NABI ISA AL-MASIH DALAM KITABULLAH

Oleh Abdullah Nazhim Hamid, ST, Lc, M.Ag

Allah menciptakan manusia untuk menyembah dan mengesakanNya. Dengan itu, Allah mengutus kepada setiap umat manusia-manusia pilihan yaitu para nabi dan rasul untuk memperkenalkan Allah dan mengajarkan bagaimana cara beribadah dengan benar. Setiap ada nabi yang diwafatkan, maka Allah akan mengutus penggantinya. Hingga pada akhirnya, Allah mengutus penutup para nabi yang bukan hanya diutus kepada umat tertentu, akan tetapi diutus kepada seluruh manusia, dialah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Konsep pengutusan nabi adalah konsep yang sederhana dan mudah dipahami, namun ternyata masih ada manusia-manusia yang memiliki konsep yang sulit dimengerti yaitu konsep orang-orang Nasrani yang menyakini bahwa selain para nabi dan rasul, Allah juga mengutus atau menurunkan anak-Nya atau perwujudanNya dalam bentuk manusia yaitu Isa ‘alaihissalam. Hal ini didasari oleh banyaknya keajaiban-kejaiban yang mengiringi kelahiran dan kehidupan nabi Isa ‘alaihissalam. Oleh karena itu, begitu banyak ayat-ayat Al-Quran yang membantah dan mengkritisi konsep ini.

Keajaiban-keajaiban seputar nabi Isa seperti kelahirannya yang tanpa melalui proses normal tidak menjadikan nabi Isa adalah tuhan atau anak tuhan. Allah berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Terjemahnya: Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. (QS. Ali Imran ayat 59).

Dengan ayat ini, Allah menegaskan bahwa kelahiran nabi Isa yang hanya dari seorang perempuan tanpa ada laki-laki tidak lebih ajaib dari nabi Adam yang lahir bukan dari seorang laki-laki dan perempuan. Kelahiran nabi Isa juga tidak lebih ajaib dari pada Hawa yang lahir dari seorang laki-laki tanpa seorang perempuan. Hal ini menunjukkan penciptaan dan kelahiran manusia baik secara normal ataupun di luar normal adalah bagian dari kekuasaan Allah.

Begitu juga keajaiban-keajaiban lainnya, seperti berbicaranya nabi Isa Ketika masih bayi. Keajaiban ini bukan satu-satunya pada nabi Isa saja, disebutkan dalam hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang tiga bayi yang berbicara yaitu Isa, bayi pada kisah Juraij dan bayi yang mengoreksi doa ibunya. Begitu juga bayi yang berbicara pada kisah ashabul Ukhdud yang menguatkan ibunya Ketika mereka hendak melompat dalam api.  Nabi Isa adalah seperti nabi-nabi yang lain, beliau punya mukjizat sebagaimana nabi dan rasul lainnya punya mukjizat yang terjadi atas izin Allah sebagaimana dalam firman-Nya:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Terjemahnya: (Allah akan menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jika kamu orang-orang mukmin. (QS. Ali Imran ayat 49).

Bantahan Al-Quran berikutnya adalah bantahan terhadap keyakinan yang menyatakan bahwa nabi Isa disalib. Orang yang sebenarnya di salib adalah pengkhianat dari pengikut nabi Isa yang diserupakan wajahnya oleh Allah dengan wajah nabi Isa yang bernama Judas Iskariot. Allah berfirman:

بِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا )١٥٦( وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا )١٥٧(بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا )١٥٨(

Lihat juga  Cegah Penyebaran Covid-19, Dewan Masjid dan MUI Papua Barat Minta Dukungan Takmir Masjid

Terjemahnya: (Kami juga menghukum mereka) karena kekufuran mereka dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan tuduhan palsu lagi sangat keji. (Kami menghukum pula mereka) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang menurut mereka menyerupai (Isa). Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya (pembunuhan Isa), selalu dalam keragu-raguan terhadapnya. Mereka benar-benar tidak mengetahui (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), kecuali mengikuti persangkaan belaka. (Jadi,) mereka tidak yakin telah membunuhnya. (QS. An Nisa ayat 156-158).

Al-Quran juga dengan tegas menolak dan membantah bahwa nabi Isa adalah anak Allah atau satu dari tiga sebagaimana firmanNya:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا )١٧١(

Terjemahnya: Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung. QS. An-Nisa ayat 171).

Al-Quran juga dengan gamblang menyatakan bagaimana nabi Isa nanti dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak pernah menyuruh pengikutnya untuk menyembahnya dan ibunya, Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ )١١٦(  مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ )١١٧( إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) ١١٨(

Terjemahnya: (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” Aku tidak (pernah) mengatakan kepada mereka kecuali sesuatu yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah ayat 116-118).

Justru nabi Isa dengan tegas menyatakan bahwa ia hanyalah seorang hamba dan ia memerintahkan pengikutnya untuk menyembah Allah semata, Allah berfirman:

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ) ٣٤( مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ) ٣٥(  وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

 ) ٣٦(

Terjemahnya: Itulah (hakikat) Isa putra Maryam, perkataan benar yang mereka ragukan. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. (Isa berkata,) “Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia! Ini adalah jalan yang lurus.” (QS. Maryam ayat 34-36).

Lihat juga  MEMANTASKAN DIRI MENUJU RAMADAN

Keyakinan bahwa Allah mempunyai anak adalah keyakinan yang sangat buruk sampai-sampai alam terguncang. Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا ٨٨ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ٨٩ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا  ٩١ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا ٩٢ إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا ٩٣

Terjemahnya: Mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih telah mengangkat anak.” Sungguh, kamu benar-benar telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Karena ucapan itu, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping. (Hal itu terjadi) karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak sepantasnya (Allah) Yang Maha Pengasih mengangkat anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. (QS. Maryam ayat 88-93)

Dalam Tafsir ibnu Kasir disebutkan: Terguncangnya alam akibat meyakini bahwa Allah punya anak adalah karena alam merupakan  makhluk yang mengerti betapa besar dan agungnya Allah, sehingga Ketika alam mendengarkan klaim Allah punya anak, maka seluruh alam pun terguncang kecuali manusia dan jin. Keyakinan Allah punya anak ini adalah sama dengan meyakini kelemahan dan kekurangan pada Allah, sementara Allah adalah Rabb yang Maha Terpuji dan Maha Kaya yang tidak membutuhkan apa-apa.

Setelah mengetahui bagaimana Al-Quran membantah keyakinan ini dan menunjukkan betapa rusaknya, maka tentu seorang muslim tidak pantas untuk ikut merayakannya, berpartisipasi aktif, memakai simbol-simbol dan lambangnya, serta mengucapkan selamat atas kerusakan keyakinan ini. Ini sama sekali bukan bentuk intoleransi, tapi ini adalah bentuk penegasan kepada akidah tauhid dan penegasan kepada identitas sebagai muslim. Toleransi yang benar adalah dengan membiarkan dan memberikan mereka kesempatan untuk melaksanakan dan merayakan peribadatan dan hari raya mereka sesuai dengan hukum yang berlaku. Jangan mengganggu mereka dan jangan menzalimi mereka walaupun kita adalah mayoritas. Agama islam tetap menganjurkan untuk berbuat baik kepada non muslim yang tidak memusuhi dan memerangi kita.

Sebagai muslim, penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang benar tentang Nabi Isa dan tidak terjebak dalam pemahaman yang salah atau tidak berdasar. Hal tersebut diperoleh dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an serta merujuk kepada ulama yang berpengetahuan luas dalam agama Islam. Idealisme yang kuat mengacu pada keyakinan yang teguh terhadap ajaran-ajaran Islam dan menjadikannya sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi berbagai perkembangan zaman dan perubahan sosial, mengamalkan nilai-nilai Islam dengan integritas dan komitmen adalah tugas yang diemban oleh setiap muslim.

Selain itu, melalui pemahaman yang benar tentang Nabi Isa dan ajaran-ajaran Islam, kita dapat membangun kedamaian, menghormati perbedaan, dan berkontribusi positif dalam masyarakat kita. Idealisme yang kuat akan terwujud ketika kita memahami dan mengajarkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua dapat memiliki idealisme yang kuat, memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik, serta menjadi contoh yang baik bagi sesama muslim dan masyarakat di sekitar kita, Allahumma Aamiin..

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *