:

Bahwa kekuatan suatu pasukan, meskipun didukung oleh sarana lengkap dan jumlah yang banyak, serta kepemimpinan dan perencanaan yang kuat, tidak akan memiliki dampak apapun di hadapan kekuatan keimanan. Terlihat bagaimana pasukan Quraisy unggul secara kuantitas, bekal dan persenjataan, namun semuanya tidak berguna di hadapan kehendak Allah. Inilah yang dikatakan oleh Allah:

Lihat juga  FINALIS-FINALIS RAMADAN

قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَة قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Terjemahnya: Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah ayat 249).

Tentu saja poin ini tidak berarti bahwa Pasukan Iman bisa berpangku tangan dan mengabaikan persiapan, perencanaan yang matang dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk menang. Justru iman yang benar akan membimbing kepada tawakkal yang benar yaitu dengan mengusahakan sebab. Melakukan persiapan adalah perintah dari Allah sebagaimana firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Terjemahnya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS. Al Anfal ayat 60).

Intinya adalah bahwa jika umat Islam telah menggunakan semua upaya yang mereka mampu, maka pada saat itu mereka harus menyerahkan urusan kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Karena pada akhirnya, senjata material harus digabungkan dengan senjata iman, dan yang paling besar di antaranya adalah tawakkal kepada Allah -Maha Tinggi lagi Maha Mulia- setelah melakukan segala upaya yang bisa dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam-; dimana beliau mempersiapkan pasukan, meminta pendapat mereka sebelumnya, memilih posisi-posisi strategis, meningkatkan moral mereka, dan bermunajat kepada Allah -‘Azza wa Jalla- dengan doa, hingga Allah memberikan kemenangan-Nya.

Inilah yang seharusnya dipahami oleh para pejuang hari ini yang berjuang untuk Islam, dan kita semua yang dalam posisi aman di sini memiliki peran besar dalam memohon kepada Allah -yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia- untuk memberi kemenangan kepada para mujahidin di jalan-Nya, melindungi mereka, memelihara keluarga dan anak-anak mereka, serta mengalahkan musuh-musuh mereka.

Pelajaran kedua:

Perang badar menunjukkan kepada kita tentang kebenaran iman para sahabat Muhajirin dan Ansar, serta kesetiaan mereka terhadap janji-janji mereka. Allah telah memberikan pujian yang tinggi terhadap mereka dalam Al-Quran dan telah meridai mereka serta meraka pun telah rida kepada Allah.

Bandingkan dengan Bani Israil yang mengkhianati Nabi Musa dengan mengatakan perkataan yang sungguh menyakitkan, “Maka pergilah engkau dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua! Sesungguhnya kami duduk saja di sini.” Sungguh Iman ini akan diuji oleh Allah pada berbagai kondisi dalam kehidupan kita, baik itu kondisi lapang atau sempit, kondisi unggul atau tertindas, kondisi susah ataupun senang. Maka tugas kita adalah membuktikan kejujuran iman kita kepada Allah.

Pelajaran ketiga:

Pelajaran ketiga yang diajarkan oleh Pertempuran Badar adalah pelajaran besar bahwa kelalaian merupakan salah satu penyebab jauhnya kita dari kemenangan. Jika kita perhatikan Surah Al-Anfal yang mengisahkan tentang pertempuran tersebut, maka kita akan melihat bahwa dalam surah ini, Allah menyinggung tentang pentingnya perkara hati, ketakwaan, memperbaiki hubungan antara orang-orang beriman, dan mengharapkan balasan terbaik di sisi Allah pada dan jangan sampai disibukkan dan dilalaikan dengan harta rampasan perang. Allah berfirman:

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ قُلِ ٱلۡأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٤

Lihat juga  Gubernur Dominggus Mandacan secara Simbolis Memulai Pembangunan Asrama Sekolah Alkitab GPdI

Terjemahnya: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al Anfal ayat 1-4).

Di zaman kita ini, musuh-musuh berusaha menanamkan fitnah di antara kita dan memecah belah persatuan kita, baik itu dengan ideologi radikal yang ekstrem, atau dengan membanjiri kita dengan masalah-masalah yang tidak penting, atau dengan membuka pintu untuk hawa nafsu yang terlarang dan dosa-dosa yang penyebarannya semakin meluas dan pertahanan semakin lemah yang dapat akan menjauhkan kita dari Allah Yang Maha Tinggi dan mendatangkan murka-Nya.

Pelajaran keempat:

Pertempuran Badar mengajarkan bahwa agama ini tidak berdiri kecuali atas pengorbanan dan pemberian harta dan jiwa. Para Muhajirin meninggalkan tanah air, harta, dan keluarga mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Sebagian dari mereka gugur sebagai syuhada, dan dari saudara-saudara mereka, para Ansar, banyak yang gugur. Anak-anak menjadi yatim. Namun, seperti yang Allah -Maha Tinggi lagi Maha Mulia- katakan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Terjemahnya: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh bencana-bencana, kesengsaraan dan digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah ayat 214).

Dan seperti yang Allah katakan:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Terjemahnya: Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya mereka pun telah mendapat luka yang serupa. Dan itulah masa (kejayaan dan kehancuran) yang Kami pergilirkan diantara manusia. (QS. Ali Imran ayat 140).

Demikianlah beberapa Pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari perang badar yang terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana kita saat ini juga berada dalam bulan Ramadan.

Ilustrasi Perang Badar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *