MERAIH KEMULIAAN RAMADAN DENGAN ILMU

Oleh Alif Jumai Rajab, Lc.

Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Dari nikmat kesehatan, waktu luang, terlebih lagi dua nikmat yang besar yang Allah tanamkan di dalam hati kita masing-masing yaitu nikmat iman dan islam. Mereka yang memiliki kedua nikmat ini tertancap dengan kokoh di hatinya, niscaya mereka pulalah orang-orang yang banyak meramaikan masjid-masjid Allah, mereka pulalah orang-orang yang terhindar dari sifat-sifat kemunafikan.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarganya, para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan contoh yang baik pada kita…

Sekitar beberapa hari lagi Ramadan akan menghampiri kita. Pertanyaannya sudahkah kita melakukan persiapan untuk menyambutnya?

Dan di antara persiapan yang paling penting adalah persiapan dengan ilmu. Ilmu inilah yang nantinya akan membuat amalan kita diterima karena bisa sesuai dengan tuntunan nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah tatkala menafsirkan firman Allah:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Terjemahnya:

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk ayat 2).

Beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Untuk menjalani ibadah dalam bulan Ramadan ada beberapa hal yang perlu dipahami dengan baik, ada yang bersifat larangan dan ada yang dibolehkan. Oleh karenanya dalam khotbah ini kami menghimpun lima hal yang harus dipahami dengan baik sebelum masuk bulan Ramadan.

Hal pertama; Waktu imsak (sebelum Subuh) masih boleh untuk menyantap sahur.

Jadwal imsak agaknya kerap dianggap batas akhir waktu sahur sehingga dilarang makan dan minum, padahal waktu imsak dibuat untuk kehati-hatian sedangkan kita mulai berpuasa ketika terbit fajar Subuh yaitu ditandai dengan azan Subuh berkumandang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Terjemanya:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الفَجْرُ فَجْرَانِ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ

Artinya:

“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu Subuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat Subuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim).

Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengakhirkan makan sahur. Waktu makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan dalam hadits berikut.

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Zaid pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, kemudian mereka berdiri untuk shalat. Anas bertanya pada Zaid, berapa jarak waktu antara makan sahur dengan waktu shalat. Jawab Zaid, ‘Yaitu sekitar seseorang membaca 50 ayat (Al-Qur’an).’” (HR. Bukhari, no. 1134 dan Muslim, no. 1097).

Menyegerakan sahur pada pertengahan malam tidaklah dilarang, namun ia menyelisihi sunnah. Dan hadis tadi menunjukkan bahwa makan sahur dianjurkan untuk diakhirkan sampai menjelang terbitnya fajar atau beberapa saat sebelum adzan Subuh berkumandang.

Lihat juga  BEKAL TERBAIK MENYONGSONG RAMADAN

Bagaimana kalau ada makanan yang masih ada di mulut ketika azan Subuh berkumandang?

Dalam kitab Al-Majmu’ (6: 312), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Kami katakan bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya.”

Hal Kedua: Boleh berkumur-kumur ketika berpuasa begitu pula memasukkan air dalam hidung selama tidak berlebihan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Adapun berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) disyari’atkan (dibolehkan) bagi orang yang berpuasa dan hal ini disepakati oleh para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan beristinsyaq ketika berpuasa.

Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Laqith bin Shabirah,

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Artinya:

“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Yang dilarang saat puasa di sini adalah dari berlebih-lebihan ketika istinsyaq.” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 266).

Hal ketiga: Tidak mengapa seseorang dalam keadaan junub ketika masuk waktu Subuh.

Hal seperti ini masih dibolehkan dan tidak membatalkan puasanya. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Terjemahnya:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.”

Dilanjutkan sampai ayat,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Terjemahnya:

“… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang berhubungan dengan istrinya sebelum Subuh, lalu ketika masuk Subuh, ia masih dalam keadaan junub, maka ia masih boleh melakukan puasa. Karena Allah mengizinkan mubasyaroh (mencumbu istri) hingga terbit fajar (seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 187), lalu Allah tetap perintahkan untuk berpuasa, maka ini menunjukkan bahwa boleh saja seseorang yang hendak berpuasa masuk Subuh dalam keadaan junub.” (Lihat Al-Majmu’, 6: 303)

Dan juga didasarkan pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh Istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim, no. 1109).

Hal ini juga berlaku untuk wanita yang telah suci dari haidh sebelum Subuh, boleh melanjutkan puasa meskipun baru mandi setelah azan Subuh.

Hal keempat: Mereka yang bubar tidak bersama imam hingga selesai tarawih, luput baginya pahala salat semalam suntuk.

Hal ini berdasarkan hadis Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Lihat juga  Kontingen Pesparani Papua Barat Target Emas dan 5 Champion

Artinya:

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 1606; Tirmidzi, no. 806; Ibnu Majah, no. 1327).

Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

Hal kelima: Shalat tarawih dengan cara ngebut tanpa tuma’ninah maka shalatnya tidaklah sah.

Kadar thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud menurut ulama Syafi’iyah adalah sudah mendapat sekali bacaan tasbih. )Lihat Al-Fiqhu Al-Manhaji karya Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, dkk(.

Jika kurang dari kadar itu, berarti tidak ada thuma’ninah. Dan jikalau tidak ada thuma’ninah berarti hilanglah rukun shalat dan berkonsekuensi tidak sahnya shalat tersebut.

Mengenai perintah thuma’ninah disebutkan dalam hadits ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang yang “ngebut” shalatnya untuk mengulangi shalatnya.

Dalilnya sebagai berikut, Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata,

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Artinya:

“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.”

Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama, sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Artinya:

“Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari, no. 793 dan Muslim, no. 397).

Semoga lima hal terkait Ramadan ini menjadikan kita hamba-hamba yang memperoleh keagungan dan kemuliaan Ramadan dengan amalan saleh yang dilandasi ilmu yang sahih sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *