JUMAT, 17 Muharram 1448 H / 03 Juli 2026 M
Oleh Rachmat Badani, Lc., MA
Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ Layanan Pelanggan yang Dapat Diatur وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا dan مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ dan ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
أَيُّهَا النَّاسُ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan sekedar ucapan yang diucapkan secara lisan, bukan pula simbol yang tampak pada penampilan. Takwa adalah keadaan hati yang selalu merasa dicintai oleh Allah, sehingga mendorong seorang hamba untuk menaati segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Allah Subḥānahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai orang-orang yang berserah diri (muslim)..” (QS.Ali ‘Imrān : 102).
Kita hidup pada masa yang penuh dengan dinamika. Dunia seakan tidak pernah berhenti menyajikan tontonan demi tontonan, hiburan demi hiburan, kompetisi demi kompetisi, dan acara demi acara yang silih berganti memenuhi perhatian manusia. Dalam hitungan detik, berita dari berbagai penjuru bumi dapat masuk ke dalam genggaman. Apa yang terjadi di belahan dunia lain segera menjadi perbincangan di ruang-ruang keluarga, kantor, kampus, hingga media sosial.
Berbagai perhelatan internasional, pertandingan olahraga, konser hiburan, perkembangan teknologi, hingga tren media sosial berhasil menyita perhatian jutaan bahkan miliaran manusia. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti setiap perkembangan, menghafal statistik, memperdebatkan hasil pertandingan, atau larut dalam euforia yang sesungguhnya tidak memberikan manfaat bagi kehidupan akhiratnya.
Padahal, pada saat yang sama, di berbagai penjuru dunia, saudara-saudara kita sesama Muslim sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Ada yang kehilangan keamanan, kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan nyawa. Sebagian negeri umat Islam masih bergulat dengan peperangan, penjajahan, kemiskinan, perpecahan, dan berbagai persoalan internal yang belum kunjung usai. Di tempat lain, umat Islam menghadapi gelombang pemikiran yang berusaha mengikis akidah, melenyapkan identitas Islam, serta menjauhkan generasi muda dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Inilah salah satu ciri zaman yang telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ: zaman yang penuh dengan ujian. Ujian bukan hanya berupa peperangan atau bencana. Ujian juga dapat berupa sesuatu yang tampak indah, menghibur, dan menyenangkan, tetapi perlahan mengalihkan hati seorang mukmin dari tujuan utama penciptaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
Artinya: “Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah (ujian) yang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap.” (HR.Muslim nomor 118).
Hadis ini menggambarkan bahwa fitnah atau ujian tidak selalu datang secara terang-terangan. Ada ujian yang datang perlahan, menguasai perhatian, memenuhi pikiran, lalu tanpa disadari menggerus kepekaan hati terhadap Allah. Seseorang mungkin tetap mengaku beriman, tetapi hidupnya berubah. Waktu, tenaga, pikiran, dan kecintaannya lebih banyak dicurahkan untuk urusan dunia daripada untuk mendekat kepada Rabb semesta alam.
Islam tidak pernah melarang umatnya memanfaatkan dunia. Islam juga tidak mengharamkan hiburan yang halal, olahraga yang bermanfaat, ataupun kemajuan peradaban. Bahkan seorang mukmin dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat, produktif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun Islam memberikan peringatan yang sangat tegas ketika dunia tidak lagi berada di tangan, melainkan telah berpindah ke dalam hati. Ketika dunia menjadi ukuran kemuliaan, ketika hiburan lebih dinanti daripada panggilan salat, ketika berita dunia lebih menarik daripada ayat-ayat al-Qur’an, ketika kemenangan sebuah pertandingan lebih membangkitkan emosi daripada penderitaan kaum Muslimin, maka saat itulah seorang mukmin perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Masihkah Allah menjadi pusat perhatian kasih sayang, ataukah dunia telah mengambil tempat itu?”
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah mengingatkan:
اِعْلَمُوْا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan وَالْاَوْلَادِۗ
Terjemahnya: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak-anak…” (QS. Al-Ḥadīd: 20).
Ayat ini tidak menyatakan bahwa seluruh urusan dunia adalah tercela. Namun, Allah mengingatkan bahwa dunia memiliki tabiat yang mampu melalaikan manusia jika tidak dikendalikan oleh iman. Dunia menawarkan kesenangan yang sesaat, tetapi sering kali membuat manusia lupa bahwa kehidupan yang hakiki berada di akhirat.
Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang ramai dibicarakan manusia?” Akan tetapi, yang lebih penting adalah bertanya, “Apakah hal yang sedang memenuhi pikiranku ini mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan diriku dari-Nya?” Pertanyaan inilah yang akan menjadi titik tolak muhasabah kita pada khutbah hari ini, agar jangan sampai kita termasuk orang-orang yang begitu sibuk mengejar dunia, tapi perlahan kehilangan pertolongan dan bimbingan dari Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.
Di antara bahaya terbesar yang mengintai seorang mukmin pada zaman ini bukanlah semata-mata kemiskinan, peperangan, atau krisis ekonomi. Bahaya yang jauh lebih besar adalah ketika fitnah dunia berhasil mengubah cara berpikir, cara hidup, bahkan cara memandang kehidupan, sehingga identitas seorang Muslim semakin memudar.
Musuh terbesar seorang mukmin tidak selalu datang dengan pedang yang terhunus. Kadang-kadang ia datang dalam bentuk hiburan yang tidak mengenal batas, budaya yang dipol begitu menarik, gaya hidup yang dipromosikan tanpa henti, serta arus informasi yang terus-menerus membentuk cara memandang manusia. Sedikit demi sedikit, seorang Muslim bisa lebih mengenal tokoh-tokoh dunia daripada para nabi, lebih hafal jadwal pertandingan daripada waktu-waktu utama beribadah, lebih antusias menyambut hiburan daripada menghadiri majelis ilmu.
Padahal Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah mengingatkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukanlah karena ia mengikuti arus dunia, melainkan karena ia menjaga jati dirinya sebagai hamba Allah.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Terjemahnya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu benar-benar beriman.” (QS.Ali ‘Imrān : 139).
Ayat ini mengajarkan bahwa identitas tertinggi seorang muslim adalah keimanannya, bukan popularitasnya, bukan hartanya, bukan pula pengakuan dunia terhadap dirinya. Ketika iman menjadi ukuran kemuliaan, seorang mukmin tidak mudah hanyut mengikuti setiap gelombang yang datang silih berganti.
Fenomena lain yang patut menjadi renungan kita adalah semakin kaburnya batas antara yang halal dan yang haram dalam kehidupan masyarakat. Perjudian, misalnya, dahulu identik dengan tempat-tempat tertentu. Hari ini, ia dapat masuk ke rumah-rumah melalui layar genggaman telepon. Dengan berbagai nama, berbagai bentuk, dan berbagai kemasan, praktik perjudian terus mencari jalan untuk menggoda manusia. Sebagian tergiur karena ingin memperoleh keuntungan secara instan. Sebagian lainnya mengira hanya permainan yang berbalut kesenangan disertai tontonan pertandingan. Padahal syariat memandangnya sebagai dosa besar yang merusak agama, akal, harta, dan hubungan antarmanusia.
Allah Subḥānahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ
Terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, perjudian, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung. Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan perjudian, serta menghalangi kamu dari Allah dan dari salat. Maka tidakkah kamu berhenti?” (QS. Al-Mā’idah : 90–91).
Perhatikanlah, jamaah yang dimuliakan Allah. Ayat ini tidak hanya menjelaskan bahwa perjudian itu haram. Allah juga mengungkap tujuan setan di baliknya.
Pertama, menimbulkan permusuhan.
Kedua, kan kur.
Ketiga, menghalangi manusia dari mengingat Allah.
Keempat, melalaikan salat.
Inilah kerugian yang sesungguhnya. Harta mungkin dapat dicari kembali. Namun, ketika hati telah jauh dari Allah, ketika zikir terasa berat, ketika salat menjadi beban, ketika maksiat terasa biasa, maka itulah kerugian yang tidak dapat diukur dengan materi apa pun.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada perjudian. Hal yang sama dapat muncul dalam berbagai bentuk hiburan yang melalaikan, kecanduan media sosial, tontonan yang merusak moral, budaya konsumtif, hingga kebiasaan menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda baik keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmiżi nomor 2317).
Hadis ini memberikan ukuran yang sangat indah. Kualitas keislaman seseorang tidak hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan perkara-perkara yang sia-sia. Sayangnya, zaman ini justru mengajarkan manusia untuk sibuk terhadap segala sesuatu. Setiap informasi ingin diketahui. Setiap kejadian ingin diikuti. Setiap hiburan ingin disaksikan. Alhasil, waktu habis, hati lelah, pikiran penuh, namun hubungan dengan Allah justru semakin renggang.
Lebih mencerminkan lagi ketika seorang mukmin mulai merasa asing terhadap syariat. Maksiat tidak lagi dianggap sebagai dosa, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup. Kebenaran diukur berdasarkan suara mayoritas, bukan berdasarkan wahyu. Ukuran sukses adalah bahan, bukan keberkahan. Ukuran bahagia adalah kesenangan saat ini, bukan keridaan Allah.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
Layanan Pelanggan yang Dapat Diatur dengan Baik فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya: “Islam datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” (HR.Muslim nomor 145).
Orang-orang yang “asing” itu bukanlah mereka yang mengasingkan diri dari masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang tetap memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah ketika banyak manusia memilih mengikuti hawa nafsu dan arus zaman. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengira bahwa bahaya terbesar hanyalah kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, atau kehilangan harta. Semua itu masih mungkin Allah ganti dengan yang lebih baik. Tetapi ada satu kehilangan yang jauh lebih menakutkan: kehilangan kedekatan dengan Allah.
Ketika hati tak lagi tersentuh oleh ayat-ayat-Nya.
Ketika telinga lebih senang mendengar hiburan daripada nasihat.
Ketika mata lebih mudah menangis karena urusan dunia daripada karena takut kepada Allah.
Ketika maksiat tidak lagi terasa sebagai dosa.
Ketika salat mulai ditunda, Al-Qur’an mulai ditinggalkan, dan zikir mulai dilupakan.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka seorang hamba sedang berjalan menuju musibah yang paling besar. Bukan sekedar kehilangan dunia, tapi kehilangan taufik dan pertolongan dari Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
Setelah kita memikirkan berbagai fitnah zaman, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apa sebenarnya musibah terbesar yang dapat menimpa seorang hamba? Sebagian besar orang mengira bahwa musik terbesar adalah kehilangan harta. Sebagian lagi menganggap kehilangan jabatan, usaha yang bangkrut, penyakit yang berat, atau wafatnya orang yang dicintai sebagai musik terbesar.
Semua itu memang ujian yang berat. Akan tetapi, ketahuilah, wahai kaum Muslimin, semua musibah itu masih lebih ringan dibandingkan satu musibah yang sering tidak disadari, yaitu ketika Allah tidak lagi memberikan taufik kepada seorang hamba untuk tetap berada di atas jalan kebenaran.
Inilah yang oleh para ulama disebut dengan الْخِذْلَانُ (al-khidzlān), yaitu ketika Allah membiarkan seorang hamba mengikuti hawa nafsunya, tidak lagi diberi kekuatan untuk taat, tidak lagi mudah menerima nasehat, dan tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan dosa. Seorang penyair Arab berkata:
إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى _ فَأَوَّلُ مَا يَجْنِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ
Artinya: “Apabila seorang hamba tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka yang pertama kali mencelakakannya adalah usahanya sendiri.”
Artinya, kepandaian, pengalaman, jabatan, bahkan amal yang banyak sekalipun tidak akan menyelamatkan seseorang apabila Allah mencabut taufik-Nya.
Perhatikanlah doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, manusia yang telah dijamin surganya. Beliau berdoa: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Ketika para sahabat bertanya mengapa dia sering membaca doa itu, padahal dia adalah Rasulullah, dia menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah; Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.
Subḥānallāh…
Jika Rasulullah ﷺ saja selalu memohon keteguhan hati, lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari bergelimang dosa dan kejahatan? Betapa banyak orang yang dahulu rajin ke masjid, tetapi hari ini meninggalkannya. Betapa banyak orang dahulu yang mencintai Al-Qur’an, kini hampir tidak pernah membukanya. Betapa banyak yang lalu menangis ketika mendengar nasehat, kini hatinya tak lagi tersentuh. Bukan karena mereka kehilangan kecerdasan. Bukan karena mereka kehilangan kesempatan. Tetapi karena taufik Allah mulai tercabut sedikit demi sedikit. Na’ūdzu billāhi min dzālik.
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan sebuah sunnatullah yang sangat menggetarkan hati. Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
Terjemahnya: “Maka ketika mereka menyimpang, Allah menjadikan hati mereka semakin menyimpang. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.Aṣ-Ṣaff : 5).
Perhatikan susunan ayat ini. Mereka menjauh terlebih dahulu… kemudian Allah membiarkan hati mereka semakin menjauh. Ini menunjukkan bahwa dosa yang terus menerus dilakukan tanpa obat dapat dicabutnya hidayah. Dan Inilah balasan yang paling menakutkan.
Seseorang masih sehat. Masih kaya. Masih memiliki keluarga. Masih tersenyum. Masih dipuji manusia. Tetapi ia tidak lagi menikmati salat. Tidak lagi rindu kepada Al-Qur’an. Tidak lagi takut berbuat maksiat. Tidak lagi malu kepada Allah. Bukankah itu musik yang jauh lebih besar daripada kehilangan seluruh dunia?
Kita memohon kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, semoga Dia tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang dilupakan karena melupakan-Nya, dan semoga Dia selalu berharap hati kita di atas agama-Nya hingga akhir kehidupan…
إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً dan حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.










