PERGANTIAN WAKTU PERTANDA SEMAKIN BURUKNYA ZAMAN

Oleh : Rachmat Badani, Lc., M.A.

Jumat, 30 Jumadil Akhir 1445 H / 12 Januari 2024

Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benarnya ketakwaan, dengan mengamalkan perintah Allah atas dasar ilmu karena mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan Allah atas dasar ilmu karena takut akan azab-Nya.

Salawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya serta kepada setiap pengikutnya yang konsisten menjalankan syariatnya.

Pergantian waktu menurut sebagian orang bermakna pertambahan usia dan kedewasaan. Mereka yang lahir pada tahun 1988 artinya di tahun 2024 ini telah genap usianya 35 tahun dan akan memasuki usianya ke-36. Namun di sisi Allah justru pergantian waktu bermakna berkurangnya jatah kehidupan setiap orang, karena Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa telah menetapkan seluruh ketetapan bagi makhluk-Nya. Maka sikap yang sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim yang memahami hakikat pergantian waktu ini, wajib mempersiapkan dirinya dengan segala perubahan yang akan terjadi termasuk berakhirnya jatah usianya di sisi Allah.

Sehubungan dengan pergantian waktu yang mayoritas manusia berbahagia dengannya, terselip kekhawatiran di dalam hati akan perjalanan kehidupan di masa-masa berikutnya. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Zubair bin ‘Ady rahimahullah pernah mengeluhkan kepada sahabat yang mulia, Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu tentang apa yang didapati oleh kaum muslimin dari kezaliman Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi seorang gubernur untuk wilayah Makkah dan Madinah. Maka Anas bin Malik meriwayatkan apa yang telah beliau dengarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اصْبِرُوا، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ، سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

Bersabarlah, karena sesungguhnya tidak datang suatu zaman melainkan zaman berikutnya lebih buruk darinya sampai kalian menjumpai Rabb kalian, aku mendengarkannya dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari nomor 7068).

Secara umum hadis ini menjelaskan bahwa semakin ke belakang sebuah zaman maka semakin buruk pula keadaan dan kondisi zaman tersebut. Para ulama menerangkan bahwa semakin buruknya kondisi zaman dapat disebabkan oleh dua perkara:

Pertama: Berkurangnya ilmu dan merebaknya kejahilan

Sebab pertama bertambah buruknya sebuah zaman karena berkurangnya pewaris Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu para ulama di tengah umat manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya:

Sesungguhnya ulama adalah pewaris pada Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak (HR. Tirmizi nomor 2682).

Para ulama yang mewariskan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah unsur terpenting dari umat Islam. Kedudukan mereka di tengah umat ibarat kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara para sahabat. Makanya Rasulullah memisalkan para ulama dibandingkan selain mereka dari hamba Allah, seperti keutamaan bulan dibandingkan bintang-bintang di langit. Dan sebaik-baik ulama di tengah umat manusia adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga semakin bertambah zaman maka dengan takdir Allah semakin berkurang pula para sahabat Nabi hingga tak bersisa seorangpun dari mereka. Olehnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya:

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari nomor 100 dan Muslim nomor 13).

Hadis ini menerangkan bahwa Allah tidak mengangkat ilmu pengetahuan dari umat manusia secara langsung, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Dan setiap kita telah mengetahui, berapa banyak ulama yang telah diwafatkan oleh Allah pada masa-masa sebelumnya. Ilmu yang mereka warisi dari Rasulullah tentu ikut mati bersama mereka tertimbun di bawah tanah dalam himpitan liang lahad, kecuali ilmu yang telah diwariskan kembali kepada murid-murid mereka. Namun tentu sebagaimana tak seorang sahabatpun yang mampu mengumpulkan seluruh ilmu yang dimiliki oleh Rasulullah, maka demikian halnya dengan para ulama setelahnya.

Hal yang paling dikhawatirkan dari wafatnya ulama adalah datangnya zaman yang tak menyisakan lagi 1 orangpun alim di tengah umat manusia, maka mereka akan mengangkat orang-orang jahil sehingga mereka sesat dan menyesatkan manusia. Inilah salah satu hakikat yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tidak datang suatu zaman melainkan zaman setelahnya akan bertambah buruk, karena menyebarnya kejahilan di antara umat manusia.

Lihat juga  Bupati Hermus Indou Salurkan Puluhan Hewan Kurban Idul Adha

Kedua: Dekatnya akhir zaman 

Sebab kedua semakin buruknya sebuah zaman adalah karena bergantinya dan bertambahnya zaman itu berarti semakin jauh ia dari zaman Nubuwwah dan semakin dekat pula dengan akhir zaman. Dan kita tahu bahwa akhir zaman adalah masa dikumpulkannya bermacam musibah, bala, cobaan dan ujian dari Allah ‘azza wa jalla kepada umat manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ، وَهْوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ؛ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضَ

Artinya:

Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam ujian, Al Haraj -yaitu pembunuhan- dan harta melimpah ruah kepada kalian (HR. Bukhari nomor 1036).

Berkata Ibnu Hajr rahimahullah, “makna nampaknya ujian-ujian adalah banyaknya dan merebaknya ujian, serta manusia tidak lagi menyembunyikan ujian-ujian tersebut.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadis lainnya:

بادِروا بالأعمالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيلِ المُظلِمِ، يُصبحُ الرَّجُلُ مُؤمِنًا ويُمسي كافِرًا، أو يُمسي مُؤمِنًا ويُصبحُ كافِرًا، يَبيعُ دِينَه بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا

Artinya:

Segeralah beramal sebelum datangnya ujian seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir dipagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia (HR. Muslim nomor 169).

Di dalam hadis lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّه لَم يَكُنْ نَبيٌّ قَبلي إلَّا كانَ حَقًّا عليه أن يَدُلَّ أمَّتَه على خَيرِ ما يَعلَمُه لَهم، ويُنذِرَهم شَرَّ ما يَعلَمُه لَهم، وإنَّ أمَّتَكُم هَذِه جُعِلَ عافيَتُها في أوَّلِها، وسَيُصيبُ آخِرَها بَلاءٌ وأمورٌ تُنكِرونَها، وتَجيءُ الفتنةُ فيُرَقِّقُ بَعضُها بَعضًا، وتَجيءُ الفتنةُ فيَقولُ المُؤمِنُ: هَذِه هَذِه. فمَن أحَبَّ أن يُزحَزَحَ عَنِ النَّارِ ويَدخُلَ الجَنَّةَ، فلتأتِه مَنيَّتُه وهو يُؤمِنُ باللهِ واليَومِ الآخِرِ

Artinya:

Para Nabi sebelum saya diutus menuntun umatnya kepada kebaikan yang telah diajarkan Allah kepada mereka, dan memingatkan bahaya yang mengancam mereka. Ummatku yang sempurna dan selamat ialah angkatan yang pertama-tama, angkatan sesudah itu akan ditimpa berbagai cobaan berupa hal-hal yang tidak disenanginya, seperti timbulnya ujian. Di mana-mana sebagian mereka menghina sebagian yang lain, oleh karena itu timbullah bencana. Orang-orang mukmin berkata: ‘Inilah kiranya yang membinasakanku’, Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula bencana yang lain. Dan orang mukmin berkata: ‘Ini..! Ini..!” Siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah dan hari akhirat (HR. Muslim nomor 3431)

Salah satu bentuk ujian yang Allah turunkan kepada umat manusia adalah keberadaan orang-orang yang zalim kepada sesama manusia. Dan hal inilah yang menjadi sebab keluhan yang disampaikan kepada Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu dalam hadisnya, terkait apa yang mereka temukan dari kezaliman Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Sehingga terbayang dalam benak Anas bin Malik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar seorang muslim berupaya bersabar menghadapi ujian-ujian keimanan dan keduniaan. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

 Terjemahnya:

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas (QS. Al-Kahfi: 28).

Hadis ini bukan hendak mengajarkan agar kita berputus asa dari rahmat Allah ‘azza wa jalla karena berputus asa adalah perbuatan yang terlarang dan merupakan ciri dari orang-orang kafir sebagaimana firman Allah:

يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Terjemahnya:

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir (QS. Yusuf: 87).

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Lihat juga  Jamaah Umroh Asal Manokwari Diingatkan Jaga Kebersamaan

Terjemahnya:

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. Al-Zumar: 53).

Olehnya, ulama menerangkan bahwa meskipun setiap tahunnya sekian banyak ulama yang diwafatkan oleh Allah ta’ala namun kebenaran tidak akan pernah padam di bumi Allah meskipun mereka sedikit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Akan senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang berperang di atas kebenaran, mereka akan selalu menang hingga hari kiamat (HR. Muslim nomor 156).

 مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعْطِي اللَّهُ، وَلَنْ يَزَالَ أَمْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ مُسْتَقِيمًا حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ، أَوْ: حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Artinya:

Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah menjadikannya pandai terhadap urusan agamanya, hanyasanya aku membagi sedang Allah Sang pemberi, dan keadaan umat ini akan terus senantiasa lurus hingga kiamat tiba, atau dengan redaksi, ‘hingga keputusan Allah tiba (HR. Muslim nomor 1037).

Demikian halnya dengan kezaliman yang semakin merebak di tengah umat manusia, maka seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah bahwa di tahun-tahun tertentu, Allah ta’ala akan mengaruniakan orang-orang yang menegakkan keadilan. Hal ini sebagaimana perjalanan kisah Hajjaj bin Yusuf yang zalim kepada para ulama dan kaum muslimin secara umum, dimana Allah mewafatkannya pada tahun 95 H dan menggantinya dengan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai Khalifah pada tahun 98 H. Meskipun beliau memerintah hanya selama 3 tahun saja, tetapi beliau mampu menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan kaum muslimin.

Hadis Anas bin Malik ini mengajarkan kepada kita bahwa pergantian zaman dan waktu hakikatnya mengisyaratkan semakin dekatnya hari kiamat, merebaknya kezaliman, berkurangnya ilmu dan ujian serta musibah lainnya. Namun seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Izinkan kami untuk mengingatkan diri pribadi dan kepada para jamaah sekalian untuk memperbanyak dua buah ibadah kepada Allah. Pertama, Mari memperbanyak doa kita kepada Allah, secara khusus untuk keselamatan saudara-saudara kita di Palestina. Karena telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pada hari jumat terdapat satu waktu yang singkat, tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah pada waktu tersebut melainkan doanya pasti akan diijabah. Kedua, mari memperbanyak salawat dan salam kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ                                          

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *