Revitalisasi Gerak Tari Kaimana, identitas kultural dalam penciptaan koreografi berbasis lokal

KAIMANA, PAPUAKITA.com—Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kaimana menggelar pelatihan koreografi dengan mengangkat tema “Revitalisasi Gerak Tari Kaimana sebagai Identitas Kultural dalam Penciptaan Koreografi Kontemporer Berbasis Lokal.”
Kegiatan dijadwalkan selama 3 hari melibatkan sejumlah Kepala suku asli Kaimana serta ketua sanggar seni yang tersebar di wilayah Kabupaten Kaimana.
Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber berkompeten, yakni Sri Mulyani, koreografer senior asal Surabaya yang sejak 1982 konsisten melestarikan tari tradisional sekaligus menciptakan berbagai karya tari kreasi baru, serta George Yomaki, salah satu pendiri Sanggar Iriantos Manokwari.

Pelatihan koreografi tersebut secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan, Blasius Kilmas, mewakili Bupati Kaimana.

Dalam sambutannya, Blasius Kilmas menegaskan bahwa budaya memiliki peran penting untuk terus dikembangkan, dijaga, dan dirawat sebagai identitas masyarakat daerah.

Dikatakan Blasius Kilmas selama ini sejumlah tarian yang ditampilkan di Kaimana masih banyak mengadopsi budaya dari daerah lain. Oleh karena itu, melalui pelatihan ini diharapkan lahir tari kreasi yang benar-benar mencerminkan kekhasan budaya Kaimana.

“Peserta dan narasumber harus mampu berkolaborasi menciptakan tarian khusus Kaimana sehingga memiliki ciri yang berbeda dari suku lain. Yosim Pancar berasal dari Biak dan Serui. Sementara Seka Kaimana juga masih mirip dengan milik Mimika. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk melahirkan tarian yang berakar dari budaya asli delapan suku di Kaimana,” jelasnya dalam keterangan tertulis Rabu 6 Mei 2026.

Blasius Kilmas berharap agar kepala suku untuk aktif memberikan masukan kepada narasumber mengenai bentuk tarian penyambutan tamu dari masing-masing suku. Masukan tersebut nantinya dipadukan menjadi sebuah karya koreografi baru yang merepresentasikan identitas budaya orang asli Kaimana.

Sementara, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaimana, Jahra Slamet, mengakui bahwa selama ini pemerintah daerah masih mengalami kesulitan dalam menentukan satu tarian khas yang menjadi identitas daerah.

Menurutnya, pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan satu karya tari khas Kaimana. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan semata tarian tradisional, melainkan koreografi yang bisa bersifat modern namun tetap berangkat dari gerak dasar budaya setiap suku asli Kaimana.

“Gerak dasarnya harus memiliki makna budaya dari masing-masing suku. Makna inilah yang akan disampaikan kepada narasumber agar dapat dirumuskan menjadi satu tarian khusus Kaimana,” jelasnya.

Jahra berharap melalui kegiatan pelatihan koreografi ini para peserta dapat memperoleh pengetahuan serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai gerak dasar tari sebagai fondasi penciptaan karya seni budaya daerah.

Melalui pelatihan ini juga diharapkan bisa lahir karya tari kreasi yang tidak hanya menjadi identitas budaya lokal, tetapi juga mampu memperkuat pelestarian nilai budaya masyarakat asli Kaimana di tengah perkembangan seni pertunjukan modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *