RAMADAN DAN GAZA TERCINTA

Oleh Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Dalam suasana Ramadhan yang syahdu ini, di tengah kebahagiaan kita atas masih terpilihnya kita memasuki Ramadhan tahun ini, marilah sejenak kita mengingat dan menyadarkan diri kita, bahwa sampai hari ini, sampai detik ini, sejak tanggal 7 Oktober 2023 silam, telah berlalu lebih dari 150 hari atau lebih dari 5 bulan lamanya, di sebuah belahan bumi bernama Gaza, dan sebuah pembantaian paling kejam dalam sejarah dunia modern dilakukan oleh penjajah Zionis Yahudi dengan dukungan penuh Amerika Serikat!

Dalam kurun waktu 5 bulan terakhir ini, penjajah Zionis telah melakukan lebih dari 2438 aksi pembantaian lewat darat maupun udara. Jumlah saudara-saudara kita yang gugur dan hilang akibat pembantaian itu mencapai lebih dari 35.176 orang; setidaknya 12.300 diantaranya adalah anak-anak dan lebih dari 8.400 perempuan!

Selebihnya yang masih bertahan hidup, mereka bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Setidaknya lebih dari 67.784 orang terluka, 11.000 orang diantaranya sangat membutuhkan evakuasi ke luar Gaza untuk pengobatan. Lebih dari 700.000 saudara-saudara kita di sana terkena penyakit menular akibat kondisi pengungsian yang buruk, dan lebih dari 60.000 wanita hamil terancam bahaya akibat sangat tidak memadainya fasilitas kesehatan!

Seperti itulah Ramadhan di Gaza tahun ini. Ramadhan tanpa rasa aman karena hidup dalam ancaman bom dan kejahatan perang. Ramadhan tanpa atap rumah berteduh lantaran luluh lantak akibat kekejaman Zionis. Ramadhan tanpa tahu besok harus makan sahur dengan apa, apalagi berpikir akan berbuka dengan apa. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan: “Lebih dari 2000 tenaga medis di Gaza tidak punya apa-apa untuk berbuka puasa di hari pertama bulan Ramadhan!”

Allahul Musta’aan…

Tragedi Gaza, Tragedi Palestina, sesungguhnya tidak hanya menjadi ujian bagi saudara-saudara kita di sana yang merasakan pahit getirnya secara langsung di bumi Gaza. Tragedi Gaza juga menjadi ujian bagi kita, kaum muslimin yang berada jauh dari titik terjadinya tragedi itu.
Yah, ini adalah ujian kesadaran keimanan kita sebagai orang-orang yang mengaku sebagai seorang mukmin. Ketika Allah Ta’ala memanggil kita untuk menunaikan kewajiban berpuasa, Allah Ta’ala memanggil kita dengan seruan kesadaran bernama “iman”:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahnya: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaiamana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar supaya kalian menjadi orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183).

Hanya orang-orang beriman yang layak menerima seruan kemuliaan ini. Orang-orang yang terikat dalam ikatan indah bernama “iman”. Kesadaran keimanan inilah yang akan terus diuji dan diuji oleh Allah Ta’ala dalam ragam bentuk ujian, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan.

Dan hari ini, keimanan kita diuji oleh Allah Ta’ala dengan Tragedi Gaza.
Allah Ta’ala menguji kita apakah simpul keimanan itu masih hadir dalam jiwa kita menyaksikan derita yang dialami oleh saudara-saudara kita kaum mukminin di Gaza?

Lihat juga  Jamaah Umroh Asal Manokwari Diingatkan Jaga Kebersamaan

Allah Ta’ala sedang menguji kita: apakah kita masih ingat Pesan Agung-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Artinya:“Hanya saja orang-orang beriman itu adalah (orang-orang) yang bersaudara.” (QS. Al-Hujurat ayat 10).

Allah Ta’ala menguji kita: apakah pada setiap suap cemilan nikmat saat berbuka, kita masih terpikir untuk menyisihkan sedikit rezki titipan Allah untuk mereka di Gaza?
Allah Ta’ala menguji kita: apakah pada setiap tegukan minuman dingin atau hangat yang membasahi tenggorokan, kita masih sadar untuk memberikan sumbangsih menghadirkan air bersih untuk mereka di Gaza?

Allah Ta’ala menguji kita: apakah pada setiap sujud yang khusyu’ dalam ruang-ruang Masjid kita yang dihembusi pendingin ruangan yang sejuk: kita masih sadar untuk tidak putus-putusnya melafalkan doa untuk mereka di Gaza?

Dalam usaha kita untuk menggugah kesadaran imaniyah itu, di hari-hari Ramadhan yang mulia ini, marilah merenungkan pesan mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits qudsinya, dimana beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ؟ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ: ‌أَمَا ‌عَلِمْتَ ‌أَنَّ ‌عَبْدِي ‌فُلَانًا ‌مَرِضَ ‌فَلَمْ ‌تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ،

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berkata pada Hari Kiamat: ‘Wahai Anak Adam! Aku telah sakit, tapi engkau tak datang menjengukKu?’ (Manusia itupun) bertanya: ‘Wahai Tuhanku! Bagaimana mungkin aku menjengukMu, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ (Allah) menjawab: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hambaKu, Si Fulan jatuh sakit, tapi engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, niscaya engkau akan dapati Aku di sisinya.’

يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي قَالَ: يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ؟ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي،

(Allah) berkata lagi: ‘Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan padamu, tapi engkau tidak memberiKu makan.’ (Manusia itupun) bertanya: ‘Wahai Tuhanku! Bagaimana mungkin aku memberiMu makan, sementara engkau adalah Tuhan semesta alam?’ (Allah) menjawab: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hambaKu, Si Fulan, telah meminta makan padamu, tapi engkau tidak memberinya? Tahukah engkau, jika engkau memberinya makan, niscaya engkau akan mendapati (pahala memberi makan) itu di sisiKu?’.

يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ؟ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ: اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تَسْقِهِ، أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي

(Allah berkata lagi): ‘Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum padamu, tapi engkau tak memberiKu minum.’ (Manusia itupun) bertanya: ‘Wahai Tuhanku! Bagaimana mungkin aku memberiMu minum, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ (Allah pun) menjawab: ‘HambaKu, Si Fulan, telah meminta minum padamu, tapi engkau tak memberinya minum. Tahukah engkau, jika engkau memberinya minum, niscaya engkau akan mendapati (pahala memberi minum) itu di sisiKu!’” (HR. Muslim)

Lihat juga  MEMANTASKAN DIRI MENUJU RAMADAN

Maka renungkanlah kedalaman pesan kenabian ini!

Bisa jadi, hamba yang akan ditanya dan digugat oleh Allah Ta’ala kelak pada hari kiamat dalam hadits itu adalah kita semua.

Apa yang telah kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Gaza selama lebih dari 150 hari terakhir ini?

Apakah kita sudah memberikan perhatian kepada mereka yang didera sakit tak henti-hentinya di sana?

Apakah kita sudah memberikan sedikit sumbangsih atas rasa lapar yang mendera mereka berbulan-bulan lamanya?

Apakah kita sudah tergerak untuk sekedar mengalirkan setetes air untuk menghapus dahaga mereka di Gaza?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi ingatan dan kesadaran keimanan kita di sepanjang hari-hari Ramadhan ini. Yakinlah, Ramadhan kali ini akan jauh lebih indah, jauh lebih berarti, jauh lebih membahagiakan kita semua, saat setiap kita berusaha melakukan aksi nyata sekecil dan sesederhana apapun untuk Gaza, untuk setiap hamba Allah yang hidup dalam derita mempertahankan agama dan tanah air kaum muslimin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ العِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bulan Ramadhan adalah bulan terbaik untuk berdoa. Hari-hari Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memanjatkan doa-doa terbaik kepada Allah Azza wa Jalla. Dan seminim-minimnya usaha membersamai perjuangan Palestina dan membersamai Gaza secara khusus adalah dengan melepaskan senjata terbaik seorang mukmin, yaitu doa.

Maka, kami berpesan melalui mimbar mulia ini kepada setiap hamba yang beriman: jangan biarkan 1 hari pun dari bulan Ramadhan ini tanpa mendoakan Gaza dalam doa-doa terbaik kita. Saat menjelang sahur, saat menjelang berbuka, dalam sujud-sujud panjang kita, dan pada setiap waktu mustajab berdoa.

Kepada para imam shalat, sisipkanlah doa-doa terbaik untuk Gaza dalam doa-doa qunut nazilah kita, sekurang-kurang pada penghujung witir dari shalat-shalat tarawih kita.
Semoga dengan kebaikan-kebaikan sederhana itu, Ramadhan kita kali ini dapat menjelma menjadi salah satu Ramadhan terbaik kita di sisi Allah.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *