Beranda Kesehatan Dinilai Sosialisasi Imunisasi Gratis Campak-Rubella di Papua Barat Belum Maksimal

Dinilai Sosialisasi Imunisasi Gratis Campak-Rubella di Papua Barat Belum Maksimal

542
0
Imunisasi campak-rubella
Spanduk sosialisasi imunisasi massal Campak dan Rubella. Dinilai sosialisasi di daerah ini belum maksimal. Foto : Istimewa.

MANOKWARI, Papuakita.com – Direktur Citra Sehat Papua, Napoleon Fakdawer menilai, sosialisasi imunisasi campak dan rubella atau Measles dan Rubella (MR) di Tanah Papua secara khusus di Provinisi Papua Barat belum maksimal.

“Imunisasi campak dan rubella belum diikuti dengan sosialissasi yang baik bagi masyarakat. Pesan penting disampaikan melalui media massa dan spanduk terkesan menakuti masyarakat. Apabila tidak imunisasi, maka anak akan menderita bocor jantung dan lainnya. Ini tentunya sangat tidak mendidik. Penyampaian pesan ini harusnya disesuaikan dengan keadaan masyarakat di tiap daerah,” kata Napoleon Fakdawer, Senin (6/8/2018).

Kata dia, sosialisasi yang dilakukan perlu dievaluasi. Sehingga memberikan informasi secara komprehensif kepada masyarakat luas dan secara khusus kepada masyarakat (asli) Papua tentang imunisasi campak dan rubella.

Citra Sehat Papua
Direktur Citra Sehat Papua, Napoleon Fakdawer. Foto : Istimewa

“Fatwa MUI soal halal-haram terkait vaksin MR ini harus menjadi kajian dan perhatian pemerintah secara berjenjang. Hal lain yang harus diperhatikan, Tanah Papua sebagai daerah konflik sehingga intervensi pemerintah sebaik apapun akan direspon negatif oleh masyarakat (asli) Papua. Konteks ini dilihat sebagai upaya membunuh generasi papua dalam konteks Papua merdeka,” ujarnya.

Menurut Napoleon Fakdawer, kampanye imunisasi campak dan rubella masif dilakukan melalui media massa. Ini diharapkan mendapat respon dengan baik oleh masyarakat.  Sayangnya, pelaksanaan program nasional ini kurang menunjukan adanya sinergitas kelembagaan.

Belum semua pihak, baik itu lembaga keagamaan, tokoh perempuan dan LSM dilibatkan, sehingga terkesan hanya menjadi pekerjaan pemerintah melalui dinas kesehatan saja.

“Melibatkan semua pihak dalam pelaksanaan kegiatan perlu dilakukan. Misalnya, pendekatan LSM yang punya basis di masyarakat melakukan sosialisasi, melibatkan gereja dalam sosialisasi sehingga program imunisasi disampaikan ke kampung-kampung. Ini tentu akan lebih efektif dan tidak menimbulkan banyak pertanyaan dan keresahan di tengah masyarakat,” ujar Napoleon lagi.

Meski mengkritisi pelaksanaan imunisasi MR yang terkesan kurang dalam hal penyebarluasan informasi, Napoleon Fakdawer menyatakan komitmennya, untuk mendukung apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

“Selama ini, kami tidak pernah dilibatkan tetapi sebagai tanggung jawab moral, kami harus bantu pemerintah. LSM Citra Sehat Papua fokus pada isu perempuan dan anak di kota Manokwari mengajak dan menghimbau orang tua untuk membawa anak-anak ke pusat kesehatan masyarakat terdekat supaya mendapatkan imunisasi campak dan rubella,” kata Napoleon Fakdawer.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat membidik target imunisasi campak dan rubella mencapai 95 persen. Target itu dimaksudkan agar eliminasi campak dan pengendalian rubella dapat terwujud pada 2020.

Imunisasi ini diberikan kepada bayi usia 9 bulan dan anak dengan usia kurang dari 15 tahun. Campak adalah salah satu penyakit paling menular pada manusia dan menelan satu korban jiwa setiap empat menit, kebanyakan anak-anak.

Sama bahayanya dengan rubella yang menjadi ancaman serius dan jika tertular di masa awal kehamilan dapat mengakibatkan cacat bawaan saat lahir pada otak, jantung, mata dan telinga. Namun hal tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi MR.

Pemberian imunisasi MR akan dilaksanakan dalam dua fase, yakni pada Agustus hingga September 2017 di seluruh wilayah di Pulau Jawa, dan pada Agustus hingga September 2018 di seluruh provinsi di luar Pulau Jawa. (RBM/R1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here