MANOKWARI, PAPUAKITA.com—Penyakit Corona Virus Disease atau Covid-19 telah terdeksi menyerang warga di Papua Barat. Sesuai dengan data yang dirilis Gugus Tugas (Gustu) Covid-19 Provinsi Papua Barat, Sabtu (6/6/2020) sebanyak 178 orang dinyatakan positif.
Dari 178 kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi di sejumlah kabupaten dan kota di Papua Barat, diataranya 74 kasus dinyatakan sembuh dan dua kasus meninggal. Selain itu, dari sekian ratus kassus Covid-19 juga terdapat Orang Asli Papua (OAP).

Juru Bicara Gustu Covid-19, dr. Arnold Tiniap mengatakan, di beberapa wilayah yang masuk zona merah terdapat kasus positif Covid-19 yang penderitanya adalah OAP. Ia mengatakan, kasus positif Covid-19 ini ditemukan di kabupaten Manokwari,Teluk Bintuni, Raja Ampat, dan Kota Sorong.
“Kita belum memilah pasien Covid-19 antara OAP dan non OAP. Itu penting juga menjadi bahan edukasi yang kemudian bisa menjadi perhatian bagi kita. Sebab sebagian besar orang (asli) Papua itu beranggapan penyakit ini tidak kena kita. Contohnya, kita lihat dari data-data ada delapan kasus di Manokwari, dua ini OAP,” jelas Tiniap.
Di daerah lain, menurutnya, tidak menutup kemungkinan ada kasus serupa. Hal itu dilihat dari data ada pasien dengan menggunakan marga orang asli Papua. Kendati demikian, dirinya mengungkapkan untuk memastikan jumlah kasusnya khusus OAP perlu melakukan pemilahan.
“Berapa mungkin ada orang asli Papua yang tidak munculkan marga, ini bisa saja. Orang asli Papua yang terkonfirmasi positif Covid-19 ada di Manokwari, Bintuni, Raja Ampat, dan Kota Sorong. Kabupaten Sorong belum perhatikan betul. Teluk Wondama tidak ada,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama secara terpisah, Ketua Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Barat (MRPB) Maxsi Nelson Ahoren mengatakan, kasus positif Covid-19 di Papua Barat terus meningkat, dan telah menjangkiti siapa saja tanpa memandang suku, agama dan ras. Sehingga patut menjadi perhatian seluruh masyarakat.
Kata Maxsi Ahoren, pemerintah telah melakukan berbagai upaya termasuk mengeluarkan imbauan dan edaran untuk menekan penularan Covid-19 di daerah ini. Akan tetapi, upaya yang dilakukan tak akan membuahkan hasil jika tak mendapat dukung masyarakat.
“Kita di Papua Barat ini masih bebas, orang bisa berjalan ke mana saja tanpa menggunakan masker. Pemerintah sudah bekerja maksimal, tetapi tidak didukung oleh masyarakat, maka sama saja,” ujarnya.
Khusus kepada warga asli Papua, selaku ketua MRPB, Maxsi Ahoren mengimbau, masyarakat untuk selalu berusaha menjauhkan diri dari keramaian, menerapkan protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Juga menaati imbauan tentang physical distancing dan social distancing / jika tidak ada keperluan penting maka sedapat mungkin berada di rumah saja untuk menghindarkan diri dan keluarga dari paparan Covid-19.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat (asli) Papua, mari kita mendukung apa yang menjadi program pemerintah. Kita juga tidak terlalu berharap besar kepada pemerintah dalam hal bantuan sembako
Sembako yang hari ini dikasih tidak akan mencukupi kebutuhan dalam 2-3 bulan ke depan. Mari, kita mengelola lahan atau tanah kita, kalau mengelola tanah atau lahan bisa mendukung kita dalam beberapa bulan ke depan,” tutupnya. (ARI)


