RAMADAN MOMEN BANGKITNYA KEMULIAAN ISLAM

 Oleh Muhammad Ode Wahyu, S.Pd.I., S.H.

Saat ini kita telah berada pada tanggal 19 Ramadan . Itu berarti sebentar lagi 2/3 dari bulan Ramadan  ini akan berakhir. Dengan ini hendaknya kita semakin sering melakukan muhasabah diri. Sejauh ini, apakah kita sudah mulai memiliki sifat takwa yang menjadi tujuan disyariatkannya puasa itu, atau kita masih saja seperti dahulu sebagai manusia yang jauh dari petunjuk Allah?

Ramadan  hakikatnya merupakan bulan perubahan. Bulan tempat membiasakan diri dalam kebaikan, merubah kebiasaan buruk serta kelalaian lalu menggantinya dengan ketaatan. Inilah bulan yang seharusnya menjadikan setiap hamba beriman kembali pada agamanya, sebab dengan itulah mereka akan meraih ketakwaan dan mengembalikan izzah/kemuliaan umat ini di mata umat lainnya.

Sesungguhnya saat ini kita sedang berada pada masa yang sangat menyedihkan. Masa dimana umat-umat lainnya tidak merasa segan terhadap kaum muslimin, tidak memandang mulia Islam dan kaum muslimin. Kita berada pada masa kaum muslimin sangat lemah dan hina, masa yang pernah disebutkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Sudah dekat, (masa) dimana umat-umat lainnya akan berlomba-lomba untuk memperebutkan kalian, sebagaimana mereka memperebutkan makanan di dalam mangkuknya.” Berkatalah salah seorang sahabat, “Apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?” Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Justru kalian kaum muslimin pada saat itu sangat banyak, tapi kalian hanya seperti gelembung-gelembung (kumpulan busa) kecil di atas aliran air. Allah akan mencabut rasa segan musuh-musuh kalian terhadap diri kalian dan akan memasukkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Salah seorang sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud)

Saat ini kita menyaksikan, betapa banyak saudara-saudara kita di beberapa belahan dunia yang dibantai, sedang kita tidak bisa melakukan apa-apa demi membantu mereka dan menghilangkan penderitaan mereka.

Belum lama air mata ini mengering, karena mendengar penderitaan saudara-saudara kita kaum muslimin Uighur Cina dizalimi, belum lama air mata ini mengering karena mengetahui saudara-saudara kita di India disakiti, belum lama air mata ini mengering menyaksikan video-video saudara kita di Myanmar diperangi, dan saat ini air mata itu kembali menetes melihat saudara-saudara kita di Palestina dibantai setiap harinya, sedang kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kita begitu banyak, tapi kita tidak mampu melawan penindasan itu. Tidak bisa memperlihatkan betapa kuat dan gagahnya islam sebagaimana masa-masa kejayaannya dahulu. Inilah yang disebut oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-  dalam hadits tersebut “Justru jumlah kalian sangat banyak, tapi kalian hanya bagaikan gelembung-gelembung kecil di atas aliran air”

Kita banyak, tapi lemah, kita banyak namun sangat terhinakan. Kita hanya bisa mengirimkan seuntai doa dengan tangis yang membasahi pipi. Itupun,  yang sadar akan kehinaan ini sangatlah sedikit. Sebagian besar terlalaikan oleh keadaan nyaman yang mereka rasakan.

Dahulu, ada seorang wanita muslimah yang pergi berbelanja di pasar Bani Qainuqa’. Ia ke pasar dengan hijab dan cadarnya yang sempurna menutupi dirinya. Tapi, sesampainya di pasar orang-orang Yahudi ingin melihat wajahnya. Ia memberontak dan tidak membiarkan mereka melihatnya. Orang-orang Yahudi itu kemudian mengikat ujung jilbabnya secara diam-diam agar ketika ia berdiri jilbabnya tertarik dan  aurat serta wajahnya dapat terlihat. Saat ia berdiri, auratnyapun tersingkap dan kaum Yahudi menertawainya. Spontan ia berteriak karena ulah mereka, hingga berdirilah seorang laki-laki muslim lalu membunuh seorang Yahudi pelaku pengikat jilbab wanita itu. Sayangnya, orang-orang Yahudi kemudian membalas dengan membunuh pemuda muslim itu. Ketika kabar itu sampai pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau menyiapkan pasukan dan mengutus Hamzah bin Abdil Muththolib bersama pasukannya untuk menghadapi kaum Yahudi. 15 hari kaum Yahudi di kepung, lalu merekapun menyerah terhadap kaum muslimin.

Lihat juga  KEMBALINYA SANG TAMU AGUNG

Dimana kaum muslimin saat ini dari kemuliaan para salaf kita itu? Dimana kaum muslimin saat ini dari ketegasan serta keberanian itu? Jika dahulu hanya karena menjaga kehormatan wanita dan darah seorang muslim, kaum muslimin berperang melawan Yahudi, saat ini ratusan ribu kaum muslimin dibantai sedang kita tidak bisa berbuat apa-apa?
Saat ini kaum muslimin justru lebih suka mengikuti kebiasaan umat lain, mulai dari cara berpakaian, perayaan-perayaan dan lain sebagainya.

Lihatlah bagaimana sibuknya sebagian besar kaum muslimin pada malam tahun baru, padahal ini jelas-jelas berkaitan dengan perayaan umat lain. Lihatlah bagaimana juga sebagian muslim berpakaian pada hari natal, bahkan sebagian mereka ikut memikul patung yang dianggap tuhan oleh agama lain, seperti inikah yang mereka anggap sebagai kemuliaan islam?
Demi Allah, tidak sama sekali.

Parahnya, bahkan hanya untuk sekedar memboikot produk-produk yang secara nyata hasil penjualannya dipakai untuk mendanai pembantaian itu, kaum musliumin tidak mau melakukannya. Sebagian gadis muslimah takut memboikot karena khawatir tidak mendapat make up yang bisa membuat wajahnya glowing dan terlihat cantik menarik. Ibu-ibunya takut tidak mendapat penyedap masakan yang membuat masakan lezat, anak mudanya takut tidak mendapat minuman yang menyegarkan kerongkongannya, dan belum lagi berbagai alasan lainnya yang menunjukkan mereka mengabaikan saudara mereka yang sedang dibantai itu. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Apakah kita tidak merindukan kemuliaan seperti mereka dahulu dan lebih ingin mengekor pada umat-umat lainnya?

Kehinaan ini harus kita hilangkan. Kita tidak boleh terus berada dalam kondisi yang terpuruk ini. Dan, untuk kembali pada kemuliaan serta menghilangkan kehinaan ini adalah dengan kembali pada agama kita. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengabarkan hal itu. Beliau bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan cara al-Inah (salah satu jual beli riba), kalian mulai mengambil ekor-ekor sapi kalian, ridho dengan pertanian kalian dan meninggalkan jihad, maka Allah -Azza wajalla- akan  menghinakan kalian. Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian hingga kalian kembali pada agama kalan.” (HR. Abu Dawud)

Ramadan  inilah momen kebangkitan itu. Pada bulan ini kebaikan begitu mudah dilakukan, kemaksiatan sulit dilaksanakan, pintu-pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya sedang pintu keburukan ditutup sekuat-kuatnya. Maka, jalan untuk kembali pada kemuliaan itu sungguh sangat terbuka lebar.

Hanya saja, kita juga perlu intropeksi diri. Sejauh ini, setelah kita melalui hampir dua pertiga dari Ramadan  ini, adakah kita telah benar-benar kembali pada agama kita? Ataukah kita berpuasa hanya sekedar ikut-ikutan namun tidak mengetahui tujuan dari puasa itu, sehingga kita salah jalan dan tidak meraih tujuan dari puasa itu yang mengakibatkan Islam tidak pernah meraih kemuliaannya?

Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing, namun intinya, tidak kembalinya kita pada agama ini dengan sebenar-benarnya menyebabkan kita terhinakan bertahun-tahun lamanya. Ramadan  demi Ramadan  telah kita lalui berkali-kali, tapi kemuliaan Islam belum juga kembali, belum juga kita raih. Apakah ini menunjukkan adanya kesalahan dalam cara berpuasa kaum muslimin dan tidak adanya i’tikad untuk benar-benar kembali pada agama?

Atau, mungkin juga karena kaum muslimin terlalu sering berselisih pada ibadah-ibadah yang penyariatannya bertujuan untuk persatuan, justru menjadi sarana pertengkaran dan perselisihan, hingga Allah menghukum kaum muslimin dengan perpecahan serta kehinaan?

Jumlah raka’at shalat tarawih, awal masuk Ramadan, awal bulan Syawal dan ibadah-ibadah jama’iyah lainnya, selalu menjadi topik hangat perseteruan dan pertengkaran kaum muslimin pada bulan Ramadan . Padahal, semua ibadah itu disyariatkan dengan tujuan persatuan kaum muslimin, tapi malah dijadikan sebagai sarana pertengkaran. Jika seperti ini, pantaslah jika kemuliaan itu begitu sulit kita raih, karena yang menjadi sebab hilangnya kemuliaan, jutsru terus dilakukan.
Allah -Azza wajalla- berfirman:

Lihat juga  MENJAGA KEIKHLASAN DALAM PENGHAMBAAN

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal ayat 46)

Sejarah telah mencatat bahwa beberapa kemenangan kaum muslimin pernah terjadi pada bulan Ramadan . Bahkan, kemerdekaan negri ini pada tanggal 17 agustus 1945 juga terjadi pada bulan Ramadan . Semua itu merupakan berkat dari Allah yang Maha kuasa kemudian karena persatuan kaum muslimin.

Sudah saatnya kita mengembalikan kemuliaan umat ini dengan kembali pada agama kita,  Bulan Ramadan  merupakan momen yang paling tepat akan hal itu, maka jangan lalai di bulan ini. Manfaatkanlah tamu agung ini dengan ketaatan dan ketakwaan, semoga dengannya Allah kembalikan pada kemuliaan.

Ketakawaan yang kita raih pada bulan Ramadan  tidak boleh berhenti dengan berakhinya bulan Ramadan , melainkan terus dijaga hingga Allah –Azza wajalla- mempertemukan kita dengan ajal-ajal kita. Maka, sholat berjama’ah tetap kita laksanakan di masjid, tilawah kita terhadap al-Qur’an terus kita laksanakan, begitu juga dengan sedekah dan berbagai ketaatan lainnya. Semua harus terus kita jaga sekalipun Ramadan  telah berakhir. Karena tujuan kita adalah ketakwaan hingga akhir hayat kita, bukan ketakwan yang berbatas waktu pada bulan Ramadan  saja. Jika kita berhenti dari ketaatan dengan berakhirnya bulan Ramadan , itu pertanda kita tidak benar-benar kembali kepada agama ini, dan menjadi sebab sulitnya mengembalikan kemuliaan islam dan kaum muslimin.

Di sisa-sisa bulan Ramadan  ini, mari kita semakin meningkatkan dan memperbaiki kualitas ibadah kita, menyempurnakan yang kurang dan mempertahankan yang telah baik. Di masa akhir-akhir Ramadan  ini kita butuh taufik dari Allah agar kita bisa bertahan hingga akhir, bahkan hingga ajal menjemput kita. Perbanyaklah doa, agar Allah memberikannya.
Sebab, sebagian kaum muslimin saat ini sudah mulai terlihat lelah ibadahnya, hingga mereka tidak membaca al-Qur’an lagi, tidak sholat berjama’ah di masjid lagi, bahkan diantara mereka ada yang sudah tidak berpuasa lagi. Ini adalah musibah yang menimpa sebagian kita, maka perbanyaklah doa dan meminta petunjuk kepada Allah.
Ingat, hasil akhirlah yang menentukan semua ini.  Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya penentuan amalan-amalan itu pada saat akhir.” (HR. Bukhari)

Berusahalah untuk terus istiqamah hingga akhir hayat. Sebab, ada orang-orang yang diawal hidupnya penuh dengan kebaikan, hingga jarak antara dirinya dengan surga sudah sangat begitu dekat. Namun, diakhir hayatnya ia berhenti dari kebaikan-kebaikan itu dan malah beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga iapun masuk di dalamnya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda-:

إِنَّ العَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal dengan amalan penghuni neraka tapi ternyata ia adalah seorang penghuni surga. Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal dengan amalan penghuni surga namun ia ternyata menjadi penghuni neraka. Sesungguhnya penilaian amalan-amalan itu adalah pada akhir-akhirnya.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang bertakwa dan segera mengembalikan kemuliaan umat ini. Aamiin Allahumma amiin.

Sumber : Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *