KEMARAU, ANTARA SUNNATULLAH DAN MUHASABAH

JUMAT, 23 Safar 1448 H / 7 Agustus 2026 M
Oleh Rachmat Badani, Lc., MA

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ Layanan Pelanggan yang Dapat Diperpanjang وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan

أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menghindari seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak ketika kehidupan berjalan dengan mudah dan penuh kenikmatan, tetapi juga ketika Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai keadaan yang menuntut kesabaran, tawakal, dan keimanan yang semakin kokoh.

 

Dalam beberapa pekan terakhir, kita semua merasakan perubahan yang cukup mencolok pada kondisi cuaca. Kota Makassar dan banyak daerah lainnya di Indonesia sedang memasuki puncak musim kemarau. Matahari bersinar lebih terang dari biasanya, udara terasa lebih panas, hujan hampir tidak turun, dan di sejumlah daerah masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Lahan-lahan pertanian mulai mengering, sebagian petani mulai mengembalikan hasil panennya, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan juga semakin meningkat.

 

Fenomena ini bukan hanya kita rasakan di sekitar tempat tinggal kita. Berbagai daerah di Indonesia mengalami kondisi yang serupa. Sebagian waduk mengalami penyusutan debit udara, sejumlah sungai mulai mengering, dan pemerintah bersama masyarakat terus berupaya mengantisipasi dampak yang ditimbulkan oleh musim kemarau yang sedang berlangsung.

 

Bagi seorang mukmin, setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta tidak berhenti hanya sebagai fenomena alam yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Islam tidak pernah menolak penjelasan ilmiah tentang pergantian musim, arah angin, penguapan udara laut, serta berbagai hukum alam yang Allah tetapkan. Semua itu adalah bagian dari sunnatullah, yaitu ketetapan Allah dalam mengatur alam semesta.

 

Namun, seorang mukmin memandang lebih jauh dari sekadar sebab-sebab yang tampak di hadapan mata. Ia menyadari bahwa dibalik setiap ketetapan Allah terdapat hikmah, pelajaran, dan panggilan agar manusia kembali mengingat Rabbnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk memperhatikan fenomena alam sebagai ayat-ayat kauniyyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang memperkuat keimanan. Allah Subḥānahu wa Ta’ala berfirman,

 

اِنَّ فِى اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَّقُوْنَ

Terjemahnya: “Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang serta apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus [10]: 6).

Oleh karena itu, musim kemarau bukan sekedar pergantian musim, melainkan momentum untuk memikirkan kebesaran Allah, menyalakan diri, dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya. Pertanyaannya bukan hanya mengapa hujan belum turun, tetapi juga: pelajaran apa yang Allah kehendaki agar kita ambil dari keadaan ini?

 

Musim kemarau yang sedang kita alami memang menghadirkan berbagai kesulitan dalam kehidupan. Udara yang semakin terbatas menyulitkan kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, dan berbagai sektor kehidupan lainnya. Sawah-sawah mulai mengering, hasil panen terancam menurun, biaya produksi meningkat, dan tidak sedikit masyarakat yang harus menempuh jarak lebih jauh hanya untuk memperoleh udara bersih.

 

Pada saat yang sama, udara yang semakin panas meningkatkan risiko berbagai penyakit, sementara hutan dan lahan yang mengering menjadi lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi, bukan hanya pepohonan yang musnah, namun juga kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat terganggu, bahkan keselamatan jiwa dapat terancam.

 

Semua kenyataan tersebut tentu merupakan ujian yang tidak ringan. Namun, wahai kaum muslimin, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada kekeringan tanah, yaitu kekeringan hati karena mengingat Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Sebab tanah yang kering masih dapat kembali subur dengan turunnya hujan, sedangkan hati yang kering karena jauhnya hubungan dengan Allah tidak akan hidup kecuali dengan iman, taubat, dan zikir kepada-Nya.

 

Oleh karena itu, seorang mukmin tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa musim kemarau terjadi?” Akan tetapi ia juga bertanya, “Apa yang Allah inginkan dari kita melalui ujian ini?”

 

Ketika musikah datang, manusia tidak selalu menyikapinya dengan benar. Di tengah masyarakat, sering muncul berbagai sikap yang bertentangan dengan petunjuk syariat.

 

Pertama , ada yang memandang seluruh peristiwa alam semata-mata sebagai proses alam yang berdiri sendiri, seolah-olah alam bekerja tanpa kehendak dan pengaturan Allah. Mereka hanya berbicara tentang pergerakan angin, suhu, penguapan, atau perubahan iklim, tetapi melupakan bahwa seluruh sebab itu berada di bawah kekuasaan Rabb semesta alam. Padahal Allah berfirman,

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

Terjemahnya: “Maka terangkanlah aku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami yang menurunkannya? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan air itu asin. Maka kenapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Wāqi’ah [56]: 68–70).

 

Ayat ini mengajarkan bahwa di balik seluruh hukum alam terdapat kehendak Allah. Seorang muslim menerima penjelasan ilmiah tentang proses terjadinya hujan, namun ia juga meyakini bahwa yang menciptakan hukum-hukum alam itu, menggerakkan awan, mengatur angin, dan menurunkan hujan hanyalah Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

 

Kedua , ada pula yang mencari jalan keluar melalui cara-cara yang menyimpang dari akidah Islam. Ketika hujan tak turun, sebagian orang melakukan ritual-ritual yang tidak pernah mengajarkan Rasulullah ﷺ, meminta pertolongan kepada selain Allah, mempersembahkan sesajen, mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat, atau menggantungkan harapan kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

 

Semua bentuk keyakinan seperti ini merupakan penyimpangan yang sangat berbahaya, karena mengalihkan ibadah kepada selain Allah. Padahal meminta hujan adalah doa, sedangkan doa merupakan ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata. Allah berfirman,

وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا

Terjemahnya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah atau berdoa kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18).

 

Ketiga , tidak sedikit pula orang yang memutuskan asa. Masalah yang berkepanjangan membuat mereka merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka. Ada yang mengeluh tanpa batas, ada yang memahami keadilan Allah, bahkan ada yang kehilangan harapan terhadap rahmat-Nya. Padahal Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.

اِنَّهٗ لَا يَايْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Terjemahnya: “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87).

Seorang mukmin memahami bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah, padahal hikmah itu belum tampak di hadapan mata.

 

Keempat , yang juga patut kita renungkan adalah kecenderungan untuk hanya sibuk mencari penyebab di luar diri, tetapi lupa melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa berbagai musibah hendaknya menjadi momentum untuk kembali kepada Allah, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, dan meninggalkan kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,

 وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ

Terjemahnya: “Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syūrā [42]: 30).

 

Ayat ini tidak berarti bahwa setiap orang yang tertimpa musik pasti sedang dihukum oleh Allah. Para nabi, orang-orang saleh, bahkan Rasulullah ﷺ juga diuji dengan berbagai kesulitan. Namun, ayat ini mengajarkan kepada kita agar setiap musibah menjadi kesempatan untuk bercermin, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki hubungan dengan Allah, bukan sekedar sibuk menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam.

 

Maka, kaum Muslimin sekalian, musim kemarau bukan hanya menguji persediaan air kita, tetapi juga menguji kualitas tauhid, kesabaran, tawakal, rasa syukur, dan ketundukan kita kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Setelah kita memahami berbagai pelajaran yang dapat dipelajari dari musim kemarau, maka muncul pertanyaan yang sangat penting: Bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi keadaan ini?

Islam adalah agama yang sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan akidah yang lurus, tetapi juga membimbing umatnya dalam menghadapi setiap keadaan kehidupan, baik ketika mendapatkan kenikmatan maupun ketika ditimpa musibah.

 

Pertama: Meyakini bahwa musim kemarau adalah bagian dari sunnatullah dan terjadi dengan hikmah Allah.

Pergantian musim, turunnya hujan, meniupnya angin, bahkan panjang dan pendeknya musim kemarau bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Semua itu berada di bawah pengaturan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Allah berfirman,

وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Terjemahnya: “Pada udara yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan udara itu Dia menghidupkan bumi setelah matinya dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang mengendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi umat yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah [2]: 164).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh fenomena alam adalah ayat-ayat Allah, bukan sekadar gejala-gejala fisika yang hampa makna. Oleh karena itu, seorang mukmin memandang musim kemarau dengan dua pandangan sekaligus: ia mengakui sebab-sebab alamiah yang Allah ciptakan, namun hatinya tetap bergantung kepada Musabbib al-Asbāb, yaitu Allah yang menciptakan dan mengatur seluruh sebab tersebut.

 

Dengan keyakinan seperti ini, hati seorang mukmin akan tenang. Ia tidak larut dalam ketakutan, tidak pula putus asa, karena ia mengetahui bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang keluar dari ilmu, hikmah, dan kasih sayang Allah.

 

Kedua: Syariat memerintahkan kita untuk melakukan ikhtiar.

Tawakal bukan berarti berpangku tangan. Justru tawakal yang benar lahir setelah seseorang melakukan ikhtiar yang diperintahkan syariat. Dalam menghadapi musim kemarau, setiap muslim berusaha semampunya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Menghemat penggunaan udara, tidak menyia-nyiakannya, menjaga kelestarian lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan, serta membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan memperoleh udara merupakan bagian dari tanggung jawab yang mengajarkan Islam.

 

Rasulullah ﷺ bahkan umat Islam mempunyai sikap yang berlebihan-lebihan dalam menggunakan udara, apalagi ketika seseorang berwudu di sungai yang airnya mengalir. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kenikmatan udara adalah bagian dari akhlak seorang muslim.

 

Lebih dari itu, Allah telah melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi.

Terjemahnya: “Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’rāf [7]: 56).

Betapa banyak kerusakan lingkungan yang sesungguhnya lahir dari ulah tangan manusia sendiri: penebangan hutan tanpa kendali, pembakaran lahan, pencemaran sungai, dan pemborosan sumber daya alam. Semua ini memperberat dampak yang dirasakan masyarakat ketika musim kemarau tiba.

 

Ketiga: Musim kemarau hendaknya menjadi momentum untuk memperbanyak taubat dan istighfar.

Di antara pelajaran terbesar yang diajarkan Al-Qur’an adalah bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah. Nabi Nuh ‘alaihissalām berkata kepada kaumnya,

اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًا

Terjemahnya: “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebunmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'” (QS. Nūḥ [71]: 10–12).

 

Perhatikanlah, wahai kaum muslimin. Ayat ini tidak mengajarkan bahwa istighfar hanyalah ucapan lisan, tetapi merupakan jalan kembali kepada Allah melalui taubat yang sungguh-sungguh. Ketika dosa ditinggalkan, kezaliman dihentikan, hak-hak manusia ditunaikan, dan hati dipenuhi ketundukan kepada Allah, maka terbukalah pintu-pintu keberkahan yang sebelumnya tertutup.

 

Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat kita, memperbaiki hubungan dengan keluarga, menjauhi riba, meninggalkan kezaliman, menjaga lisan dari ghibah dan fitnah, serta memperbanyak sedekah dan amal saleh. Jangan sampai kita berharap turunnya hujan, tapi pada saat yang sama kita tetap mempertahankan dosa-dosa yang mengundang murka Allah.

 

Keempat: Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk memohon hujan kepada Allah melalui shalat istisqa’.

Apabila kemarau berkepanjangan dan masyarakat mulai mengalami kesulitan, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan ritual-ritual yang berasal dari tradisi jahiliah. Beliau mengajarkan umatnya untuk menonjolkan diri di hadapan Allah melalui shalat istisqa’.

 

Dalam shalat itu, kaum muslimin berkumpul, memperbanyak istighfar, berdoa dengan penuh kerendahan hati, memuji Allah, mengakui dosa-dosa mereka, lalu memohon agar Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan. Ini menunjukkan bahwa solusi pertama yang diajarkan Islam ketika menghadapi kemarau bukanlah mencari kekuatan gaib selain Allah, melainkan memperkuat tauhid, memperbanyak doa, dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya.

 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Sesungguhnya yang paling kita khawatirkan bukanlah langit yang lama tidak menurunkan hujan, tetapi hati yang lama tidak tersentuh oleh nasihat. Sebab, hujan yang turun hanya menghidupkan bumi, sedangkan hidayah Allah menghidupkan hati. Tanah yang gersang dapat kembali menghijau dalam hitungan hari, tetapi hati yang keras tidak akan hidup kecuali dengan taubat, zikir, dan ketaatan kepada Allah.

 

Maka marilah kita jadikan musim kemarau ini sebagai momentum untuk memperkuat tauhid, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, dan memperbanyak doa kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Mudah-mudahan Allah menurunkan kepada kita hujan yang membawa rahmat, bukan hujan yang membawa bencana; hujan yang menumbuhkan tanaman, mengisi sungai-sungai, menghidupkan bumi yang mati, sekaligus menghidupkan hati-hati kita dengan keimanan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ Pengoperasian Perangkat Keras

عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ المُتَّقِينَ وَعُدَّةُ الصَّالِحِينَ.

Marilah kita menengadahkan tangan dan hati kita kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمٌؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan الْكَافِرِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، عَلَيْنَا مِدْرَارًا، وَاسْقِنَا غَيْثًا Peralatan Rumah Tangga yang Dapat Diatur Secara Otomatis baiklah.

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، dan رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ.

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ غَيْثًا هَنِيئًا مَرِيئًا، طَبَقًا مُجَلِّلًا، Perlindungan Lingkungan yang Dapat Diandalkan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan لِلْحَاضِرِ وَالْبَادِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَمَكْرُوهٍ.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ لِلرَّعِيَّةِ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ