MENJAGA KEIKHLASAN DALAM PENGHAMBAAN

Khutbah Jumat, 11 Dzulhijjah 1444 H / 30 Juni 2023

Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si

Kita kembali bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat kesehatan dan kesempatan menghadiri momentum kebaikan dan ketaatan di hari mulia ini, di hari Jum’at. Sebuah Jum’at yang istimewa, karena masih berada dalam rangkaian hari-hari Tasyriq.

Kita syukuri kembali karunia kesehatan dan kesempatan melakukan kebaikan dan ketaatan adalah sebuah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Sebuah karunia berharga, bahkan tak ternilai yang tidak diberikan kepada banyak manusia di bumi ini. Karena itu, setiap kali kita mendapatkannya, kita harus mensyukurinya dengan sebaik-baiknya.

Hati adalah bagian tubuh yang paling besar kedudukannya, paling besar pengaruh dan dampaknya, paling detil urusannya, paling berat untuk diperbaiki, dan paling rumit kondisinya. Hati adalah penguasa yang dipatuhi (oleh seluruh anggota tubuh). Maka jika “sang raja” itu lurus dan baik, maka seluruh “rakyat”nya pun akan ikut demikian.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, bahwa dalam tubuh itu adalah segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Namun jika ia rusak, maka seluruh tubuh pun akan ikut menjadi rusak. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hal ini tampak jelas bahwa ibadah hati merupakan ibadah pokok yang menjadi dasar atas semua ibadah yang dilakukan oleh jasad manusia. Karenanya, keshalihan jasmani itu sangat bergantung pada keshalihan hati manusia.

Jika hati menjadi shalih dengan ketaqwaan dan keimanan, maka jasmani pun seluruhnya menjadi shalih dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ

Artinya: “Tidak akan istiqamah keimanan seorang hamba hingga hatinya menjadi istiqamah.” (HR. Ahmad secara hasan)

Allah Ta’ala sendiri telah mengaitkan keselamatan di Hari Kiamat dengan kelurusan dan kebersihan hati manusia. Selamat-tidaknya perjalanan kita di akhirat sangat ditentukan oleh seberapa bersih hati kita dari berbagai penyakit hati; mulai dari syirik kepada Allah hingga dengki dan hasad kepada sesama.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Terjemahnya: “Pada hari dimana tidak bermanfaat harta dan anak keturunan, kecuali yang datang menemui Allah dengan hati yang bersih/lurus.” (Surah al-Syu’ara: 88-89)

Di antara hal yang juga menguatkan pentingnya memperhatikan hati adalah bahwa karena salah satu sifat hati yang paling menonjol dan karakternya yang khas adalah mudahnya ia berbolak-balik dan berubah. Hati itu sangat mudah berubah, berganti dan berbalik.

Lihat juga  RAMADAN DAN GAZA TERCINTA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ القِدْرِ؛ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا

Artinya: “Sungguh hati anak cucu Adam itu lebih mudah berubah daripada (kondisi) sebuah panci yang isinya menggelegak panas.” (HR. Ahmad, secara shahih).

Dan hati itu (dalam bahasa Arab disebut) al-Qalbu lantara mudahnya ia berbolak-balik. Karena itu, kita harus berhati-hati dan waspada terhadap berganti dan berbolak-baliknya hati itu.

Karena penting dan urgennya persoalan ini, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak doa memohon keteguhan di atas jalan agama dan keimanan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu banyak berdoa dengan mengucapkan:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: ‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.’
Maka aku pun bertanya: ‘Wahai Rasulullah! kami telah beriman kepadamu dan kepada semua yang Anda bawa. Apakah Anda khawatir dengan kami?’

Beliau menjawab:
نَعَمْ؛ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أَصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

‘Tentu saja, (karena) sesungguhnya hati itu berada di antara 2 jari di antara jemari Allah, Dia akan membolak-balikkannya sekehendakNya.’” (HR. al-Tirmidzi secara shahih)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hati-hati itu berada di antara 2 jari dari jemari Ar-Rahman, selayaknya hati yang satu. Dia mengarahkannya sekehendakNya. (Maka):

اللَّهُمَّ: مُصَرِّفَ القُلُوبِ؛ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Artinya: ‘Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami pada ketaatan padaMu.’” (HR. Muslim)

Suatu waktu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertutur:
“Aku pernah berkata: ‘Wahai Rasulullah! Kenapa doa yang paling sering engkau ucapkan adalah: Ya

Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinika?” Beliau menjawab:
يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ؛ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Artinya: “Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya ada di antara kedua jemari Allah. Maka siapa yang Allah hendaki, akan diluruskannya. Namun siapa yang dikehendakiNya, akan digelincirkannya.” (HR. al-Tirmidzi secara shahih)

Di sini kita melihat, betapa halusnya urusan hati itu. Halus tapi berbahaya dan sangat menentukan, sehingga manusia sehebat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat mengkhawatirkannya.

Lihat juga  MUI PB: FKLMI Papua Barat Harus Perkuat Syiar, Dakwah dan Bantu Pemerintah

Salah satu doa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada kita adalah doa tentang ketergelinciran hati yang menakutkan.

Doa itu berbunyi:
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

Terjemahnya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisiMu.” (QS. Ali Imran ayat 8)

Tidak ada seorang pun yang dapat berlepas diri dari doa ini, meskipun ia adalah seorang yang shalih dan bertaqwa; karena hati itu selalu berbolak-balik, dan amalan-amalan kita sangat bergantung pada bagaimana akhirnya.

Maka ketergelinciran hati itu sangat besar, ketertipuannya sangat berbahaya. Bermula dari ketergelinciran dari Allah Ta’ala, namun penghujung dan akhirnya adalah hati yang tertutup hingga kemudian menjadi hati yang mati.

Salah ujian dan fitnah hati yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umatnya adalah ketika beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟. قُلْنَا: بَلَى. فَقَالَ: «الشِّرْكُ الْخَفِيُّ؛ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ؛ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Artinya: “Ingatlah aku sampaikan kepada kalian tentang apa yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada al-Masih al-Dajjal?’ Para sahabat berkata: ‘Tentu saja.’ Lalu beliau berkata: ‘Syirik khafiy (tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat, lalu ia mempercantik shalatnya, karena ia menyadari pandangan orang lain (padanya).” (HR. Ibnu Majah, secara hasan)

Tidak ada satupun dari kita yang mempunyai jaminan telah bersih dan selamat dari ujian ini. Maka teruslah berjuang dan berdoa tanpa henti agar hati kita dijaga dan dibersihkan oleh Sang Penciptanya, agar kelak kita berjumpa denganNya dalam keadaan hati yang bersih.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *